Editor
Penulis: Cathrin Schaer/DW Indonesia
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Kanselir Jerman Friedrich Merz sempat percaya diri punya hubungan baik dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump—sesuatu yang jarang dimiliki pemimpin Eropa lain.
Dalam satu tahun masa jabatannya, Merz tercatat sudah tiga kali mengunjungi Gedung Putih.
Pertemuan antara kedua kepala negara selalu berlangsung dalam suasana hangat, meski di Jerman sendiri Merz dikritik terlalu berusaha menyenangkan Trump. Setidaknya, hubungan transatlantik kala itu tampak relatif stabil di tengah situasi global yang penuh gejolak.
Baca juga: Jepang Dekati RI-Filipina untuk Lawan China, Tawarkan Armada Kelas NATO
Namun situasinya berubah cepat sejak Perang Iran. Sejumlah komentar pedas Merz—yang menyebut Amerika Serikat tidak memiliki strategi jelas dan bahkan dipermalukan oleh Iran—memicu kegeraman Trump.
Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump membalas dengan tajam: Merz disebut “tidak tahu apa yang dia bicarakan.”
Dia juga menambahkan, “tidak heran jika kondisi Jerman begitu buruk.”
Para prajurit Angkatan Darat AS dari Divisi Lintas Udara ke-18 bersiap untuk menaiki pesawat C-17 saat mereka dikerahkan ke Eropa dari Fort Bragg, North Carolina, pada Kamis (3/2/2022). Presiden Joe Biden memerintahkan 2.000 tentara AS ke Polandia dan Jerman di tengah situasi yang memanas di perbatasan Rusia-Ukraina.Tak lama setelah itu, Trump mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara Amerika dari Jerman dalam waktu satu tahun. Belakangan, dia bahkan menyatakan, jumlah pasukan AS di Jerman bisa dikurangi “secara jauh lebih besar”.
Selain itu, penempatan rudal jelajah Tomahawk yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk memperkuat pertahanan Jerman terhadap kemungkinan serangan Rusia juga ditunda.
Sejumlah pakar menilai langkah ini jauh lebih serius dibanding penarikan pasukan.
“Penundaan ini menciptakan celah keamanan yang besar dalam upaya menangkal Rusia, yang baru bisa ditutup di masa depan dengan persenjataan Eropa,” papar Carlo Masala, pakar dari Universitas Pertahanan Bundeswehr München, kepada harian Welt am Sonntag.
Pada saat yang bersamaan, Trump juga mengumumkan rencana menaikkan tarif impor mobil dari Uni Eropa dari 15 menjadi 25 persen.
Ekonom Clemens Fuest bahkan memperingatkan kemungkinan resesi baru. “Kenaikan tarif ini menghantam industri otomotif Jerman yang memang sudah berada dalam situasi sulit,” ujarnya kepada surat kabar Bild.
Merz sendiri mencoba meredam kekhawatiran. Dalam sebuah acara di televisi, dia menyebut rencana pengurangan pasukan Amerika bukanlah hal baru dan membantah adanya kaitan dengan perselisihannya dengan Trump. “Tidak ada hubungannya,” tegas Merz.