Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D

Kompas.com, 29 Mei 2026, 15:37 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com - Sebuah pulau buatan kuno misterius di Skotlandia yang berusia lebih tua dari Stonehenge berhasil dipetakan dengan detail yang luar biasa.

Keberhasilan ini dicapai berkat penerapan teknologi 3D arkeologi terbaru di perairan dangkal oleh tim peneliti dari Universitas Southampton dan Universitas Reading.

Situs yang dikenal sebagai crannog ini terletak di Loch Bhorgastail, Isle of Lewis. Selama ini, rahasia struktur kayu raksasa tersebut tersembunyi rapat di bawah permukaan air dan tumpukan batu penutup.

Baca juga: Bagaimana Burung yang Tak Bisa Terbang Ini Hidup di Pulau Terpencil Samudera Atlantik?

Apa Itu Crannog?

Bagi masyarakat awam, istilah crannog mungkin terdengar asing. Secara sederhana, crannog adalah pulau buatan kuno yang dibangun oleh manusia ribuan tahun lalu di tengah danau atau loch.

"Crannog adalah pulau buatan kecil yang biasanya berusia ribuan tahun. Ratusan pulau seperti ini ada di danau-danau Skotlandia, dan banyak yang belum dijelajahi atau bahkan belum ditemukan," ujar Dr. Stephanie Blankshein, arkeolog dari Universitas Southampton, dikutip SciTechDaily, Jumat (29/5/2026).

Selama ini, para ahli menduga crannog baru mulai dibangun pada Zaman Besi. Namun, penemuan terbaru ini mematahkan teori tersebut.

"Jika dulu crannog dianggap baru dibangun dan digunakan antara Zaman Besi hingga periode pasca-abad pertengahan, kini kita tahu bahwa beberapa di antaranya pertama kali dibangun jauh lebih awal, yaitu pada Zaman Neolitikum antara 3800 hingga 3300 SM," tambah Dr. Blankshein.

Artinya, struktur di Loch Bhorgastail ini sudah berdiri kokoh bahkan sebelum batu-batu Stonehenge di Inggris ditegakkan.

Menembus Batas Air dengan Kamera Stereofotogrametri

Tantangan terbesar dalam mengeksplorasi crannog Skotlandia adalah lokasinya yang berada di perairan sangat dangkal (kurang dari satu meter). Di kedalaman ini, kamera bawah air biasa umumnya gagal karena terganggu oleh sedimen lumpur, riak air, tanaman mengambang, hingga pantulan cahaya matahari.

Untuk mengatasi frustrasi yang kerap dihadapi para arkeolog ini, Profesor Fraser Sturt dan timnya mengembangkan teknik baru bernama stereophotogrammetry perairan dangkal.

Mereka menggabungkan dua kamera antiair berperforma tinggi pada sebuah bingkai khusus untuk mengambil foto tumpang tindih secara presisi, mirip cara kerja mata manusia saat melihat ruang tiga dimensi.

Hasilnya? Tim berhasil menyatukan lanskap bawah air dan daratan menjadi satu model digital 3D yang utuh dan sinambung—sesuatu yang mustahil dilakukan jika hanya mengandalkan survei darat atau selam tradisional.

Baca juga: Menguak Rahasia Tanjung Mayat di Svalbard, Makam Pemburu Paus Kuno yang Ringkih dan Penuh Penyakit

Tempat Pesta Komunitas Purba

Lewat pemetaan digital dan penggalian selama beberapa tahun, terungkap bahwa pulau ini awalnya adalah platform kayu melingkar selebar 23 meter.

Seiring berjalannya waktu, generasi-generasi berikutnya terus mempertebal pulau ini dengan batu dan kuas kayu, bahkan membangun jembatan batu bawah air yang menghubungkannya ke tepi danau.

Di sekitar lokasi, para penyelam juga menemukan ratusan pecahan tembikar Zaman Neolitikum yang masih menyimpan sisa-sisa makanan.

Lalu, untuk apa pulau terpencil ini dibangun dengan susah payah?

"Meskipun kita belum tahu pasti mengapa pulau-pulau ini dibangun, sumber daya dan tenaga kerja yang dibutuhkan menunjukkan bahwa masyarakat saat itu sudah sangat maju dan situs ini punya arti yang sangat penting. Banyaknya jumlah tembikar dan batu yang ditemukan di sekitar pulau menunjukkan tempat ini digunakan untuk kegiatan komunal, seperti memasak bersama atau pesta adat," jelas Dr. Blankshein.

Inovasi teknologi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Archaeological Practice ini diharapkan dapat menjadi alat baru bagi para arkeolog dunia untuk mengungkap situs-situs bersejarah lain yang masih tenggelam di perairan dangkal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau