Penulis
CARACAS, KOMPAS.com - Pemerintah Venezuela mengecam keras dugaan serangan militer oleh Amerika Serikat (AS) yang terjadi pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat, menyusul serangkaian ledakan di Ibu Kota Caracas.
Ledakan terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat (13.00 WIB), disertai suara pesawat terbang rendah yang melintas di atas kota. Ledakan serupa juga terjadi di La Guaira, wilayah pelabuhan di utara Caracas.
Venezuela menyebut peristiwa ini agresi militer sangat serius, dan menyampaikan penolakan terhadap tindakan yang dituding dilakukan oleh Washington.
Baca juga: Ledakan Keras di Ibu Kota Venezuela, Serangan Darat AS Dimulai?
“Venezuela di hadapan komunitas internasional menolak, menyangkal, dan mengecam agresi militer sangat serius yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan rakyat Venezuela,” demikian pernyataan resmi dari pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, dikutip dari AFP.
Maduro juga menetapkan status keadaan darurat nasional.
Sementara itu, Gedung Putih dan Pentagon belum memberikan tanggapan resmi atas dugaan keterlibatan pasukan AS dalam serangan ini.
Namun, laporan dari media-media "Negeri Paman Sam" seperti Fox News dan CBS News menyebutkan, pasukan Amerika memang terlibat serangan militer ke Venezuela.
Api kebakaran di kompleks militer Fuerte Tiuna, setelah serangkaian ledakan mengguncang Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026). Amerika Serikat disebut telah memulai serangan darat di Venezuela.“Dari sini, kita bisa mendengar ledakan di dekat Benteng Tiuna,” kata Emmanuel Parabavis, karyawan humas berusia 29 tahun yang tinggal di distrik El Valle.
“Saat ini, Anda dapat mendengar sesuatu yang terdengar seperti senapan mesin. Ada banyak ledakan dan tembakan,” ujarnya kepada AFP.
Menurut sejumlah warga, aliran listrik padam di beberapa bagian kota setelah serangan terjadi.
Baca juga: AS Serang Venezuela, Caracas Kondisi Darurat
Seorang warga Caracas, Francis Pena (29), mengaku terbangun karena suara ledakan.
“Pacar saya membangunkanku dan bilang, ‘Mereka sedang mengebom’,” kata Pena kepada AFP.
Ia menambahkan, “Saya tidak bisa melihat ledakannya, tetapi saya mendengar pesawat-pesawat itu. Kami mulai menyiapkan tas berisi barang-barang terpenting di rumah... Paspor, kartu, uang tunai, lilin, pakaian ganti, makanan kaleng.”
Penduduk lainnya Carmen Hidalgo (21) yang berprofesi pegawai kantoran mengungkapkan, “Seluruh daratan bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat di kejauhan,”