Penulis
KOMPAS.com - Kemiringan Menara Pisa telah lama menjadi perhatian dunia. Bangunan bersejarah di Italia tersebut tampak seolah-olah akan tumbang, tetapi kenyataannya tetap mampu berdiri tegak selama ratusan tahun.
Menara dengan tinggi sekitar 56 meter itu memang tidak dibangun dalam posisi sempurna. Namun hingga kini, struktur tersebut masih bertahan meski sudut kemiringannya cukup tajam.
Fenomena itu ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari posisi pusat gravitasi, karakter tanah di bawah bangunan, hingga teknik konstruksi yang terus disesuaikan sejak abad pertengahan.
Dirangkum dari Institution of Civil Engineers (ICE) dan CDM Smith, Menara Pisa sejatinya dirancang sebagai menara lonceng terpisah untuk kompleks Katedral Pisa.
Masalah mulai muncul tidak lama setelah pembangunan dimulai pada tahun 1173. Sekitar 12 tahun kemudian, fondasi bangunan perlahan mengalami penurunan akibat kondisi tanah yang lunak dan berlumpur.
Beban dari tiga lantai pertama membuat lapisan tanah lempung di bawahnya mengalami perubahan bentuk. Akibatnya, struktur menara mulai condong ke satu sisi.
Baca juga: Soekarno Lulusan Arsitektur atau Teknik Sipil? Ini Jawaban yang Benar
Pada masa berikutnya, para pembangun mencoba mengatasi kemiringan tersebut dengan membuat lantai tambahan sedikit menyesuaikan arah miring bangunan. Namun proyek pembangunan beberapa kali terhenti dan baru benar-benar selesai hampir dua abad kemudian.
Salah satu alasan utama menara ini tetap berdiri adalah karena titik pusat gravitasinya masih berada di dalam area pondasi.
Dalam prinsip fisika, sebuah bangunan akan tetap stabil selama garis gaya beratnya jatuh di dalam pijakan dasar. Jika titik tersebut keluar dari pondasi, struktur akan kehilangan keseimbangan dan berpotensi roboh.
Pada Menara Pisa, meskipun bentuknya miring, posisi pusat gravitasinya masih berada dalam batas aman sehingga gaya gravitasi tetap menjaga bangunan tetap stabil.
Selain itu, kondisi tanah di bawah menara justru ikut membantu mempertahankan struktur bangunan.
Tanah lunak biasanya dianggap berisiko bagi konstruksi tinggi. Namun pada kasus Menara Pisa, lapisan tanah tersebut mampu meredam getaran, termasuk guncangan gempa.
Fenomena itu dikenal sebagai Dynamic Soil-Structure Interaction (DSSI), yakni interaksi antara struktur bangunan dan karakteristik tanah di sekitarnya.
Struktur menara yang relatif kaku dipadukan dengan tanah yang mampu menyerap energi getaran membuat dampak gempa tidak langsung diterima sepenuhnya oleh bangunan.
Proses pembangunan Menara Pisa memakan waktu sangat panjang, yakni hampir dua abad sejak dimulai pada abad ke-12.