Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perempuan Arsitek Tembus 5.500 Orang, Kunci Masa Depan Arsitektur Indonesia

Kompas.com, 24 April 2026, 19:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Geliat arsitektur di Tanah Air, makin dinamis. Bukan hanya ditandai oleh jumlah karya arsitektur, juga pertumbuhan perempuan arsitek.

Dari sekitar 27.000 anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sebanyak 5.500 orang merupakan perempuan.

Proporsi sebesar 20 persen ini menjadi potret ruang profesi yang terus bertumbuh demi merengkuh inklusivitas yang lebih utuh.

Pertumbuhan jumlah perempuan arsitek di Indonesia dianggap sebagai wujud perubahan budaya dalam ekosistem industri kreatif.

Baca juga: Mochtar Riady Jual One Raffles Place, Karya Arsitek Ayah Anak Tange

Principal Architect Hadiprana Design sekaligus Kurator ARCH:ID 2026, Ar. Afwina Kamal, menilai kemajuan ini sebagai peluang besar untuk memperkuat wajah arsitektur nasional yang lebih manusiawi.

“Dalam penyelenggaraan tahun ini, kami mendorong kolaborasi inklusif. Saya melihat tema sintesa merefleksikan cara perempuan bekerja. Di komunitas arsitektur, perempuan kian vokal dan nampak keberadaannya. Ini kemajuan nyata yang terus berlangsung,” tutur Afwina.

Kehadiran para puan arsitek ini membawa cara kerja yang khas, kolaboratif, integratif, serta menitikberatkan pada keharmonisan.

Semangat ini pula yang melatari ajang ARCH:ID 2026 di ICE BSD City pada 24–26 April 2026.

Mengusung tema “Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif Arsitektur”, pameran ini menekankan bahwa bangunan merupakan sebuah ekologi tempat pengetahuan mengalir lintas disiplin tanpa sekat yang kaku.

Manifestasi Pemikiran Kartini

Salah satu instalasi yang mencuri perhatian dari gelaram ARCH:ID 2026 adalah “Paviliun Cahya”. Proyek ini menjadi istimewa karena seluruh kolaborator yang terlibat merupakan perempuan.

Commercial Director in-Lite LED, Fransiska Darmawan, mengungkapkan, karya tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap pemikiran Raden Ajeng Kartini.

Fransiska memandang cahaya sebagai medium yang menghubungkan ruang dengan persepsi manusia, sebuah proses transisi dari ketiadaan menuju kehadiran yang nyata.

Baca juga: Ternyata, Arsitek Tak Mematok Batas Honor bagi MBR

Paviliun Cahya dirancang sebagai instalasi transisi yang mengeksplorasi cara cahaya membentuk ruang. Cahaya hadir secara bertahap, dari kegelapan total menuju terang penuh.

"Kami mendorong keterlibatan perempuan karena keberagaman perspektif mampu memperkaya proses kreatif serta menghadirkan pendekatan desain yang lebih inklusif dan humanis,” ujar Fransiska.

Senada dengan visi tersebut, arsitek dan seniman Jessica Soekidi yang mendesain paviliun ini, menggali akar arsitektur Nusantara.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau