Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karya Tukang Bangunan di Wonogiri: Dikira Bus Parkir, Ternyata Rumah

Kompas.com, 25 April 2026, 06:50 WIB
Muhammad Idris

Penulis

WONOGIRI, KOMPAS.com - Sebuah pemandangan tak biasa menarik perhatian warga di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri.

Di tengah permukiman, berdiri bangunan unik yang sekilas tampak seperti kendaraan besar yang sedang berhenti.

Dari kejauhan, bentuknya menyerupai bus tingkat antarkota antarprovinsi (AKAP) yang tengah terparkir. Namun, bangunan tersebut bukanlah kendaraan, melainkan sebuah rumah tinggal.

Keunikan desain hunian ini belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Setelah ditelusuri, rumah tersebut diketahui milik Supardi (43), warga setempat yang akrab disapa Bagong atau BG.

Ia membangun rumah di atas lahan sekitar 90 meter persegi sejak Februari 2026, bertepatan dengan awal bulan puasa. Menurutnya, konsep rumah sengaja dibuat berbeda agar memiliki daya tarik tersendiri.

"Saya ingin rumah ini tidak sama dengan yang lain. Kalau unik, bisa jadi daya tarik wisata, bukan hanya untuk desa tapi juga kecamatan hingga kabupaten," ujar Supardi saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/4/2026).

Baca juga: Renovasi Rumah Kumuh di Johar Baru Tembus 500 Unit

Meski proses pembangunan baru berjalan sekitar enam minggu, kondisi rumah berbentuk bus tersebut belum sepenuhnya rampung. Supardi mengaku dana yang dimiliki sudah habis, sementara progres pembangunan baru mencapai sekitar 50–60 persen.

Kendati demikian, rumahnya telanjur viral dan menarik perhatian banyak orang yang datang langsung untuk melihatnya.

“Sekarang masih seperti ini karena dana sudah habis. Untuk melanjutkan pembangunan, saya masih mencari tambahan dana, baik dari usaha sendiri maupun bantuan pihak lain,” ungkapnya.

Bentuk Rumah Mirip Dua Bus Parkir

Supardi merasa satu bangunan saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ruang keluarganya. Dengan lahan terbatas, ia menyiasatinya dengan menambahkan bangunan lain di samping rumah utama.

Jika dilihat dari depan, bagian kanan menyerupai bus tingkat berukuran besar, sementara sisi kiri dibuat mirip bus ukuran sedang.

Baca juga: 2 Bulan Lagi, 15.000 Rumah di Daerah Perbatasan Siap Dibedah

Sebagai tukang bangunan sekaligus pemborong berpengalaman, Supardi merancang sendiri desain rumahnya agar menyerupai armada bus PO Agra Mas. Inspirasi itu datang dari pengalamannya yang kerap bepergian ke Jakarta menggunakan bus tersebut.

Untuk bangunan utama, ukuran rumah dibuat dengan lebar sekitar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang mencapai 13 meter.

Interiornya dirancang menyerupai bus tingkat, lengkap dengan deretan jendela di sisi kiri dan kanan yang membuat ruangan terasa terang. Sirkulasi udara juga diperhatikan dengan baik melalui tinggi bangunan serta dua pintu di bagian depan dan belakang.

Hasilnya, ruang utama tetap terasa sejuk meski pada siang hari.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau