Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tupari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Tupari adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan

Kompas.com, 24 Mei 2026, 21:45 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Beberapa waktu terakhir, saya mulai merasa ada sesuatu yang berubah di sekitar rumah. Pagi hari terasa lebih sunyi dibanding dulu.

Suara burung kecil yang biasanya terdengar dari pepohonan kini semakin jarang. Capung yang dulu sering melintas setelah huan pun tidak sesering sebelumnya terlihat. Kupu-kupu yang biasa hinggap di tanaman depan rumah juga datang sesekali saja.

Bahkan suara serangga malam yang dahulu ramai terdengar ketika listrik padam kini perlahan menghilang.

Perubahannya tidak terjadi secara tiba-tiba. Semuanya berlangsung perlahan, nyaris tanpa disadari. Sama seperti ruang hijau di kota yang sedikit demi sedikit mulai menyusut.

Rumah-rumah berdiri semakin rapat. Halaman berubah menjadi garasi. Tanah kosong berganti bangunan. Pohon ditebang karena dianggap mengotori halaman atau merusak lantai dengan akarnya.

Kota memang terlihat semakin rapi. Namun di saat yang sama, terasa semakin sepi bagi makhluk selain manusia.

Bunglon Kecil di Pohon Durian

Saya mulai benar-benar memikirkan hal itu ketika melihat seekor bunglon kecil di pohon durian yang tumbuh di halaman rumah.

Pohon itu sebenarnya tidak terlalu besar. Tingginya hanya sedikit lebih tinggi dari orang dewasa. Pohon tersebut tumbuh begitu saja dari biji sisa durian yang pernah saya makan beberapa tahun lalu.

Awalnya saya tidak terlalu memedulikannya. Namun lama-kelamaan saya sadar bahwa pohon kecil itu ternyata menjadi tempat hidup bagi makhluk lain.

Bunglon kecil itu sering terlihat diam di batang pohon. Warnanya menyerupai kulit batang sehingga sulit dikenali jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Kadang ia berada di sisi pohon yang terkena cahaya matahari pagi. Kadang berpindah ke ranting yang lebih teduh. Gerakannya lambat, nyaris seperti daun yang tertiup angin.

Entah mengapa, saya senang memperhatikannya.

Ia hadir tanpa suara dan tanpa mengganggu siapa pun. Namun keberadaannya membuat halaman rumah terasa lebih hidup. Seolah menjadi penanda bahwa ruang kecil di rumah saya masih menyimpan kehidupan liar di tengah padatnya lingkungan sekitar.

Sejak itu saya mulai lebih sering memperhatikan kehidupan kecil di sekitar rumah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau