Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Properti Turun 0,4 Persen, Perempuan Investor Dominasi Pencarian Rumah

Kompas.com, 22 April 2026, 23:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor properti nasional pada pembukaan kuartal kedua 2026 menunjukkan pergerakan harga yang berbeda.

Berdasarkan data Flash Report April oleh Rumah123, harga properti nasional justru mengalami kontraksi sebesar 0,4 persen saat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) melonjak hingga 4,76 persen secara tahunan (YoY).

Disparitas sebesar 516 basis poin ini menciptakan celah nilai yang menempatkan aset hunian pada posisi harga di bawah pasar.

Baca juga: Calon Pembeli, Ketahui Perbedaan Rumah Ready Stock dan Inden

Fenomena ini segera dimanfaatkan oleh kelompok investor baru yang kini memegang kendali utama dalam pasar real estat yakni perempuan profesional.

Transformasi peran ini menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan finansial utama.

Data menunjukkan bahwa perempuan kini memimpin aktivitas pencarian properti daring dengan proporsi mencapai 52 persen hingga 58,7 persen.

Pergeseran profil investor ini menandai babak baru yang lebih inklusif. Perempuan profesional kini mendominasi pengambilan keputusan investasi aset riil dengan pendekatan yang lebih analitis.

Sejak 2021, jumlah investor perempuan meroket 148 persen dengan nilai total aset di pasar modal mencapai Rp 502,29 triliun per Februari 2025.

Baca juga: Bukan Investor, 90 Persen Apartemen Mewah di Dharmawangsa Dibeli End User

Literasi keuangan yang tinggi menjadi motor penggerak utama. Pada 2024, indeks literasi keuangan perempuan menyentuh angka 66,75 persen, melampaui kelompok laki-laki.

Dominasi ini pun terkonfirmasi pada data perbankan melalui Program Sejuta Rumah, di mana 35,5 persen akad rumah dilakukan oleh perempuan.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menjelaskan, investor perempuan saat ini memiliki metode evaluasi yang lebih ketat sebelum melakukan transaksi.

"Perempuan profesional saat ini cenderung menggunakan pendekatan berbasis data. Mereka tidak lagi hanya melihat estetika bangunan, tetapi menganalisis skor likuiditas area dan potensi imbal hasil sewa," ungkap Marisa, dikutip Kompas.com, Rabu (23/4/2026).

Baca juga: Koleksi Properti Mewah Bintang Sampul Tercantik Dunia Anne Hathaway

Preferensi instrumen mereka sangat spesifik. Sebanyak 99,8 persen investor perempuan memilih rumah tapak sebagai aset utama, dengan rentang harga Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar menjadi segmen yang paling diminati.

Tekanan Suplai dan Magnet Tangerang

Meskipun harga saat ini terkoreksi tipis, indikator fundamental pasar sebenarnya menunjukkan penguatan struktur.

Volume suplai rumah sekunder nasional merosot 7,8 persen (YoY). Defisit ketersediaan unit ini diprediksi menjadi pemicu lonjakan harga saat daya beli pulih sepenuhnya, terutama mengingat biaya konstruksi telah naik 19,97 persen.

Baca juga: Program Rumah Subsidi Juga Dirancang buat MBR yang Tak Punya Slip Gaji

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau