Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karst Maros-Pangkep: Harta Karun Gambar Cadas Prasejarah Indonesia

Kompas.com, 15 Juli 2025, 11:08 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com - Kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan kembali menyita perhatian dunia arkeologi. Bukan tanpa alasan—wilayah ini menyimpan sekitar 75 persen dari total gambar cadas (rock art) yang pernah ditemukan di Indonesia. 

Fakta ini diungkap oleh Adhi Agus Oktaviana, peneliti dari Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam Konferensi Internasional Gau Maraja 2025 yang bertema “Leang-Leang Maros as the Gateway to Ancient Human in the World”, Sabtu (5/7) di Maros.

“Karst Maros-Pangkep sangat beragam dan kompleks. Di sinilah kita bisa mempelajari berbagai aspek kehidupan manusia prasejarah, termasuk transformasi budaya dan seni purba yang menjadi catatan visual evolusi pengetahuan manusia,” ujar Adhi.

Baca juga: Lukisan Gua Tertua Ada di Indonesia, Usianya 51.200 Tahun

Jejak Purba dalam Gua

Salah satu situs yang menjadi pusat perhatian adalah Leang Karampuang. Di dalam gua ini, para peneliti menemukan berbagai gambar cadas: dari cap tangan, babi besar dan kecil, hingga kepala anoa—satwa endemik Sulawesi. Yang paling mencengangkan adalah lukisan sekelompok babirusa yang diperkirakan berusia lebih dari 51.000 tahun.

Tak hanya ragam gambarnya yang unik, tetapi juga motifnya. Adhi mencatat adanya pola khas berupa cap tangan dengan jari-jari meruncing. Motif ini tak hanya ditemukan di Maros-Pangkep, tetapi juga tersebar hingga Sulawesi Tenggara. Pola ini diyakini menunjukkan jejak migrasi manusia purba yang membawa tradisi visual serupa di berbagai lokasi.

Baca juga: Mengenal Kedekatan Sejarah Indonesia dan Timor Leste Lewat Lukisan Gua

Lukisan gua berusia 51.200 tahun di Leang Karampuang, Sulawesi, merupakan seni cadas naratif tertua yang pernah ditemukan. Karya seni tersebut menggambarkan sosok mirip manusia yang berinteraksi dengan babi Live Science Lukisan gua berusia 51.200 tahun di Leang Karampuang, Sulawesi, merupakan seni cadas naratif tertua yang pernah ditemukan. Karya seni tersebut menggambarkan sosok mirip manusia yang berinteraksi dengan babi

Gua sebagai Ensiklopedi Pengetahuan

Muhammad Irfan Mahmud, Kepala Pusat Riset Arkeologi Sejarah dan Prasejarah BRIN, menegaskan bahwa lukisan-lukisan ini bukan sekadar seni, tetapi juga sarana dokumentasi pengetahuan.

“Lukisan di dinding gua adalah semacam ensiklopedi kuno. Melalui gambar, mereka menyampaikan pengetahuan tentang dunia mereka. Ini membuktikan bahwa manusia prasejarah tidak hanya hidup untuk bertahan, tapi juga berpikir dan menciptakan,” jelas Irfan.

Sebagai contoh, ia mengangkat studi kasus dari situs Leang Tianang. Di sana, gambar flora dan fauna berperan sebagai bioindikator, yaitu penanda ekologis dari lingkungan sekitar pada masa itu.

Baca juga: Temuan Kerangka Manusia Berusia 7.400 Tahun di Maros Ungkap Jejak Prasejarah Wallacea

Simbol Kosmologi Leluhur

Lebih jauh, motif dalam gambar cadas juga mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat masa lalu. Fauna air dianggap sebagai representasi dunia bawah. Gambar perahu melambangkan dunia manusia, sedangkan tanaman nipah—yang oleh masyarakat Bugis dikenal sebagai “tori langit”—mewakili dunia atas atau dunia ruh.

“Nipah bagi masyarakat pesisir bukan sekadar tanaman. Ia menjadi simbol langit, batas kosmos, dan lambang kesuburan, pertumbuhan, bahkan kelahiran kembali,” papar Irfan.

Karst Maros-Pangkep bukan sekadar warisan geologi, tetapi juga jendela menuju masa lalu umat manusia—tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana nenek moyang kita memahami alam semesta. Sebuah warisan yang tak ternilai dan perlu dijaga keberlanjutannya.

Baca juga: Situs Prasejarah Maros Pangkep, Ada Gambar Cadas Theriantropik Tertua di Dunia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau