NEW YORK, KOMPAS.com - Kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar pesawat (avtur) semakin meningkat seiring berlarutnya konflik dengan Iran, mendorong maskapai mulai memangkas penerbangan.
Lonjakan harga avtur bukan satu-satunya masalah bagi industri penerbangan.
Kini, muncul kekhawatiran apakah pasokan bahan bakar akan cukup.
Mengutip CNBC Rabu (8/4/2026), Sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, harga avtur di AS hampir dua kali lipat, dari 2,50 dollar AS per galon menjadi 4,88 dollar AS per galon pada 2 April 2026, dengan kenaikan yang bahkan lebih tajam di wilayah lain.
Penutupan efektif Selat Hormuz telah menghambat pasokan minyak mentah dan produk olahan seperti avtur, sehingga semakin mendorong kenaikan harga.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan
Kondisi ini memaksa maskapai mempertimbangkan pengurangan penerbangan, terutama rute internasional.
CEO Deutsche Lufthansa, Carsten Spohr, mengatakan bahwa perusahaan sedang menyiapkan rencana darurat terkait perang di Timur Tengah, termasuk kemungkinan penurunan permintaan atau kekurangan avtur.
Rencana tersebut bahkan mencakup opsi untuk menghentikan operasional sebagian pesawat.
Meski AS memproduksi banyak avtur dan relatif tidak terlalu terdampak dibandingkan Eropa dan sebagian Asia, pengisian bahan bakar tetap dilakukan secara lokal.
Artinya, maskapai AS tetap berpotensi menghadapi kekurangan pasokan saat penerbangan internasional.
CEO United Airlines, Scott Kirby, menyebut maskapainya kemungkinan akan mengurangi penerbangan ke Asia.
Ia juga tidak menutup kemungkinan maskapai lain akan melakukan hal serupa di kawasan tersebut.
Menurutnya, kenaikan harga avtur bisa lebih terasa di wilayah AS yang tidak terhubung dengan jaringan pipa secara optimal, seperti wilayah West Coast.
“Tidak ada kapasitas penyulingan yang cukup, sehingga harga bahan bakar lebih rentan terhadap gangguan pasokan, khususnya di West Coast,” ujar Kirby mengutip CNBC, Rabu (8/4/2026).
Kirby juga menyampaikan bahwa United tengah bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak tetap di atas 100 dollar AS per barrel hingga 2027.