Memuat...

Saudi Bentuk Aliansi Pertahanan 14 Negara, Siapa Saja Mereka?

Hanoum
Ahad, 2 Agustus 2026 / 19 Safar 1448 04:29
Saudi Bentuk Aliansi Pertahanan 14 Negara, Siapa Saja Mereka?
Arab Saudi dan 13 negara membentuk aliansi Laut Merah. [Foto: Somalia Today]

RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi mengumumkan pembentukan aliansi pertahanan maritim baru yang melibatkan 14 negara untuk mengamankan Laut Merah, Teluk Aden, dan jalur pelayaran strategis di kawasan. Pembentukan aliansi ini dilakukan di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran internasional, terutama setelah serangan-serangan yang diklaim dilakukan milisi Syiah Houthi Yaman terhadap kapal dagang dan fasilitas energi di kawasan tersebut.

Dilansir Al Jazeera (31/7/2026), pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi keamanan maritim yang berlangsung di Riyadh pada 30 Juli 2026. Aliansi baru ini bertujuan memperkuat koordinasi pertahanan, berbagi intelijen, melakukan patroli bersama, serta melindungi jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa melalui Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Menurut laporan Times of India, 14 negara yang bergabung dalam aliansi tersebut meliputi Arab Saudi, Mesir, Yordania, Sudan, Djibouti, Somalia, Yaman, Eritrea, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, Qatar, dan Pakistan. Negara-negara tersebut memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, menegaskan bahwa pembentukan aliansi ini bukan ditujukan untuk menyerang negara tertentu, melainkan untuk menjaga stabilitas kawasan dan kebebasan navigasi internasional.

"Keamanan Laut Merah dan jalur pelayaran internasional merupakan tanggung jawab bersama. Aliansi ini dibentuk untuk melindungi perdagangan global, menjamin kebebasan navigasi, dan menghadapi ancaman yang mengganggu stabilitas kawasan," kata Khalid bin Salman dalam pernyataannya.

Pembentukan aliansi ini terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal komersial dan kapal tanker di Laut Merah sejak meningkatnya ketegangan regional antara Iran, Amerika Serikat, Israel, dan kelompok Houthi di Yaman. Serangan-serangan tersebut sempat memaksa sejumlah perusahaan pelayaran internasional mengalihkan rute kapal mereka melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang menyebabkan biaya logistik global meningkat tajam.

Pemerintah Somalia menyambut pembentukan aliansi tersebut dan menyebutnya sebagai langkah penting untuk meningkatkan keamanan maritim di kawasan Afrika Timur.

Dalam pernyataan resminya, otoritas Somalia menegaskan bahwa stabilitas Laut Merah dan Teluk Aden sangat penting bagi keamanan ekonomi dan perdagangan negara-negara pesisir.

Dengan lebih dari 12 persen perdagangan global dan sebagian besar ekspor minyak dunia melewati Laut Merah setiap tahunnya, keberhasilan aliansi baru ini akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi internasional.

Para anggota aliansi dijadwalkan menggelar latihan militer maritim bersama pertama mereka dalam beberapa bulan mendatang guna menguji mekanisme koordinasi dan respons terhadap ancaman keamanan di kawasan. (hanoum/arrahmah.id)