KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia meluncurkan serangkaian kebijakan efisiensi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Langkah ini mencakup penyesuaian program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembatasan perjalanan dinas, hingga penerapan work from home (WFH) bagi ASN.
Sejumlah kebijakan tersebut diklaim mampu menghemat anggaran negara dalam jumlah signifikan.
Lantas, seberapa besar potensi penghematan yang bisa dicapai dari kebijakan ini?
Baca juga: Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Sebagai bagian dari transformasi struktural menuju ekonomi yang lebih efisien, produktif, dan tangguh, pemerintah mengoptimalkan program MBG menjadi lima hari dalam sepekan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kebijakan ini berpotensi menghemat anggaran hingga Rp 20 triliun.
“Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp 20 triliun,” ujar Airlangga, dikutip dari Antara, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, kebijakan ini tidak berlaku untuk sekolah berasrama, wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta daerah dengan tingkat stunting tinggi.
Baca juga: WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Pemerintah turut memberlakukan kebijakan WFH bagi ASN satu hari dalam sepekan.
Kebijakan kerja dari rumah tersebut dijalankan pada hari Jumat.
"Penerapan work from home bagi ASN di pusat dan daerah yang dilakukan sebanyak satu hari kerja dalam seminggu, yaitu hari Jumat," kata Airlangga.
WFH berpeluang menghemat anggaran negara hingga Rp 6,2 triliun. Angka tersebut berasal dari penurunan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Sementara itu, kebijakan ini mulai diberlakukan 1 April 2026 dengan evaluasi setelah pelaksanaan dua bulan.
Baca juga: Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Untuk lebih jelasnya, berikut adalah delapan transformasi budaya kerja dan gerakan hemat energi yang disampaikan pemerintah:
Kebijakan pemberlakuan WFH akan berlangsung mulai 1 April 2026. Hal ini akan dievaluasi setelah dua bulan.
Kemudian optimalisasi MBG menjadi lima kali sepekan, kecuali untuk daerah 3T, daerah stunting tinggi, dan sekolah asrama.
(Sumber: Kompas.com/Debrinata Rizky | Editor: Teuku Muhammad Valdy Arief)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang