Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Syafbrani ZA
Penulis dan Konsultan Publikasi

Konsultan publikasi yang juga penulis buku diantaranya UN, The End..., Suara Guru Suara Tuhan. Bergiat pada Persekutuan Ayah Peduli Pengasuhan Anak Indonesia (PAPPA.ID)

Ketika Anak Bercita-cita Jadi Guru, Masihkah Kita Setuju?

Kompas.com, 26 Mei 2023, 15:26 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sementara senior-senior mereka yang baru dan telah lama lulus kuliah saja masih berebut kursi untuk menjadi seorang guru.

Menurut catatan pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) jumlah mahasiswa bidang studi pendidikan menjadi pemuncak dibanding jumlah mahasiswa bidang lainnya. Lebih dari 20 persen porsinya atau tepatnya terdapat 1.371.105 mahasiswa bidang pendidikan.

Korupsi dan dilema kesejahteraan

Selain menuntaskan tiga PR besar tadi, satu lagi persoalan besar dan mendasar adalah terkait hadirnya perangai korupsi.

Kita pasti sepakat, andai perilaku korupsi itu tiada mampir di negeri ini, tentulah kita tidak perlu banyak skema dalam mencari formula yang tepat untuk mensejahterakan para guru dan pendidik pada umumnya.

Barangkali, di tengah upaya berjuang meraih kesejahteraannya, guru juga harus berjuang untuk memperkuat kompetensi akademik siswa yang disertai dengan menumbuhkan jiwa antikorupsi sejak dini.

Selain itu diperlukan juga upaya memperkuat semangat untuk mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi/kelompok.

Apapun status kepegawaiannya, para guru harus terus berkolaborasi untuk memusnahkan bahaya laten ini. Jangan sampai kasus korupsi juga bersarang di balik sucinya tembok-tembok sekolah. Jangan sampai kisah-kisah ketidakjujuran justru bermula dari sini.

Ketika korupsi masih sulit diberantas secara totalitas, episode perjuangan guru meraih kesejahteraan akan terus bergulir tiada akhir.

Bahkan uang yang sudah tersedia pun, kadang masih sulit untuk sampai ke tangan mereka yang telah berdedikasi itu.

Pada akhirnya, di tengah kondisi yang demikian, ketika anak-anak di usia dininya telah mendeklarasikan untuk bercita-cita menjadi guru, sebagai orangtua masihkah kita benar-benar setuju? Kemudian, sejak dini pula mempersiapkan mereka untuk menjadi guru?

Pastinya, di tengah kondisi yang demikian. Guru tetaplah harus menjadi bagian dari kunci utama pembangunan bangsa.

Guru haruslah tetap menjadi teladan dalam menumbuhkan integritas diri anak-anak didiknya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau