Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Seni Cadas Tertua Dunia Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Sulawesi

Kompas.com, 26 Januari 2026, 15:53 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam peta besar sejarah peradaban manusia. Di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, para arkeolog menemukan seni cadas berupa cap tangan manusia yang berusia setidaknya 67.800 tahun—menjadikannya seni gua tertua di dunia yang pernah tertanggal secara andal.

Temuan ini tidak hanya melampaui usia seni cadas terkenal dari Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan, tetapi juga lebih tua dibandingkan cap tangan di Spanyol yang selama ini kerap disebut sebagai seni gua tertua dan dikaitkan dengan Neanderthal. Lebih dari sekadar rekor usia, penemuan ini membuka jendela baru untuk memahami kecerdasan, imajinasi, dan kemampuan pelayaran manusia modern awal di kawasan Nusantara.

Liang Metanduno, Galeri Prasejarah di Wilayah Tropis

Situs seni cadas tersebut ditemukan di Liang Metanduno, sebuah gua batu gamping di Pulau Muna. Selama ini, gua tersebut dikenal masyarakat lokal sebagai tempat lukisan-lukisan prasejarah yang lebih muda—menampilkan figur manusia terbang, perahu berpenumpang, hingga penunggang kuda, dilukis dengan pigmen merah dan cokelat.

Namun pada 2015, arkeolog BRIN Adhi Agus Oktaviana datang dengan tujuan berbeda: mencari jejak seni yang jauh lebih tua. Di langit-langit gua, dekat coretan bergambar ayam, ia menemukan dua cap tangan. Salah satunya tampak tidak biasa—ujung jarinya meruncing, menyerupai cakar hewan.

Temuan inilah yang kemudian mengubah pemahaman dunia tentang asal-usul seni simbolik manusia.

Baca juga: Lukisan Gua Tertua Ada di Indonesia, Usianya 51.200 Tahun

Untuk memastikan usia lukisan tersebut, tim kolaborasi internasional dari BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University menerapkan teknik laser-ablation uranium-series (LA–U-series)—sebuah metode mutakhir yang memungkinkan penanggalan seni cadas berbasis pigmen oker yang sebelumnya sulit ditentukan usianya.

Analisis terhadap lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi pigmen menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, sehingga menetapkan usia minimum cap tangan tersebut sebesar 67.800 tahun. Hasil ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah prestisius Nature.

“Usia seni cadas di Pulau Muna ini menunjukkan bahwa manusia modern awal di Nusantara sudah memiliki kemampuan kognitif yang sangat maju pada akhir kala Pleistosen,” ujar Adhi Agus Oktaviana.

Baca juga: Karst Maros-Pangkep: Harta Karun Gambar Cadas Prasejarah Indonesia

Jejak tangan, yang tertua diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, samar-samar terlihat di sebelah kiri dan kanan burung yang dilukis yang ditemukan di gua Liang Metanduno di pulau Muna, Indonesia bagian tenggara.
Maxime Aubert Jejak tangan, yang tertua diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, samar-samar terlihat di sebelah kiri dan kanan burung yang dilukis yang ditemukan di gua Liang Metanduno di pulau Muna, Indonesia bagian tenggara.

Imajinasi Simbolik yang Matang

Cap tangan berciri “jari cakar” ini dinilai unik secara global. Menurut Prof. Adam Brumm dari Griffith University, modifikasi bentuk jari—baik melalui sentuhan ulang dengan kuas maupun pengaturan posisi tangan—menunjukkan adanya pemikiran simbolik yang kompleks.

“Mereka tidak sekadar meninggalkan jejak tangan, tetapi mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak benar-benar ada. Ini menandakan imajinasi yang matang,” jelas Brumm.

Gaya ini sejalan dengan temuan seni cadas Sulawesi sebelumnya, termasuk lukisan berusia sekitar 51.200 tahun yang menggambarkan makhluk setengah manusia setengah hewan (theriantropes) yang sedang berburu anoa dan babi hutan. Kesemuanya mengindikasikan bahwa manusia di kawasan ini telah mampu membayangkan konsep abstrak jauh lebih awal dari yang selama ini diasumsikan.

Baca juga: Situs Prasejarah Maros Pangkep, Ada Gambar Cadas Theriantropik Tertua di Dunia

Menantang Pandangan Euro-sentris

Selama bertahun-tahun, perkembangan kecerdasan manusia modern kerap dikaitkan dengan Eropa Barat. Namun temuan di Indonesia perlahan menggoyahkan pandangan tersebut.

“Dulu banyak yang mengira manusia menjadi ‘modern secara kognitif’ saat tiba di Eropa. Itu lebih karena keterbatasan teknologi penanggalan seni cadas di Asia Tenggara,” kata Prof. Maxime Aubert.

Berbeda dengan Eropa yang banyak menggunakan arang sehingga bisa ditanggal dengan karbon, seni cadas Asia Tenggara umumnya menggunakan pigmen oker anorganik. Teknologi LA–U-series kini membuktikan bahwa manusia cerdas dan kreatif telah hidup di Nusantara jauh sebelum Eropa dihuni manusia modern.

Baca juga: Lukisan Gua Tertua Ini Sama Canggihnya dengan Lukisan Modern

Bukti Awal Pelayaran Menuju Australia

Lebih jauh, temuan ini juga berimplikasi besar terhadap sejarah migrasi manusia. Wallacea—wilayah kepulauan yang mencakup Sulawesi dan Maluku—selama ini dipandang sebagai sekadar jalur menuju Australia. Namun seni cadas Pulau Muna menunjukkan bahwa kawasan ini adalah ruang hidup utama bagi manusia modern awal.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau