KOMPAS.com - Kondisi literasi anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) di tahun 2026 ternyata masih terbilang memprihatinkan.
Menurut Bunda Literasi NTT, Asti Laka Lena sejak tahun 2001 hingga tahun 2026 ini masih banyak anak-anak jenjang pendidikan menengah tetapi belum lancar membaca.
"Kami lebih prihatin karena dari 2001 sampai sekarang 2026 ternyata masih juga anak-anak SMA, SMP tetapi belum lancar membaca," kata Asti dikutip dari akun YouTube Badan Bahasa Kemendikdasmen, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Kemendikti: Penutupan Prodi yang Tak Relevan Jadi Opsi Terakhir, Dorong Transformasi
"Bahkan ada yang sudah kuliah, membaca mungkin bisa, tetapi untuk kemampuan memahami atau menawarkan bacaan itu masih sangat kurang," lanjut dia.
Asti menilai, sebenarnya literasi adalah investasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) bukan hanya dari segi di intelektual tetapi juga peningkatan ekonomi.
Melalui literasi, Asti percaya akan bisa membawa kesejahteraan bagi warga negara Indonesia ke kehidupan yang lebih baik lagi.
"Karena dengan literasi yang masih rendah di NTT kami berupaya, bertekad ini harus diperbaiki bersama," ujarnya.
Melihat belum adanya kemampuan literasi yang mumpuni di NTT, Asti berupaya membantu meningkatkan literasi utamanya pada anak-anak di NTT.
Langkah Asti juga semakin lebar untuk membantu anak-anak di NTT ketika suaminya diangkat menjadi Gubernur NTT.
Sebagai istri gubernur, Asti berupaya meningkatkan literasi melalui program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Baca juga: Daycare Bermasalah, FSGI: Umumnya Tak Berizin, Luput dari Pengawasan Pemerintah
Namun baru-baru ini dibuat Kelompok Kerja (Pokja) yang berkaitan dengan literasi dan Asti diangkat sebagai Bunda Literasi di NTT.
Setelah menjadi Bunda Literasi, perjalanan Asti untuk membantu meningkatkan literasi di NTT tidaklah mudah karena ternyata fasilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah juga masih terbatas.
Belum lagi dengan minat baca pada anak-anak yang tentunya beragam. Apalagi ketika harus menumbuhkan minat membaca pada anak-anak yang cenderung mulai dewasa.
Ilustrasi membacakan buku untuk anak.“Mungkin yang sudah besar ya, yang sudah semakin besar apalagi sudah terpapar gadget, gawai, nah ini tantangan kita untuk menumbuhkan, karena minat bacanya harusnya dipupuk dari yang kecil, tapi ini sudah terlanjur besar, nah ini mungkin tantangan juga,” ujarnya.
Meski begitu, Asti tetap tidak menyerah karena sebenarnya banyak cara juga yang bisa digunakan untuk membantu menumbuhkan minat baca pada anak yang sudah dewasa.
Bisa dari lagu, misalnya membuat lomba-lomba yang menarik minat anak muda tetapi juga bisa meningkatkan literasi.
Baca juga: Berapa Batas Usia untuk Daftar PJJ bagi Anak Tidak Sekolah?
“Ada lomba menulis, temanya bisa macam-macam sesuai dengan lembaga atau sesuai dengan momen saat itu.Tetapi saya pikir itu bagian dari kita menggairahkan ya, dan kami pikir sedikit pesertanya, tapi ternyata lumayan tetap ratusan juga,” ungkapnya.
Asti juga berupaya menghadirkan buku-buku yang sesuai dengan usia anak demi memperbanyak bahan bacaan anak agar semakin bervariasi.
Demikian juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk membantu memenuhi semua fasilitas peningkatan literasi di NTT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang