GitLab PHK Karyawan, Anggaran Dialihkan untuk Kembangkan AI

Kompas.com, 20 Mei 2026, 15:35 WIB
Marsha Bremanda,
Soffya Ranti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan pengembang perangkat lunak GitLab dikabarkan tengah melakukan restrukturisasi bisnis dan berencana memangkas sejumlah karyawannya melalui kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk bertransformasi menjadi platform utama dalam pengembangan perangkat lunak di era kecerdasan buatan (AI).

Kendati demikian, pihak manajemen GitLab menegaskan bahwa langkah pengurangan karyawan tersebut tidak semata didorong oleh alasan efisiensi biaya operasional.

CEO GitLab, Bill Staples, menyatakan bahwa restrukturisasi yang dijalankan perusahaannya tidak sama dengan tren PHK berbasis AI yang tengah marak terjadi di industri teknologi belakangan ini.

"Proses restrukturisasi ini tidak seperti yang mungkin Anda lihat di berita. AI memang mengubah cara kita bekerja dan menjadi bagian dari transformasi, tetapi ini bukan upaya optimasi AI atau pengurangan biaya," ujar Staples dalam pernyataan resminya.

Ia menambahkan, anggaran yang berhasil dihemat dari pengurangan tenaga kerja nantinya akan dialokasikan untuk mendukung pengembangan bisnis. Investasi tersebut akan difokuskan pada penguatan infrastruktur serta teknologi berbasis AI.

Baca juga: ChatGPT Dianggap Pelopor Gelombang PHK, Ini Janji Manis Bos OpenAI

Fokus transformasi GitLab

Dalam roadmap transformasinya, GitLab menyiapkan beberapa prioritas pengembangan. Sejumlah fokus tersebut mencakup API khusus agen AI, pembaruan pada sistem CI/CD, model data berbasis konteks, tata kelola, hingga dukungan terhadap beban kerja yang melibatkan manusia maupun agen AI secara otonom.

Mengutip laporan dari The Register, GitLab turut membuka opsi PHK "sukarela" dan secara bersamaan menyederhanakan struktur organisasinya.

Perusahaan menilai struktur manajemen yang berjalan saat ini terlalu rumit, dengan delapan lapisan organisasi yang dianggap menghambat proses pengambilan keputusan.

"Kami merampingkan organisasi karena lapisan manajemen yang terlalu dalam memperlambat kami," tutur Staples.

Selain itu, GitLab juga berencana mengurangi cakupan operasional globalnya. Perusahaan akan memangkas jumlah negara yang menjadi lokasi tim kecil hingga sebesar 30 persen. Saat ini, GitLab tercatat beroperasi di sekitar 60 negara di seluruh dunia.

Manajemen juga menginstruksikan para manajer untuk berbicara secara langsung dengan masing-masing karyawan terkait peran mereka ke depan.

Diskusi ini mencakup kemungkinan karyawan tetap melanjutkan pekerjaan atau memilih keluar dari perusahaan. Meski begitu, sampai saat ini belum ada kriteria resmi yang ditetapkan terkait siapa saja karyawan yang akan terdampak oleh kebijakan tersebut.

Jumlah karyawan terdampak belum diumumkan

Hingga kini, jumlah pasti karyawan yang akan terkena dampak PHK belum diungkapkan oleh manajemen. GitLab menyebutkan bahwa rincian lengkap akan disampaikan bersamaan dengan laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 pada 2 Juni mendatang.

Berdasarkan data dari perusahaan analitik Unify, GitLab diperkirakan saat ini memiliki sekitar 1.800 karyawan, dengan mayoritas berlokasi di luar wilayah Amerika Serikat.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau