Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Sarinah, Mal Tertua di RI yang Dibangun dari Pampasan Perang

Kompas.com, 13 Februari 2026, 13:45 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Bagi warga Jakarta, siapa tak kenal dengan Mal Sarinah. Meski saat ini mal ini sepi pengunjung, Sarinah pernah berjaya di masanya.

Sarinah tercatat sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia. Pembangunannya pun diinisiasi langsung oleh Presiden Soekarno.

Mengutip situs resminya, Sarinah sendiri diambil dari nama salah satu pengasuh Presiden Soekarno di masa kecil.

Kesan mendalam tentang kebesaran jiwa sang pengasuh menginspirasi penyematan nama tersebut oleh Bung Karno.

Konsep Sarinah saat itu cukup sederhana namun visioner, yaitu menghadirkan tempat belanja yang modern dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

Baca juga: Nostalgia TVRI di Era Soeharto, Nonton TV Harus Bayar Iuran

Pemilik Sarinah

Bangunan Sarinah rampung dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Pengelolaannya berada di bawah PT Department Store Indonesia yang kini dikenal sebagai PT Sarinah (Persero).

Sebagai badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, penyewaan ruang usaha, hingga layanan penukaran valuta asing.

Dengan tinggi mencapai 74 meter dan terdiri dari 15 lantai, gedung ini pernah menyandang status sebagai pencakar langit pertama di Tanah Air.

Sebagai pusat belanja modern pertama di Indonesia, tak heran, antusiasme publik begitu besar saat pertama kali dibuka.

Konsep pusat belanja modern masih tergolong asing, sehingga Sarinah langsung menjelma menjadi ikon belanja di Jakarta.

Namun seiring berjalannya waktu, daya tarik tersebut perlahan memudar. Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan baru yang mengitari Jakarta, aktivitas ritel di dalam gedung ini tak lagi seramai dahulu.

Baca juga: Sejarah TVRI, Penyiar Film G30S yang Sempat Jadi BUMN

Meski berlokasi strategis di jantung kota, jumlah pengunjung di area pusat belanja utama relatif lengang.

Keramaian justru lebih banyak terlihat di lantai yang dihuni tenant kuliner, restoran cepat saji, hingga tempat hiburan seperti karaoke.

Sementara itu, lantai 3 dan 4 yang difungsikan sebagai etalase produk usaha kecil dan menengah (UKM) kerap terasa sepi pengunjung.

Secara historis, pembangunan Sarinah merupakan bagian dari proyek mercusuar yang digagas Presiden Soekarno pada era Orde Lama.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau