
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana rasanya tinggal di kota yang disebut memiliki persoalan emisi cukup serius, tetapi di sisi lain tetap menjadi tempat mencari nafkah dan menjalani kehidupan sehari-hari?
Sekitar seminggu lalu, saya membaca sebuah berita yang cukup mengejutkan. Bekasi disebut sebagai kota dengan tingkat emisi metana terbesar kedua di dunia dari sektor pengelolaan limbah. Awalnya saya sempat tidak percaya.
Namun setelah membaca lebih lanjut, data tersebut memang berasal dari hasil penelitian yang cukup serius.
Universitas California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, merilis daftar 25 lokasi pengelolaan limbah dengan tingkat emisi terbesar di dunia selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.
Penelitian itu memanfaatkan data emisi metana publik milik Carbon Mapper yang dipantau melalui satelit Tanager-1 milik NASA.
Dalam laporan tersebut, Bekasi yang menjadi lokasi TPST Bantar Gebang, salah satu tempat pengelolaan sampah terbesar di Indonesia tercatat menghasilkan emisi metana sebesar 6,3 ton per jam. Angka ini menempatkan Bekasi di peringkat kedua setelah Campe de Mayo di Buenos Aires, Argentina.
Membaca berita itu tentu menimbulkan banyak pertanyaan di kepala saya. Salah satunya: bagaimana sebenarnya rasanya tinggal di kota dengan label seperti itu?
1. Bekasi dan Identitas Kota yang Panas
Jika mendengar kata Bekasi, banyak orang langsung teringat pada cuaca panasnya. Bahkan, ada candaan yang mengatakan bahwa Bekasi memiliki “dua matahari”. Saya sendiri tidak sepenuhnya menyangkal, meski juga tidak sepenuhnya membenarkan.
Bekasi memang terasa panas, terutama ketika berada di luar ruangan pada siang hari atau berkendara di tengah terik matahari. Namun tentu saja, kota-kota lain di Indonesia juga mengalami suhu tinggi.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Mei lalu, Bekasi bahkan bukan kota dengan suhu tertinggi di Indonesia.
Beberapa daerah lain tercatat memiliki suhu yang lebih panas. Meski demikian, suhu harian di Bekasi memang cenderung tinggi, berkisar antara 24 hingga 33 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh angka ekstrem sekitar 36 derajat Celsius.
Lalu, apakah kondisi ini berkaitan langsung dengan emisi metana dari TPST Bantar Gebang?
Hingga saat ini belum ada penelitian yang secara spesifik menyimpulkan hubungan langsung antara emisi metana di Bantar Gebang dengan suhu Kota Bekasi secara keseluruhan.
Namun, secara ilmiah, gas metana memang termasuk gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas lebih besar dibanding karbon dioksida.