Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Cuma Irit di Kota, Mobil Hybrid Juga Ideal di Pegunungan

Kompas.com, 29 Mei 2026, 11:02 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Mobil hybrid sering dianggap hanya cocok digunakan di dalam kota karena identik dengan efisiensi bahan bakar dan kemacetan lalu lintas. Rupanya, karakter jalan pegunungan yang dipenuhi tanjakan dan turunan justru bisa menjadi habitat ideal bagi teknologi hybrid bekerja secara maksimal.

Jalur seperti Puncak, Dieng, atau kawasan pegunungan lainnya dinilai mampu memaksimalkan sistem regenerative braking yang menjadi salah satu keunggulan mobil hybrid.

Baca juga: Libur Idul Adha 2026, 48.000 Kendaraan Lintasi Tol Layang MBZ

Kontur Jalan

Saat mobil melaju menurun dan pengemudi melakukan deselerasi, energi yang biasanya terbuang justru diubah menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai.

Indra, pemilik bengkel Quick Service, menjelaskan bahwa kondisi jalan naik-turun membuat suplai energi pada mobil hybrid terus terjaga tanpa perlu pengisian daya eksternal. Menurut dia, turunan pada jalur pegunungan bukan menjadi beban, melainkan sumber energi tambahan bagi kendaraan.

“Karena memiliki dua sumber tenaga, sudah pasti bertenaga. Yang namanya pegunungan pasti ada turunan, tenaga ketika deselerasi dapat dimanfaatkan untuk mengisi battery,” ujar Indra kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Sistem ini membuat motor listrik dan mesin bensin bisa saling mendukung saat mobil kembali menghadapi tanjakan. Torsi instan dari motor listrik juga membantu kendaraan berakselerasi lebih responsif dibanding mobil konvensional bermesin kecil yang hanya mengandalkan putaran mesin.

Chery Tiggo Cross CSHChery Chery Tiggo Cross CSH

Tak heran jika dalam beberapa kondisi, mobil hybrid justru terasa lebih efisien di jalur pegunungan dibanding perjalanan tol lurus dengan kecepatan konstan. Sebab, sistem hybrid bekerja optimal ketika terjadi siklus akselerasi dan deselerasi secara berulang.

Gagal Menanjak

Meski begitu, Indra mengingatkan bahwa ada kondisi tertentu yang bisa membuat mobil hybrid gagal menanjak, terutama di medan terjal. Namun, penyebabnya bukan karena tenaga mesin yang lemah, melainkan masalah traksi roda.

“Pastikan ban tidak slip, karena TRC control akan aktif dan mengurangi power. Nah ini yang umumnya jadi sebab mobil hybrid gagal nanjak,” katanya.

Saat roda kehilangan traksi di tanjakan curam atau permukaan licin, sistem Traction Control (TRC) akan membatasi tenaga untuk mencegah roda berputar liar. Akibatnya, mobil terasa tertahan dan gagal melanjutkan tanjakan.

Baca juga: [POPULER OTOMOTIF] Chery Q vs Jaecoo J5 EV, BYD Dolphin PHEV

Karena itu, kondisi ban, grip permukaan jalan, hingga momentum kendaraan menjadi faktor penting saat membawa mobil hybrid ke daerah pegunungan. Jika traksi terjaga dengan baik, kombinasi mesin bensin dan motor listrik justru mampu memberikan performa yang optimal di medan naik-turun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau