Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Igloo, Mahakarya Teknik Sipil Suku Inuit di Kutub Utara

Kompas.com, 6 Mei 2026, 17:03 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Mendengar kata "Kutub Utara", salah satu citra visual yang paling sering terlintas di benak kita adalah sebuah bangunan berbentuk kubah putih yang terbuat dari balok salju.

Bangunan ikonik ini dikenal dengan nama Igloo. Persebarannya ada di Greenland, Kanada bagian utara, sebagian Siberia, hingga Alaska.

Meski sering muncul dalam film maupun buku cerita, keberadaan igloo sebenarnya menyimpan fakta unik yang jarang diketahui publik, mulai dari persebaran lokasinya hingga teknik arsitekturnya yang jenius.

Melansir laman Visit Greenland, secara tradisional igloo hanya dibangun oleh masyarakat Inuit di Kanada dan Inuit di ujung utara Greenland, tepatnya di wilayah Qaanaaq.

Di wilayah Greenland bagian selatan, igloo hampir mustahil ditemukan karena perbedaan kondisi alam dan budaya. Bahkan saat ini, jumlah igloo tradisional terus menyusut dari tahun ke tahun.

Baca juga: Karya Tukang Bangunan di Wonogiri: Dikira Bus Parkir, Ternyata Rumah

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Ilulissat, memang tersedia fasilitas menginap di "Igloo modern" yang terbuat dari campuran salju dan logam.

Namun, perlu dicatat bahwa bangunan tersebut bukanlah igloo autentik yang digunakan oleh masyarakat Inuit sebagai hunian bertahan hidup.

Rahasia Kekuatan Bentuk Kubah

Igloo bukan sekadar tumpukan salju yang disusun asal-asalan. Rumah ini adalah mahakarya teknik sipil tradisional yang dirancang untuk menghadapi badai Arktik yang mematikan.

Bentuknya sengaja dibuat aerodinamis. Bentuk kubah memungkinkan angin kencang mengalir mulus di sekeliling bangunan tanpa memberikan tekanan berlebih pada satu sisi.

Suku Inuit juga membangun Igloo sebagai isolator alami. Jadi meskipun terbuat dari material dingin, salju padat justru berfungsi sebagai isolator.

Material ini memerangkap udara hangat di dalam, sehingga suhu di dalam Igloo jauh lebih tinggi dibandingkan suhu ekstrem di luar ruangan.

Arsitektur Igloo Berbasis Prinsip Matematika

Teknik pembangunan Igloo juga mengikuti prinsip yang sangat cermat. Berbeda dengan susunan batu bata yang dipasang lurus, balok salju pada igloo ditumpuk membentuk pola spiral.

Baca juga: Ini Rahasia Arsitektur Rumah Gadang Tahan Gempa

Setiap lapisan balok dibuat melengkung ke arah tengah dan ukurannya semakin mengecil atau menipis di bagian atas.

Menariknya, prinsip ini sering dikaitkan dengan struktur deret Fibonacci yang terbalik. Dengan dasar yang luas dan puncak yang ringan, tekanan beban terdistribusi secara merata sehingga kubah tetap stabil tanpa risiko runtuh.

Masyarakat Inuit menunjukkan pemahaman mendalam tentang termodinamika melalui desain pintu masuk. Pintu igloo sengaja dibuat lebih rendah dari ruang utama.

Desain ini berfungsi untuk mencegah angin dingin menyelinap langsung ke area tidur dan menjaga agar udara hangat tetap terperangkap di bagian atas ruangan (karena massa jenis udara hangat lebih ringan).

Untuk urusan pencahayaan, Igloo tidaklah gelap gulita. Masyarakat Inuit memanfaatkan lapisan es tipis atau usus hewan yang dikeringkan sebagai jendela.

Bahan-bahan ini cukup transparan untuk meneruskan cahaya matahari, namun tetap tangguh menahan terjangan angin kutub yang membeku.

Desain sederhana namun efisien ini menjadi bukti nyata bagaimana manusia mampu beradaptasi dan berharmoni dengan alam yang paling ekstrem sekalipun selama ratusan tahun.

Baca juga: Mengenal Bangunan Paviliun di Rumah Sakit, Sejarah dan Fungsinya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau