Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Naik Turun Hubungan AS dengan Sekutu NATO

Kompas.com, 7 Mei 2026, 13:36 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Editor

Penulis: Cathrin Schaer/DW Indonesia

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Kanselir Jerman Friedrich Merz sempat percaya diri punya hubungan baik dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump—sesuatu yang jarang dimiliki pemimpin Eropa lain.

Dalam satu tahun masa jabatannya, Merz tercatat sudah tiga kali mengunjungi Gedung Putih.

Pertemuan antara kedua kepala negara selalu berlangsung dalam suasana hangat, meski di Jerman sendiri Merz dikritik terlalu berusaha menyenangkan Trump. Setidaknya, hubungan transatlantik kala itu tampak relatif stabil di tengah situasi global yang penuh gejolak.

Baca juga: Jepang Dekati RI-Filipina untuk Lawan China, Tawarkan Armada Kelas NATO

Namun situasinya berubah cepat sejak Perang Iran. Sejumlah komentar pedas Merz—yang menyebut Amerika Serikat tidak memiliki strategi jelas dan bahkan dipermalukan oleh Iran—memicu kegeraman Trump.

Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump membalas dengan tajam: Merz disebut “tidak tahu apa yang dia bicarakan.”

Dia juga menambahkan, “tidak heran jika kondisi Jerman begitu buruk.”

Konsekuensi militer dan ekonomi

Para prajurit Angkatan Darat AS dari Divisi Lintas Udara ke-18 bersiap untuk menaiki pesawat C-17 saat mereka dikerahkan ke Eropa dari Fort Bragg, North Carolina, pada Kamis (3/2/2022). Presiden Joe Biden memerintahkan 2.000 tentara AS ke Polandia dan Jerman di tengah situasi yang memanas di perbatasan Rusia-Ukraina.AP PHOTO/CHRIS SEWARD Para prajurit Angkatan Darat AS dari Divisi Lintas Udara ke-18 bersiap untuk menaiki pesawat C-17 saat mereka dikerahkan ke Eropa dari Fort Bragg, North Carolina, pada Kamis (3/2/2022). Presiden Joe Biden memerintahkan 2.000 tentara AS ke Polandia dan Jerman di tengah situasi yang memanas di perbatasan Rusia-Ukraina.

Tak lama setelah itu, Trump mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara Amerika dari Jerman dalam waktu satu tahun. Belakangan, dia bahkan menyatakan, jumlah pasukan AS di Jerman bisa dikurangi “secara jauh lebih besar”.

Selain itu, penempatan rudal jelajah Tomahawk yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk memperkuat pertahanan Jerman terhadap kemungkinan serangan Rusia juga ditunda.

Sejumlah pakar menilai langkah ini jauh lebih serius dibanding penarikan pasukan.

“Penundaan ini menciptakan celah keamanan yang besar dalam upaya menangkal Rusia, yang baru bisa ditutup di masa depan dengan persenjataan Eropa,” papar Carlo Masala, pakar dari Universitas Pertahanan Bundeswehr München, kepada harian Welt am Sonntag.

Pada saat yang bersamaan, Trump juga mengumumkan rencana menaikkan tarif impor mobil dari Uni Eropa dari 15 menjadi 25 persen.

Ekonom Clemens Fuest bahkan memperingatkan kemungkinan resesi baru. “Kenaikan tarif ini menghantam industri otomotif Jerman yang memang sudah berada dalam situasi sulit,” ujarnya kepada surat kabar Bild.

Merz sendiri mencoba meredam kekhawatiran. Dalam sebuah acara di televisi, dia menyebut rencana pengurangan pasukan Amerika bukanlah hal baru dan membantah adanya kaitan dengan perselisihannya dengan Trump. “Tidak ada hubungannya,” tegas Merz.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Naik Turun Hubungan AS dengan Sekutu NATO
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat