YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Pernyataan kontroversial seorang pengacara sekaligus pemukim 'Israel' di Tepi Barat memicu gelombang kecaman setelah ia secara terbuka membenarkan serangan terhadap warga Palestina dan menyerukan tindakan yang dinilai sebagai pembunuhan massal. Dalam wawancara dengan BBC (31/7/2026) yang dilakukan di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat, tokoh tersebut bahkan menyatakan bahwa satu nyawa warga Yahudi lebih berharga daripada 100 nyawa warga Palestina.
Dilansir BBC, tokoh yang menjadi sorotan adalah Yehuda Shimon, seorang pengacara yang dikenal mewakili pemukim 'Israel' yang dituduh melakukan kekerasan terhadap warga Palestina.
Wawancara itu dilakukan setelah bentrokan mematikan di Desa Tal, dekat Nablus, yang menewaskan empat warga Palestina dan dua warga 'Israel' serta memicu gelombang serangan balasan terhadap sejumlah desa Palestina di Tepi Barat.
Dalam wawancara tersebut, Shimon membela serangan yang dilakukan pemukim terhadap desa-desa Palestina dan menyebutnya sebagai bentuk balas dendam. Ia juga mengeluarkan pernyataan yang memicu kemarahan luas di media sosial dan kalangan pemerhati hak asasi manusia.
"Jika Anda bertanya kepada saya, ya, saya pikir satu nyawa Yahudi lebih berharga daripada 100 nyawa Arab. Bahkan lebih dari itu," kata Yehuda Shimon dalam wawancara yang dikutip BBC. Ia juga menyatakan bahwa warga Palestina yang dianggap terlibat dalam kekerasan seharusnya dibunuh atau diusir dari Tepi Barat.
Pernyataan tersebut muncul ketika kekerasan di Tepi Barat mencapai salah satu titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, serangan pemukim terhadap warga Palestina meningkat tajam sepanjang 2026. Kantor HAM PBB memperingatkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas dalam insiden terkait pemukim tahun ini telah melampaui total korban sepanjang 2025.
Bentrokan terbaru bermula dari konfrontasi antara pemukim bersenjata dan warga Palestina di Desa Tal. Setelah insiden itu, sejumlah kelompok pemukim menyerang desa-desa Palestina di sekitarnya, membakar rumah, kendaraan, dan sedikitnya dua masjid. Pemerintah Israel kemudian meluncurkan operasi keamanan besar-besaran di wilayah tersebut.
Kelompok hak asasi manusia 'Israel' dan internasional mengecam keras komentar Shimon. Mereka menilai pernyataan tersebut merupakan bentuk hasutan kebencian yang dapat memperburuk situasi keamanan yang sudah sangat tegang. Sejumlah aktivis menilai retorika semacam itu turut menciptakan iklim impunitas terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pemukim ekstremis.
Pemerintah 'Israel' belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait komentar Yehuda Shimon. Namun sejumlah tokoh oposisi dan pengamat politik Israel memperingatkan bahwa normalisasi seruan kekerasan terhadap warga sipil dapat memperdalam konflik dan semakin mengisolasi 'Israel' di tingkat internasional.
Kasus ini kembali menyoroti meningkatnya ketegangan di Tepi Barat yang diduduki Israel, di mana bentrokan antara pemukim Yahudi, warga Palestina, dan aparat keamanan terus meningkat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Organisasi internasional berulang kali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan penegakan hukum yang setara bagi semua pihak guna mencegah eskalasi lebih lanjut. (hanoum/arrahmah.id)
