Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tutut Setyorinie
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan

Kompas.com, 18 Mei 2026, 11:21 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana rasanya tinggal di kota yang disebut memiliki persoalan emisi cukup serius, tetapi di sisi lain tetap menjadi tempat mencari nafkah dan menjalani kehidupan sehari-hari?

Sekitar seminggu lalu, saya membaca sebuah berita yang cukup mengejutkan. Bekasi disebut sebagai kota dengan tingkat emisi metana terbesar kedua di dunia dari sektor pengelolaan limbah. Awalnya saya sempat tidak percaya.

Namun setelah membaca lebih lanjut, data tersebut memang berasal dari hasil penelitian yang cukup serius.

Universitas California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, merilis daftar 25 lokasi pengelolaan limbah dengan tingkat emisi terbesar di dunia selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.

Penelitian itu memanfaatkan data emisi metana publik milik Carbon Mapper yang dipantau melalui satelit Tanager-1 milik NASA.

Dalam laporan tersebut, Bekasi yang menjadi lokasi TPST Bantar Gebang, salah satu tempat pengelolaan sampah terbesar di Indonesia tercatat menghasilkan emisi metana sebesar 6,3 ton per jam. Angka ini menempatkan Bekasi di peringkat kedua setelah Campe de Mayo di Buenos Aires, Argentina.

Membaca berita itu tentu menimbulkan banyak pertanyaan di kepala saya. Salah satunya: bagaimana sebenarnya rasanya tinggal di kota dengan label seperti itu?

1. Bekasi dan Identitas Kota yang Panas

Jika mendengar kata Bekasi, banyak orang langsung teringat pada cuaca panasnya. Bahkan, ada candaan yang mengatakan bahwa Bekasi memiliki “dua matahari”. Saya sendiri tidak sepenuhnya menyangkal, meski juga tidak sepenuhnya membenarkan.

Bekasi memang terasa panas, terutama ketika berada di luar ruangan pada siang hari atau berkendara di tengah terik matahari. Namun tentu saja, kota-kota lain di Indonesia juga mengalami suhu tinggi.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Mei lalu, Bekasi bahkan bukan kota dengan suhu tertinggi di Indonesia.

Beberapa daerah lain tercatat memiliki suhu yang lebih panas. Meski demikian, suhu harian di Bekasi memang cenderung tinggi, berkisar antara 24 hingga 33 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh angka ekstrem sekitar 36 derajat Celsius.

Lalu, apakah kondisi ini berkaitan langsung dengan emisi metana dari TPST Bantar Gebang?

Hingga saat ini belum ada penelitian yang secara spesifik menyimpulkan hubungan langsung antara emisi metana di Bantar Gebang dengan suhu Kota Bekasi secara keseluruhan.

Namun, secara ilmiah, gas metana memang termasuk gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas lebih besar dibanding karbon dioksida.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau