Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Viral Rumah Mirip Bus di Wonogiri, Pemiliknya Seorang Tukang Bangunan

Kompas.com, 24 April 2026, 07:07 WIB
Muhammad Idris

Penulis

WONOGIRI, KOMPAS.com - Ada sebuah pemandangan unik di tengah perkampungan Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri. Di tengah-tengah permukiman, berdiri bangunan yang tak lazim.

Sepintas, bentuk bangunan menyerupai bus tingkat atau bus double decker antarkota antarprovinsi (AKAP) yang sedang terparkir. Namun siapa sangka, bangunan unik itu sejatinya adalah rumah tinggal.

Video dan foto rumah dengan desain mirip bus itu belakangan viral di media sosial. Dari penelusuran KOMPAS.com, rumah unik tersebut diketahui milik seorang warga bernama Supardi, 43.

Pria yang akrab disapa Bagong atau BG ini membangun rumah di atas lahan seluas sekitar 90 meter persegi. Pembangunannya dilakukan sejak Februari 2026 atau awal puasa silam.

"Saya mau (rumahnya) beda sama yang lain. Terus yang kedua itu kalau unik, itu kan bisa mendongkrak wisata, bisa desa, bahkan kecamatan maupun kabupaten," jelas Supardi saat ditemui di kediamannya, Kamis (24/4/2026).

Baca juga: Rumah Dinas Rp 25 Miliar Disorot, Berapa Harta Properti Rudy Masud?

Supardi mengungkapkan, pembangunan rumahnya itu hanya 6 pekan saja dan kondisinya belum rampung. Namun untuk menyelesaikannya, ia mengaku sudah kehabisan dana.

Meski penyelesaian pembangunannya baru sekitar 60 persen, rumah miliknya sudah kadung viral. Banyak orang datang ke Dusun Tandan karena penasaran dengan hunian menyerupai bus AKAP itu.

"Untuk sementara keadaan masih kayak begini sekitar 50-60 persen. Untuk penyelesaian itu yang jelas belum ada dana. Dananya terkuras habis. Jadi ini masih dalam pencarian dana dulu. Entah itu saya sendiri atau bantuan dari orang lain saya juga menerima," beber Supardi.

Rumah Dibuat Mirip Dua Bus Parkir

Satu bangunan berbentuk bus double decker dirasa kurang mencukupi untuk ruang keluarganya. Karena lahannya yang terbatas, Supardi menyiasatinya dengan membangun bangunan mirip bus kecil di samping rumah utama.

Bila dilihat dari depan, sisi kanan dibuat menyerupai bus besar AKP bertingkat, sementara di sisi sayap kiri ia membangun rumah menyerupai bus ukuran medium.

Baca juga: Aturan Baru SLIK OJK Dianggap Mudahkan Korban Pinjol Punya Rumah

Sebagai tukang bangunan sekaligus pemborong yang berpengalaman selama puluhan tahun, ia mendesain dan membangun rumahnya semirip mungkin dengan tampilan armada bus PO Agra Mas.

Supardi bersama sang istri di dalam rumah utama yang berbentuk bus double decker.Muhammad Idris/properti.kompas.com Supardi bersama sang istri di dalam rumah utama yang berbentuk bus double decker.

Supardi bercerita, inspirasi bentuk rumahnya itu muncul karena dirinya dulu seringkali bolak-balik merantau ke Jakarta menggunakan PO Agra Mas.

Untuk rumah utama yang berbentuk bus double decker memiliki lebar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang sampai 13 meter.

Dilihat dari dalam, bangunan utama memiliki dua baris jenderal di kiri kanannya selayaknya pada bus tingkat, hal ini membuat ruangan tamu sangat terang dengan pencahayaan alami. 

Ventilasi udara juga sudah dipikirkan matang oleh Supardi. Rumah utama dibuat tinggi, yakni tinggi 5 meter, serta dilengkapi dengan dua pintu pada bagian depan dan belakang sebagaimana pada bus.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau