KOMPAS.com - Sastrawan Kenamaan Indonesia Eka Kurniawan sukes merampungkan rangkaian Moscow Book Tour 2026 yang dihelat pada 10 hingga 14 April 2026 di Moskow, Rusia.
Kehadiran Eka merupakan bagian dari partisipasi dalam ajang internasional Non/Fiction Moscow Book Fair 2026.
Sekaligus menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia di kancah Internasional.
Selama tur berlangsung, Eka Kurniawan menjalani agenda padat yang mencakup diskusi karya, temu pembaca, hingga kegiatan akademik dan diplomasi budaya.
Yang menjadi sorotan, ada sesi penandatanganan novel Cantik itu Luka edisi bahasa Rusia di booth Phantom Press pada 11 April 2026.
Antusiasme pengunjung pada sesi tersebut terlihat sangat tinggi dibuktikan dengan habisnya stok buku yang disediakan hanya dalam waktu dua jam.
Baca juga: Literasi Anak NTT Minim, Siswa Tingkat Menengah Belum Lancar Membaca
Animo yang tinggi tersebut membuktikan betapa kuatnya daya tarik sastra Indonesia.
Dalam forum Moscow Book Fair, Eka juga terlibat dalam diskusi publik soal karyanya. Ia memberikan ruang bagi pembaca internasional untuk memahami lebih jauh narasi serta latar budaya Indonesia yang menjadi ruh dalam setiap karyanya.
Kegiatan ini secara tidak langsung memperkuat posisi sastra nasional sebagai bagian dari percakapan literasi global yang diperhitungkan.
Perjalanan Eka juga mencakup sesi berbagi pengalaman penulisan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow dan kuliah umum di Universitas Negeri Moskow.
Tak lupa, ia juga menyempatkan diri menyapa langsung komunitas pembaca di toko buku Moskow.
Melalui rangkaian agenda ini, Eka tidak hanya berbagi proses kreatif, tetapi juga membangun interaksi langsung dengan audiens internasional yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, hingga pecinta buku di Rusia.
Melihat sambutan hangat tersebut, Eka Kurniawan mengungkapkan kesan mendalamnya mengenai daya tarik sastra yang menembus batas geografis.
“Melihat pembaca di Rusia menyambut karya saya dengan begitu antusias merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Sastra memiliki cara unik untuk menjembatani perbedaan budaya, dan saya senang cerita dari Indonesia bisa menemukan pembacanya di tempat yang begitu jauh,” ujarnya berdasarkan rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (29/4/2026).
Baca juga: Kartini Masa Kini dari Timur, Cerita Asti Bantu Tingkatkan Literasi di NTT
Kesuksesan kunjungan ini juga didukung oleh serangkaian wawancara dengan media setempat yang semakin memperluas jangkauan publikasi pemikiran Eka di tingkat internasional.