Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Beryn Imtihan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Beryn Imtihan adalah seorang yang berprofesi sebagai Konsultan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan

Kompas.com, 24 Mei 2026, 14:15 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Seberapa sering kita menerima kantong plastik saat berbelanja tanpa benar-benar memikirkannya? Mungkinkah perubahan kebiasaan menjaga lingkungan justru dimulai dari hal sederhana yang kita temui sehari-hari, seperti sebuah tulisan kecil di pintu toko?

Kesadaran terhadap lingkungan rupanya tidak selalu lahir dari ruang seminar atau kampanye besar. Kadang, ia hadir secara sederhana di tengah aktivitas harian masyarakat di toko kelontong, di antara suara kardus yang dipindahkan, botol kaca yang saling beradu pelan, dan antrean pembeli yang sibuk menghitung belanjaan di dekat kasir.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah tulisan menarik di sebuah toko kelontong di kota kecamatan.

Toko itu cukup dikenal karena menjual berbagai kebutuhan rumah tangga dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibanding toko lain di sekitarnya.

Tulisan tersebut dipasang di sebelah kanan pintu masuk dengan latar biru dan huruf putih yang cukup besar sehingga mudah terlihat bahkan dari kejauhan. Kalimatnya sederhana:

“Bawa Kantong Belanja Sendiri Yuk!”

Di bawahnya ada tambahan tulisan yang terasa akrab dan hangat:

“Yang Belum Dapat Tas Belanja, Konfirmasi Nggih.”

Kalimat itu tidak panjang dan tidak terdengar seperti slogan formal. Namun justru karena kesederhanaannya, pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Orang-orang datang ke toko itu tentu dengan tujuan praktis: berbelanja lebih hemat. Minyak goreng, telur, sabun cuci, kopi sachet, gula, hingga mi instan yang sedang diskon terasa jauh lebih penting dibanding memikirkan persoalan sampah plastik atau krisis lingkungan global.

Namun, justru di ruang sederhana seperti itulah perubahan sering kali bergerak perlahan.

Sebagian pembeli tampak berhenti sejenak membaca tulisan tersebut. Ada yang terlihat berpikir, mengapa kini kantong belanja tidak lagi otomatis diberikan seperti biasanya? Mengapa harus konfirmasi?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu mungkin terdengar sepele. Tetapi dari situlah kesadaran mulai tumbuh. Orang perlahan mulai memahami bahwa plastik bukan lagi sesuatu yang hadir tanpa perlu dipikirkan. Ia mulai dianggap sebagai benda yang penggunaannya patut dipertimbangkan.

Yang menarik, pesan itu disampaikan dengan cara yang sangat membumi. Penggunaan kata “nggih” menghadirkan kesan sopan dan akrab, seolah ada seseorang yang sedang mengingatkan dengan halus, bukan memerintah.

Dalam kehidupan masyarakat kita, pendekatan yang hangat seperti itu sering kali lebih mudah diterima dibanding larangan yang terlalu keras.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau