Penulis
Berdasarkan proyeksi IEA, kekurangan avtur dapat terjadi mulai Juni 2026 apabila Eropa hanya mampu menggantikan setengah dari pasokan yang biasanya diperoleh dari Timur Tengah.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan
Beberapa bandara bahkan telah memperingatkan kemungkinan kekurangan dalam waktu lebih cepat.
Sejumlah fasilitas menyebutkan bahwa stok bahan bakar bisa menipis dalam waktu tiga minggu jika blokade Selat Hormuz tidak segera berakhir.
Lonjakan harga avtur juga mulai terjadi sejak gangguan distribusi berlangsung. Maskapai memperingatkan bahwa kondisi ini dapat berujung pada kenaikan harga tiket pesawat, pembatalan penerbangan, hingga penghentian operasional pesawat.
Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.Upaya untuk mengatasi kekurangan pasokan juga menghadapi tantangan struktural. Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas pengolahan minyak di Eropa mengalami penurunan, seiring dengan kebijakan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Baca juga: Pemerintah Izinkan Tiket Pesawat Naik Terbatas Saat Avtur Melonjak, Maskapai Menyesuaikan
IEA mencatat, banyak kilang di Eropa saat ini telah beroperasi pada kapasitas maksimum untuk produksi avtur.
Kondisi ini membatasi kemampuan kawasan tersebut untuk meningkatkan produksi domestik dalam jangka pendek.
Selain itu, pasokan alternatif dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat (AS) dinilai tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kekurangan dari Timur Tengah.
Masalah lain terletak pada sistem penyimpanan. Konsorsium distribusi bahan bakar yang memasok bandara umumnya tidak menyimpan stok dalam jangka panjang, sementara banyak bandara juga tidak memiliki cadangan besar di lokasi.
Baca juga: Avtur Mahal, Pemerintah Turunkan Bea Masuk Suku Cadang untuk Maskapai Jadi 0 Persen
Kondisi ini memperburuk kerentanan terhadap gangguan pasokan mendadak.
Menghadapi ancaman tersebut, Uni Eropa mulai menyiapkan langkah-langkah untuk mengamankan pasokan energi, khususnya avtur.
Komisi Uni Eropa dilaporkan tengah menyusun rencana untuk memaksimalkan kapasitas kilang dan memastikan fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.
Mulai bulan depan, Uni Eropa juga akan memperkenalkan pemetaan kapasitas pengolahan minyak di seluruh kawasan, serta langkah-langkah untuk memastikan fasilitas yang ada tetap beroperasi secara penuh dan terjaga.
Ilustrasi bendera Uni Eropa.Baca juga: INACA Nilai Jurus Pemerintah Redam Dampak Avtur Mahal Sudah Tepat
Selain itu, sejumlah kebijakan khusus terkait pasokan bahan bakar jet juga tengah dikembangkan, meskipun detailnya masih dalam tahap penyusunan.
Di sisi lain, maskapai penerbangan Eropa meminta adanya peningkatan pemantauan pasokan bahan bakar serta mempertimbangkan mekanisme pembelian bersama (joint purchasing) untuk kerosin guna mengamankan kebutuhan.