Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menguak Rahasia "Tanjung Mayat" di Svalbard, Makam Pemburu Paus Kuno yang Ringkih dan Penuh Penyakit

Kompas.com, 21 Mei 2026, 17:25 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com — Sebuah kompleks pemakaman kuno abad ke-17 di wilayah sedingin es, High Arktik, mulai menguak tabir kelam kehidupan para pemburu paus modern awal.

Para arkeolog menemukan bukti-bukti memilukan tentang kerja fisik yang ekstrem hingga hantaman penyakit mematikan seperti skorbut (kekurangan vitamin C) yang diderita para pekerja tersebut semasa hidup.

Sayangnya, situs bersejarah yang menyimpan potongan teka-teki masa lalu ini terancam lenyap selamanya.

Akibat perubahan iklim yang kian tak terkendali, wilayah pemakaman tersebut mengikis dengan cepat, membuat misi penggalian arkeologi saat ini bak sebuah perlombaan melawan waktu.

Baca juga: Bukan Mesir atau Mesopotamia, Naskah Kuno Iran Ini Diklaim Sebagai Pionir Tulisan Modern

Situs tersebut bernama Likneset, yang memiliki arti "Tanjung Mayat" (Corpse Point) dalam bahasa Norwegia.

Lokasi ini merupakan situs pemakaman pemburu paus terbesar di Svalbard, sebuah kepulauan yang terletak di jalur antara Kutub Utara dan pantai utara Norwegia.

Di tempat ini, terdapat ratusan makam dangkal yang ditandai dengan tumpukan batu (cairn), berasal dari era keemasan perburuan paus Arktik pada abad ke-13 hingga ke-18.

Dalam studi teranyar yang diterbitkan di jurnal PLOS One, para arkeolog memeriksa 20 jasad dari Likneset. Hasilnya menunjukkan bahwa pria-pria yang dikubur di sana menjalani kehidupan yang singkat sekaligus menderita.

"Perburuan paus Arktik modern awal adalah salah satu industri ekstraktif berskala besar pertama di Eropa, dan pekerjaannya sangat mengandalkan tenaga manual," kata penulis pertama studi tersebut, Lise Loktu, seorang arkeolog dari Institut Penelitian Warisan Budaya Norwegia dikutip Live Science.

Studi ini disusun Loktu bersama Elin Therese Brødholt, seorang antropolog forensik dari Rumah Sakit Universitas Oslo.

Beban Kerja yang Merusak Tubuh

Tugas yang diemban para pemburu paus ini sangat menuntut fisik.

Di tengah kondisi cuaca yang membekukan, basah, dan melelahkan, mereka harus mendayung perahu, menarik paus hidup, menarik bangkai mamalia raksasa tersebut, mengolah lemak (blubber), hingga melakukan kerja berat di atas kapal.

"Apa yang mengejutkan dari material kerangka ini adalah kita benar-benar dapat melihat beban kerja tersebut tercermin pada tubuh mereka," ungkap Loktu.

Berdasarkan analisis tulang belulang tersebut, Loktu dan Brødholt menemukan bukti adanya penyakit sendi degeneratif, trauma fisik, serta ketegangan ekstrem pada area bahu, dada bagian atas, tulang belakang, pinggul, lutut, hingga kaki.

"Beberapa orang dewasa yang usianya masih sangat muda sudah menunjukkan keausan dan degenerasi parah, yang biasanya baru dikaitkan dengan tahap kehidupan yang jauh lebih tua," papar Loktu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau