
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Beberapa waktu terakhir, saya mulai merasa ada sesuatu yang berubah di sekitar rumah. Pagi hari terasa lebih sunyi dibanding dulu.
Suara burung kecil yang biasanya terdengar dari pepohonan kini semakin jarang. Capung yang dulu sering melintas setelah huan pun tidak sesering sebelumnya terlihat. Kupu-kupu yang biasa hinggap di tanaman depan rumah juga datang sesekali saja.
Bahkan suara serangga malam yang dahulu ramai terdengar ketika listrik padam kini perlahan menghilang.
Perubahannya tidak terjadi secara tiba-tiba. Semuanya berlangsung perlahan, nyaris tanpa disadari. Sama seperti ruang hijau di kota yang sedikit demi sedikit mulai menyusut.
Rumah-rumah berdiri semakin rapat. Halaman berubah menjadi garasi. Tanah kosong berganti bangunan. Pohon ditebang karena dianggap mengotori halaman atau merusak lantai dengan akarnya.
Kota memang terlihat semakin rapi. Namun di saat yang sama, terasa semakin sepi bagi makhluk selain manusia.
Bunglon Kecil di Pohon Durian
Saya mulai benar-benar memikirkan hal itu ketika melihat seekor bunglon kecil di pohon durian yang tumbuh di halaman rumah.
Pohon itu sebenarnya tidak terlalu besar. Tingginya hanya sedikit lebih tinggi dari orang dewasa. Pohon tersebut tumbuh begitu saja dari biji sisa durian yang pernah saya makan beberapa tahun lalu.
Awalnya saya tidak terlalu memedulikannya. Namun lama-kelamaan saya sadar bahwa pohon kecil itu ternyata menjadi tempat hidup bagi makhluk lain.
Bunglon kecil itu sering terlihat diam di batang pohon. Warnanya menyerupai kulit batang sehingga sulit dikenali jika tidak diperhatikan dengan saksama.
Kadang ia berada di sisi pohon yang terkena cahaya matahari pagi. Kadang berpindah ke ranting yang lebih teduh. Gerakannya lambat, nyaris seperti daun yang tertiup angin.
Entah mengapa, saya senang memperhatikannya.
Ia hadir tanpa suara dan tanpa mengganggu siapa pun. Namun keberadaannya membuat halaman rumah terasa lebih hidup. Seolah menjadi penanda bahwa ruang kecil di rumah saya masih menyimpan kehidupan liar di tengah padatnya lingkungan sekitar.
Sejak itu saya mulai lebih sering memperhatikan kehidupan kecil di sekitar rumah.