Penulis
KOMPAS.com - Sebuah pulau buatan kuno misterius di Skotlandia yang berusia lebih tua dari Stonehenge berhasil dipetakan dengan detail yang luar biasa.
Keberhasilan ini dicapai berkat penerapan teknologi 3D arkeologi terbaru di perairan dangkal oleh tim peneliti dari Universitas Southampton dan Universitas Reading.
Situs yang dikenal sebagai crannog ini terletak di Loch Bhorgastail, Isle of Lewis. Selama ini, rahasia struktur kayu raksasa tersebut tersembunyi rapat di bawah permukaan air dan tumpukan batu penutup.
Baca juga: Bagaimana Burung yang Tak Bisa Terbang Ini Hidup di Pulau Terpencil Samudera Atlantik?
Bagi masyarakat awam, istilah crannog mungkin terdengar asing. Secara sederhana, crannog adalah pulau buatan kuno yang dibangun oleh manusia ribuan tahun lalu di tengah danau atau loch.
"Crannog adalah pulau buatan kecil yang biasanya berusia ribuan tahun. Ratusan pulau seperti ini ada di danau-danau Skotlandia, dan banyak yang belum dijelajahi atau bahkan belum ditemukan," ujar Dr. Stephanie Blankshein, arkeolog dari Universitas Southampton, dikutip SciTechDaily, Jumat (29/5/2026).
Selama ini, para ahli menduga crannog baru mulai dibangun pada Zaman Besi. Namun, penemuan terbaru ini mematahkan teori tersebut.
"Jika dulu crannog dianggap baru dibangun dan digunakan antara Zaman Besi hingga periode pasca-abad pertengahan, kini kita tahu bahwa beberapa di antaranya pertama kali dibangun jauh lebih awal, yaitu pada Zaman Neolitikum antara 3800 hingga 3300 SM," tambah Dr. Blankshein.
Artinya, struktur di Loch Bhorgastail ini sudah berdiri kokoh bahkan sebelum batu-batu Stonehenge di Inggris ditegakkan.
Tantangan terbesar dalam mengeksplorasi crannog Skotlandia adalah lokasinya yang berada di perairan sangat dangkal (kurang dari satu meter). Di kedalaman ini, kamera bawah air biasa umumnya gagal karena terganggu oleh sedimen lumpur, riak air, tanaman mengambang, hingga pantulan cahaya matahari.
Untuk mengatasi frustrasi yang kerap dihadapi para arkeolog ini, Profesor Fraser Sturt dan timnya mengembangkan teknik baru bernama stereophotogrammetry perairan dangkal.
Mereka menggabungkan dua kamera antiair berperforma tinggi pada sebuah bingkai khusus untuk mengambil foto tumpang tindih secara presisi, mirip cara kerja mata manusia saat melihat ruang tiga dimensi.
Hasilnya? Tim berhasil menyatukan lanskap bawah air dan daratan menjadi satu model digital 3D yang utuh dan sinambung—sesuatu yang mustahil dilakukan jika hanya mengandalkan survei darat atau selam tradisional.
Baca juga: Menguak Rahasia Tanjung Mayat di Svalbard, Makam Pemburu Paus Kuno yang Ringkih dan Penuh Penyakit
Lewat pemetaan digital dan penggalian selama beberapa tahun, terungkap bahwa pulau ini awalnya adalah platform kayu melingkar selebar 23 meter.
Seiring berjalannya waktu, generasi-generasi berikutnya terus mempertebal pulau ini dengan batu dan kuas kayu, bahkan membangun jembatan batu bawah air yang menghubungkannya ke tepi danau.
Di sekitar lokasi, para penyelam juga menemukan ratusan pecahan tembikar Zaman Neolitikum yang masih menyimpan sisa-sisa makanan.
Lalu, untuk apa pulau terpencil ini dibangun dengan susah payah?
"Meskipun kita belum tahu pasti mengapa pulau-pulau ini dibangun, sumber daya dan tenaga kerja yang dibutuhkan menunjukkan bahwa masyarakat saat itu sudah sangat maju dan situs ini punya arti yang sangat penting. Banyaknya jumlah tembikar dan batu yang ditemukan di sekitar pulau menunjukkan tempat ini digunakan untuk kegiatan komunal, seperti memasak bersama atau pesta adat," jelas Dr. Blankshein.
Inovasi teknologi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Archaeological Practice ini diharapkan dapat menjadi alat baru bagi para arkeolog dunia untuk mengungkap situs-situs bersejarah lain yang masih tenggelam di perairan dangkal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang