JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (13/4/2026). Indeks naik 0,56 persen ke level 7.500,187.
Kenaikan IHSG didorong oleh aksi beli (net buy) investor asing, terutama pada saham sektor energi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 396,77 miliar di seluruh pasar.
Di pasar reguler, beli bersih asing bahkan mencapai Rp 626,14 miliar, meski di pasar tunai dan negosiasi tercatat net sell alias jual bersih Rp 229,36 miliar.
Aksi akumulasi asing terlihat dominan pada sejumlah saham. PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi incaran utama dengan net buy Rp 135,2 miliar, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp 132 miliar, serta PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 76,3 miliar.
Di sisi lain, investor asing justru melepas sejumlah saham perbankan dan teknologi. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell terbesar, yakni Rp 201,4 miliar. Tekanan jual juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp 99,5 miliar dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) senilai Rp 64,4 miliar.
Baca juga: Bersih-bersih BEI Bakal Delisting 18 Saham, Bos Bursa: Jadi Early Warning buat Investor
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pergerakan IHSG pada awal pekan ini menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah tekanan global yang meningkat.
“IHSG berhasil ditutup menguat 0,56 persen ke level 7.500, sebuah capaian yang cukup menarik mengingat mayoritas bursa Asia dan Eropa justru bergerak melemah akibat memanasnya kembali tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Hendra kepada Kompas.com.
Menurutnya, aliran dana asing yang masih mencatatkan net buy sebesar Rp 626 miliar menjadi penopang utama, ditambah rupiah yang memberikan sentimen positif bagi pasar domestik, meski masih di posisi di atas Rp 17.000 per dollar AS.
“Hal ini mencerminkan bahwa secara fundamental, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global,” paparnya.
Baca juga: IHSG Hari Ini Diproyeksi Sideways, Saham Energi Jadi Motor, Cermati PGAS, ELSA, ADRO
Di balik penguatan IHSG tersebut, terdapat dinamika global yang cukup krusial. Gagalnya perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih panjang, terutama dengan adanya rencana blokade Selat Hormuz oleh AS.
Kondisi ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dunia yang menembus level 100 dollar AS per barrel, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global.
Dampak lanjutannya, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral global seperti The Fed berpotensi tertunda, bahkan membuka ruang kebijakan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Inilah yang kemudian menekan mayoritas pasar saham global serta memicu pelemahan sektor-sektor sensitif suku bunga.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 0,56 Persen ke 7.500, Sektor Energi Perkasa
Dari sisi sektoral, terlihat jelas adanya rotasi dana ke saham-saham berbasis komoditas, khususnya sektor energi yang melonjak signifikan hingga 2,64 persen. Saham-saham seperti MEDC, ELSA, INDY, hingga ADRO menjadi motor utama, seiring meningkatnya ekspektasi kinerja akibat kenaikan harga minyak.
Sebaliknya, sektor keuangan justru mengalami tekanan cukup dalam, dengan pelemahan pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI. Hendra memandang hal itu menggambarkan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi dan suku bunga yang dapat menekan pertumbuhan kredit, serta meningkatkan cost of fund.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang