Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bekerja Keras Tak Menjamin Kaya, Ini 5 Kebiasaan yang Sering Diabaikan

Kompas.com, Diperbarui 13/12/2025, 22:05 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

KOMPAS.com - Banyak orang bermimpi menjadi kaya dan memiliki kekayaan finansial yang mapan. Namun, tidak sedikit yang telah bekerja keras dan berpenghasilan cukup, tetapi tetap gagal membangun kekayaan dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut kerap dipicu oleh kebiasaan dan pola pikir finansial yang keliru. Sejumlah orang tanpa sadar mempertahankan cara mengelola uang yang justru menghambat pertumbuhan aset dan membuat mereka terjebak di kelas menengah.

Dikutip dari New Trader U, Sabtu (13/12/2025), berdasarkan pengamatan terhadap individu yang berhasil dan gagal mencapai kekayaan finansial, terdapat sejumlah pola perilaku yang berulang.

Baca juga: 10 Alasan Orang Kaya Semakin Kaya dari Waktu ke Waktu

Pola ini bukan berkaitan dengan kecerdasan atau latar belakang, melainkan pilihan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten dan berdampak besar terhadap peluang seseorang untuk menjadi kaya. Berikut penjelasannya: 

1. Pengeluaran Lebih Besar dari Pendapatan

Salah satu indikator terkuat seseorang tidak akan membangun kekayaan adalah hidup dari gaji ke gaji di semua tingkat pendapatan. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh mereka yang berpenghasilan rendah, tetapi juga oleh orang dengan gaji enam digit.

Penyebab utamanya adalah lifestyle creep, yaitu kebiasaan pengeluaran yang terus meningkat seiring naiknya pendapatan. Saat penghasilan Rp 50.000, pengeluaran menjadi Rp 52.000. Ketika gaji naik menjadi Rp 100.000, pengeluaran justru melonjak ke Rp 105.000.

Orang kaya memperlakukan pendapatan seperti pendapatan bisnis, bukan izin untuk menghabiskan semuanya. Sebagian besar dialokasikan lebih dulu untuk ditabung atau diinvestasikan, sementara peningkatan gaya hidup ditempatkan belakangan.

Setiap uang yang dihabiskan untuk konsumsi adalah uang yang tidak bisa berkembang. Jika seluruh penghasilan habis dibelanjakan, besar kecilnya gaji menjadi tidak relevan. Ketergantungan pada gaji berikutnya pun tak terhindarkan.

Baca juga: Rahasia Orang Kaya: 10 Kebiasaan yang Tidak Dilakukan Lagi Setelah Mapan

2. Tidak Memiliki Aset yang Menghasilkan Arus Kas

Jika kekayaan bersih hanya terdiri dari rumah yang ditinggali, kendaraan, dan barang pribadi, maka seseorang belum berada di jalur membangun kekayaan. Secara finansial, aset tersebut cenderung menimbulkan biaya atau mengalami penyusutan nilai.

Individu kaya fokus pada kepemilikan aset yang menghasilkan arus kas rutin, seperti bisnis, properti sewa, saham dividen, kekayaan intelektual, atau investasi lain yang tetap menghasilkan pendapatan tanpa keterlibatan langsung.

Perbedaan pola pikir kelas menengah dan orang kaya terlihat jelas di sini. Kelas menengah fokus pada gaji dari pekerjaan, sementara orang kaya membangun portofolio aset yang kelak dapat menggantikan kebutuhan akan pekerjaan itu sendiri.

Seseorang yang hanya mengandalkan waktu dan tenaga untuk memperoleh uang akan selalu menukar waktu dengan uang. Waktu terbatas, sementara aset tidak.

Baca juga: 10 Hal yang Tak Pernah Dibeli Orang Kaya demi Menjaga Kekayaannya

3. Menghindari Risiko Terukur dan Bertahan di Zona Nyaman

Hampir semua orang yang benar-benar kaya pernah mengambil risiko besar dan tidak nyaman. Ada yang memulai bisnis saat disarankan bertahan di pekerjaan aman, berinvestasi saat pasar anjlok, atau pindah ke kota baru demi peluang lebih besar.

Jika respons terhadap setiap peluang selalu “lebih baik aman”, maka kekayaan akan sulit dicapai. Kenyamanan menjadi musuh utama penciptaan kekayaan.

Risiko terukur berbeda dengan tindakan ceroboh. Risiko terukur melibatkan riset, perencanaan, serta pemahaman terhadap skenario terburuk. Banyak orang mengoptimalkan hidupnya untuk keamanan dan prediktabilitas, lalu heran mengapa hasilnya juga biasa-biasa saja.

Halaman:


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau