Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Lagi Soal Banyak Destinasi, Pelancong Kini Lebih Cari Pengalaman Wisata

Kompas.com, 24 April 2026, 07:00 WIB
Krisda Tiofani,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dulu, pelancong berlomba-lomba mengunjungi sebanyak mungkin destinasi wisata dalam satu perjalanan. Saat ini, trennya perlahan berubah.

Banyak wisatawan kini lebih memilih pengalaman berkesan selaras dengan minat dan preferensi pribadi.

"Jadi lebih mencari value ya. Bukan hanya sekedar banyaknya tempat dan sebagainya," kata Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel, Kitty Chandra, dalam pertemuan media bertajuk Wisata dan Wanita di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: 5 Wisata Pantai di Gunungkidul Jogja untuk Wisata Keluarga Seru

Berdasarkan studi McKinsey yang disampaikan Kitty, lebih dari 70 persen pelancong di dunia lebih memprioritaskan pengalaman, alih-alih barang atau destinasinya.

Sebagai agen perjalanan global, Kitty mengungkapkan bahwa permintaan perjalanan yang bersifat personal memang semakin meningkat.

"Jadi kalau dulu traveler itu misalnya satu tahun beberapa kali (bepergian) gitu ya, sekarang mereka lebih terencana, lebih (mencari) maknanya, tujuan untuk menjalankan traveling itu untuk apa?," ungkap Kitty.

Baca juga: Wisata Pengalaman Jadi Tren, Begini Cara Liburan Biar Untung

Kitty Chandra sebagai VP Business Development Golden Rama Tours & Travel dalam pertemuan media bertajuk Wanita dan Wisata di Jakarta, Selasa (21/4/2026).Kompas.com/Krisda Tiofani Kitty Chandra sebagai VP Business Development Golden Rama Tours & Travel dalam pertemuan media bertajuk Wanita dan Wisata di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Destinasi yang dipilih bisa jadi tetap sama. Misalnya, Kitty mencontohkan, pelancong tetap memilih Jepang atau Korea sebagai tujuan berlibur ke luar negeri.

Namun, kebanyakan di antaranya tidak terburu-buru mengeksplorasi dari satu kota ke kota lainnya di negara tersebut.

Melainkan mencari lebih banyak daya tarik di satu destinasi, yang tadinya belum pernah dikunjungi.

Baca juga: Tren Wisata 2026: Wisatawan Kembali ke Destinasi Lama, Tak Sekadar Mengejar Viral

Tren wisata berubah sejak pandemi

Menurut Kitty, perubahan tren wisata ini sudah mulai terlihat sejak pandemi Covid-19 mereda beberapa tahun lalu.

Ilustrasi wisata di JepangShutterstock Ilustrasi wisata di Jepang

Pasca-pandemi, tren perjalanan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dalam konteks lebih personal, aktivitas traveling kini tidak sekedar menjadi ajang berlibur, tapi juga sarana untuk menemukan jati.

Hasil studi global yang disampaikan Kitty, lebih dari 60 persen pelancong di dunia ingin melakukan perjalanan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi.

Baca juga: Tren Dark Tourism, Wisata Kontroversial yang Kian Diminati

Sejak gerbang perjalanan internasional dibuka setelah pandemi, aktivitas wisata meningkat sebesar 20 persen untuk domestik dan 14 persen untuk internasional pada 2024.

"Di 2025 sendiri, secara global ada peningkatan, tapi lebih stabil. Internasional dan domestik itu sekitar tujuh persen," kata Kitty.

Adapun berdasarkan data internal Golden Rama Tours & Travel menunjukkan peningkatan perjalanan lebih dari 20 persen pada paruh pertama tahun 2026.

Baca juga: Tren Wisata 2026: Wellness, Kuliner Lokal, dan Alam Jadi Favorit

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Travel News
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau