TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Lebih dari 100 tentara dan komandan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan meninggalkan markas militer mereka secara bersamaan sambil meninggalkan senjata dan perlengkapan tempur. Insiden yang terjadi di Batalion Tsavar, Brigade Givati, itu memicu perhatian luas di 'Israel' karena melibatkan personel aktif yang diduga melakukan aksi meninggalkan dinas tanpa izin (AWOL/Absent Without Official Leave) secara terkoordinasi.
Menurut laporan Israel National News (31/7/2026), peristiwa tersebut terjadi di Pangkalan Sde Teiman, Israel selatan. Data awal menunjukkan lebih dari 100 personel, mulai dari prajurit hingga sejumlah komandan lapangan, meninggalkan markas pada waktu yang hampir bersamaan. Mereka bahkan dilaporkan meninggalkan senjata pribadi dan perlengkapan militer di pangkalan sebelum pergi.
Laporan Israel Hayom menyebut aksi tersebut bukan dipicu oleh penolakan terhadap perang atau alasan ideologis, melainkan sebagai bentuk protes terhadap komandan batalion mereka. Ketegangan disebut telah berlangsung cukup lama akibat perselisihan internal terkait kepemimpinan dan kondisi pelayanan di unit tersebut.
Seorang sumber militer yang dikutip media Israel mengatakan, "Ini bukan tindakan spontan. Indikasi awal menunjukkan adanya koordinasi di antara para prajurit yang memutuskan meninggalkan pangkalan secara bersamaan sebagai bentuk protes terhadap komandan mereka."
Video yang beredar di media sosial dan dikutip sejumlah media Timur Tengah memperlihatkan kelompok besar tentara meninggalkan area pangkalan. Laporan lain menyebut para personel berasal dari Batalion Tsavar yang selama beberapa waktu terakhir terlibat dalam operasi militer intensif sehingga menghadapi tekanan fisik dan psikologis yang tinggi.
Pihak IDF segera membuka penyelidikan internal setelah kejadian tersebut. Militer Israel menilai tindakan meninggalkan markas tanpa izin merupakan pelanggaran serius terhadap disiplin militer, terlebih ketika dilakukan secara massal dan melibatkan personel tempur aktif.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap militer Israel setelah hampir dua tahun terlibat dalam operasi militer berkelanjutan di Gaza, Lebanon, dan beberapa front lainnya.
Kasus ini menjadi salah satu aksi ketidakpatuhan terbesar yang dilaporkan dalam militer Israel dalam beberapa waktu terakhir. Selain menyoroti masalah disiplin, peristiwa tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi moral dan hubungan kepemimpinan di unit-unit tempur yang terus terlibat dalam operasi militer berkepanjangan. (hanoum/arrahmah.id)
