KOMPAS.com - Batik Air Malaysia mengurangi sekitar 35 persen penerbangan terjadwal pada paruh pertama April 2026.
Hal tersebut merupakan respons terhadap lonjakan harga bahan bakar (avtur) dan gangguan rantai pasok global akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran.
Baca juga:
Batik Air Malaysia mengurangi sekitar 35 persen penerbangan terjadwal pada paruh pertama April 2026 akibat konflik AS-Israel lawan Iran.Keputusan tersebut disampaikan CEO Batik Air Malaysia, Datuk Chandran Rama Muthy melalui memo internal pada Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, langkah ini menjadi upaya pencegahan untuk mengelola sumber daya di tengah kondisi industri yang tidak menentu.
"Industri penerbangan saat ini menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perkembangan ini telah menyebabkan fluktuasi harga bahan bakar yang ekstrem dan mengganggu rantai pasokan global," kata Chandran dalam memo tersebut, dilansir dari The Edge Malaysia, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan data S&P Global Platts, harga bahan bakar jet global hampir berlipat ganda sejak akhir Februari 2026, dengan rata-rata mencapai 195,19 dollar AS (sekitar Rp 3,32 juta) per barel pada pekan yang berakhir pada Jumat (27/3/2026), atau naik 104 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan tajam ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai penerbangan di seluruh dunia.
Muthy menjelaskan, pengurangan kapasitas sebesar 35 persen akan berlangsung hingga Minggu (12/4/2206), setelah itu perusahaan akan mengevaluasi kembali situasi.
Ia menegaskan bahwa langkah ini lebih difokuskan pada pengurangan frekuensi penerbangan, bukan penghentian rute secara total.
"Kami mengambil pendekatan hati-hati untuk memastikan dampak minimal pada operasional kami. Misalnya, alih-alih mengoperasikan tiga penerbangan, kami mungkin akan menguranginya menjadi dua," jelas Muthy.
"Meskipun frekuensi pada rute tertentu akan disesuaikan, destinasi yang saat ini kami layani akan tetap tidak berubah," tambah dia.
Sebagai contoh, rute Kuala Lumpur–Penang dikurangi dari lima penerbangan harian menjadi dua, sedangkan rute Kuala Lumpur–Kota Kinabalu dipangkas dari tiga menjadi dua penerbangan per hari.
Pengurangan serupa juga dilakukan pada rute jarak jauh seperti Kuala Lumpur–Kathmandu dan Kuala Lumpur–Perth untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Baca juga:
Batik Air Malaysia mengurangi sekitar 35 persen penerbangan terjadwal pada paruh pertama April 2026 akibat konflik AS-Israel lawan Iran.Selain penyesuaian jadwal, Batik Air Malaysia juga membuka program cuti tanpa bayaran secara sukarela bagi karyawan, dengan pendaftaran hingga Jumat (3/4/2026) dan masa cuti dimulai Senin (6/4/2026).
Maskapai penerbangan ini diketahui mempekerjakan sekitar 3.500 karyawan.
Sejumlah langkah efisiensi lain turut diterapkan, seperti pembekuan perjalanan dinas yang tidak mendesak serta penundaan program pelatihan yang tidak berkaitan langsung dengan keselamatan atau regulasi.
Di tengah kondisi ini, beberapa rencana ekspansi tetap berjalan, meskipun berpotensi mengalami penundaan.
Batik Air Malaysia sebelumnya telah membuka rute Kuala Lumpur–Colombo dan berencana meluncurkan penerbangan ke Shanghai pada Juni 2026 mendatang.
Muthy mengakui, penerapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) belum sepenuhnya mampu menutup lonjakan biaya.
Saat ini, porsi biaya bahan bakar dalam operasional maskapai meningkat dari sebelumnya sekitar 30–35 persen menjadi 50–55 persen.