Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Surabaya Hangatkan Tradisi Minuman Rempah di Tengah Tren Kopi Kekinian

Kompas.com, 29 Mei 2026, 08:13 WIB
Suci Rahayu,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Di tengah menjamurnya kopi kekinian dan minuman modern di Surabaya, Jawa Timur, aroma jahe dan rempah-rempah ternyata masih mampu menarik perhatian banyak orang.

Bukan hanya kalangan orang tua, minuman tradisional kini mulai kembali dilirik anak muda berkat sentuhan konsep yang lebih modern dan dekat dengan gaya hidup masa kini.

Salah satunya hadir melalui Dawa Minuman Rempah yang berada di kawasan Jalan Kedungdoro. Gerai ini mengusung konsep kaki lima dengan nuansa tradisional, namun dikemas lebih modern dalam penyajiannya.

Baca juga: Cerita Peneliti BRIN Temukan Lukisan Cap Tangan Tertua Dunia Berusia 67.800 Tahun

Trainer Dawa Minuman Rempah, M Afrisal, menjelaskan bahwa konsep tersebut memang sengaja dibuat agar minuman rempah lebih mudah diterima berbagai kalangan.

“Ini sistemnya franchise jadi ada 10 cabang di surabaya. Untuk bahan-bahan sudah ada pengiriman dari pusat,” kata pria yang biasa disapa Risal itu kepada Kompas.com.

“Ini menjual minuman rempah yang Konsepnya memang dibuat kaki lima di mix modern dalam penyajiannya. Dengan gelas pres dan untuk minumnya pakai sloki,” imbuhnya.

Jahe menjadi bahan dasar Dawa Minuman Rempah yang terletak di kawasan Jalan Kedungdoro, Surabaya dengan mengusung konsep kaki lima bernuansa tradisional, namun dikemas lebih modern dalam penyajiannya.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Jahe menjadi bahan dasar Dawa Minuman Rempah yang terletak di kawasan Jalan Kedungdoro, Surabaya dengan mengusung konsep kaki lima bernuansa tradisional, namun dikemas lebih modern dalam penyajiannya.

Meski tampil lebih modern, proses pembuatannya tetap mempertahankan cara tradisional, yaitu ditumbuk secara manual. Sehingga membuat minuman rempah terasa lebih akrab bagi anak muda tanpa menghilangkan cita rasa khas wedang tradisional.

“Setelah itu dimasukkan gelas lalu diberi gula aren dsb. Pengemasan dan penyuguhannya yang modern,” katanya lagi.

Menyasar Semua Kalangan, Susu Rempah Madu Jadi Primadona

Menurut pria asli Surabaya itu, pelanggan minuman rempah saat ini memang masih didominasi usia dewasa dan pekerja. Namun perlahan, anak muda mulai ikut menikmati racikan tradisional tersebut.

Gerai ini menawarkan sekitar 13 varian menu. Hampir seluruhnya menggunakan bahan dasar jahe, rempah-rempah, gula aren, madu, dan sereh.

“Semua menu minuman ini ada khasiatnya dan dijelaskan pada buku menu secara rinci,” ucap M Afrisal.

Baca juga: H+1 Idul Adha 2026, Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup

Dimana dari seluruh menu yang tersedia, susu rempah madu menjadi minuman paling banyak dicari pelanggan. Menu ini dianggap cocok bagi penikmat STMJ yang tidak menyukai campuran telur.

“Jadi kadang ada yang beli stmj tapi ga pakai telor kita arahkan ke minuman tersebut jadi rasa susunya lebih terasa,” sambungnya.

Suasana Dawa Minuman Rempah di kawasan Jalan Kedungdoro, Surabaya yang mengusung konsep kaki lima dengan nuansa tradisional, namun dikemas lebih modern dalam penyajiannya.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Suasana Dawa Minuman Rempah di kawasan Jalan Kedungdoro, Surabaya yang mengusung konsep kaki lima dengan nuansa tradisional, namun dikemas lebih modern dalam penyajiannya.

Sementara itu untuk pelanggan berusia di atas 40 tahun biasanya lebih memilih menu original yang memiliki rasa rempah lebih kuat tanpa campuran susu.

“Untuk menu standart ya Rempah Original itu cuma jahe, rempah, gula aren.madu, sereh saja tanpa ada tambahan lemon dan temulawak. Jadi kaya wedang jahe hanya ketambahan rempah saja,” ujar pria berusia 33 tahun itu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Travel News
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau