Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Penthouse, Awalnya Kamar Babu, Kini Jadi Hunian Kelas Atas

Kompas.com, 9 Februari 2026, 18:06 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com – Istilah penthouse kerap diasosiasikan dengan hunian super mewah dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar super kaya.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan penthouse dan apa bedanya dengan apartemen pada umumnya?

Melansir Architectural Digest, nama penthouse sendiri sudah lama identik dengan gaya hidup kelas atas. Meski begitu, pengertiannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Banyak orang mengira penthouse selalu berkaitan dengan hunian di gedung pencakar langit, langit-langit supertinggi, atau detail interior yang serba mewah.

Secara historis, istilah penthouse berasal dari campuran bahasa Prancis Pertengahan dan Inggris abad ke-16 yang merujuk pada bangunan tambahan beratap miring.

Pada masa itu, penthouse lebih menyerupai bangunan pelengkap di samping rumah utama, yang digunakan untuk menyimpan peralatan, pakan ternak, atau bahkan sebagai tempat tinggal hewan.

Baca juga: Apa Bedanya Flat, Rusun, dan Apartemen?

Bangunan ini dianggap memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan hunian utama. Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah, istilah penthouse pernah digunakan untuk menekankan kesederhanaan.

Penthouse mulai jadi hunian mewah

Seiring pertumbuhan kota dan meningkatnya jumlah bangunan bertingkat, konsep penthouse mulai bergeser.

Pemilik atau pengembang gedung menambahkan struktur sederhana di bagian atap bangunan, yang berfungsi sebagai gudang, ruang servis, atau tempat tinggal bagi pekerja gedung.

Pada masa awal perkembangan apartemen di kota besar, lantai atas justru menjadi area yang paling tidak diminati.

Lokasinya sulit diakses, cenderung panas, minim ventilasi, dan memiliki ruang yang terbatas.

Kondisi ini mirip dengan rumah-rumah bangsawan Eropa, di mana lantai paling atas biasanya ditempati oleh staf rumah tangga.

Baca juga: Berapa Harga Rata-rata Apartemen di Kawasan Paling Elit Jakarta?

Hal tersebut juga terjadi di Amerika Serikat. Ketika The Dakota, salah satu gedung apartemen ikonik di New York, dibuka pada tahun 1884, unit di lantai bawah menjadi incaran keluarga terkaya.

Sementara itu, lantai atas hanya difungsikan sebagai ruang penyimpanan, area cuci, dan tempat tinggal pelayan.

Status penthouse mulai berubah setelah Perang Dunia I. Pertumbuhan ekonomi pascaperang mendorong urbanisasi besar-besaran, sehingga kebutuhan akan hunian di kota meningkat pesat.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau