Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Segini Biaya yang Dihabiskan Supardi Membangun Rumah Mirip Bus AKAP

Kompas.com, Diperbarui 24/04/2026, 08:30 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com – Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri. Tak jauh dari SMP Negeri 2 Jatipurno, berdiri sebuah bangunan yang sekilas tampak seperti bus tingkat yang tengah terparkir.

Namun, bangunan tersebut bukanlah kendaraan, melainkan rumah tinggal milik warga setempat bernama Supardi (43). Hunian unik ini belakangan menjadi perbincangan di media sosial karena desainnya yang menyerupai bus antarkota antarprovinsi (AKAP).

Supardi, yang akrab disapa Bagong atau Bege, mengaku sengaja merancang rumahnya berbeda dari kebanyakan. Selain untuk kepuasan pribadi, ia berharap desain unik tersebut dapat menarik perhatian dan mendongkrak potensi wisata di daerahnya.

“Saya ingin rumah ini beda dari yang lain. Kalau unik, harapannya bisa menarik orang datang, sehingga berdampak ke desa, kecamatan, bahkan kabupaten,” ujar Supardi saat ditemui di kediamannya, Kamis (24/4/2026).

Rumah tersebut dibangun di atas lahan sekitar 90 meter persegi dan mulai dikerjakan sejak Februari 2026, bertepatan dengan awal bulan puasa. Meski belum rampung, Supardi mengungkapkan dana yang telah dikeluarkan untuk pembangunan mencapai sekitar Rp 125 juta.

Baca juga: Viral Rumah Mirip Bus di Wonogiri, Pemiliknya Seorang Tukang Bangunan

"Ini sudah habis Rp 125 juta. Kalau (ada tambahan dana Rp 70 sampai Rp 100, bisa selesai (sampai finishing)," ungkap Supardi.

Saat ini, progres pembangunan rumah mirip bus itu diperkirakan baru mencapai 50 hingga 60 persen. Supardi pun mengaku kehabisan dana untuk melanjutkan proses finishing.

“Untuk sementara masih seperti ini, sekitar 50–60 persen. Dana sudah habis, jadi sekarang masih mencari tambahan, baik dari saya sendiri maupun kalau ada bantuan dari pihak lain,” katanya.

Banyak Didatangi Wisatawan

Meski belum selesai, rumah berbentuk bus tersebut sudah lebih dulu viral. Banyak warga dari luar daerah datang ke Dusun Tandan untuk melihat langsung bangunan unik tersebut.

Sejak ditempati pada Lebaran lalu, Supardi bilang, sudah banyak orang penasaran dan berkunjung ke rumahnya.

"Dari niat awal, bangun rumah ini supaya ada yang unik. Bisa menarik orang (wisatawan) datang ke sini. Tidak ada niat saya minta bantuan, tidak ada. Tapi kalau memang ada (yang menyumbang) ya monggo," ungkap Supardi.

Dalam perancangannya, Supardi memanfaatkan keahliannya sebagai tukang bangunan yang telah digeluti selama puluhan tahun. Ia membuat rumahnya semirip mungkin dengan armada bus, lengkap dengan detail seperti jendela di sisi kanan dan kiri.

Bangunan utama dibuat menyerupai bus tingkat dengan ukuran lebar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang sekitar 13 meter. Bagian ini difungsikan sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga, serta dilengkapi kamar kecil di lantai atas yang menyerupai mezanin.

"Ini mulai proyek Februari, saya kerjakan selama 6 minggu dengan (tenaga) 6 orang. Nah mau Lebaran selesai seperti ini. Pas Idul Fitri saya tempati sampai sekarang, cuma pekerjaan belum selesai karena dana tidak ada," ucap Supardi yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini.

Rumah berbentuk bus Agra Mas di Jatipurno Wonogiri.Muhammad Idris/Money.kompas.com Rumah berbentuk bus Agra Mas di Jatipurno Wonogiri.

Baca juga: Ada SKB 2 Menteri, Solusi Izin Lahan Rumah Subsidi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau