JAKARTA, KOMPAS.com – Menyerobot antrean jalan tol lewat bahu jalan, masuk ke koridor busway, hingga aksi nekat melawan arah di perlintasan kereta api adalah potret harian jalanan kita.
Di luar kota, ada lagi fenomena ngeblong atau aksi kendaraan yang nekat memotong lajur berlawanan demi menghindari antrean.
Pertanyaannya, mengapa pengendara di Indonesia seolah punya bakat alami untuk tidak disiplin dan sulit sekali diajak tertib?
Apakah ini memang sudah menjadi karakter bawaan, atau ada faktor lain yang membentuk ekosistem egois ini?
Baca juga: Jalan Lenteng Agung Ambles Bikin Macet, Metode Zipper Jadi Solusi
Satlantas Polres Bogor sedang memberlakukan sistem one way dari arah Jakarta menuju Puncak di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/5/2026).Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa pangkal masalahnya bukanlah genetik, melainkan absennya rasa empati dan pemahaman berlalu lintas yang benar.
"Masyarakat kita tidak memperhatikan masalah empati. Kedua, karena ketidakpahaman dalam hal berlalu lintas. Ini yang mempersulit keadaan," ujar Jusri kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Menurut Jusri, di negara maju, ketertiban bisa tercipta secara mandiri tanpa perlu dijaga ketat oleh aparat penegak hukum karena landasannya adalah tenggang rasa.
"Di luar negeri atau negara-negara maju, kekuatannya adalah empati untuk menghindari bottleneck. Itu tidak ada masalah. Tanpa petugas pun mereka akan melakukan teknik berkendara yang tertib," katanya.
Baca juga: Kekuatan Hukum SIM Digital Setara SIM Fisik, Begini Cara Membuatnya
Menariknya, orang Indonesia sebenarnya terbukti bisa sangat disiplin jika ditempatkan di ekosistem yang tepat. Jusri mencontohkan fenomena yang menggelitik saat mengamati perilaku warga kita ketika bepergian ke Singapura.
Saat berada di Bandara Changi, orang Indonesia bisa mendadak sangat patuh pada aturan. Mereka mengantre dengan rapi dan menggunakan eskalator dengan benar. Namun, pemandangan kontras langsung terjadi begitu mereka mendarat kembali di tanah air.
Pemotor putar balik dan melawan arah di atas flyover Pesing, Jakarta Barat saat melihat adanya petugas gabungan polisi dan Sudinhub Jakbar melakukan operasi penilangan di off ramp flyover Pesing, Selasa (26/5/2026)"Orang yang sama menuju Jakarta, begitu sampai di Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta), kan ada tangga-tangga yang bergerak juga. Itu sudah amburadul. Kita lihat orang yang sama gitu," kata Jusri.
Jawabannya ada pada ketegasan sistem hukum. Di Singapura, aturan ditegakkan tanpa pandang bulu dengan sanksi yang berat. Sementara di Indonesia, peraturan sering kali dipandang sebagai sesuatu yang elastis dan bisa dinegosiasikan.
"Nah, orang Indonesia kalau di sini berpikir 'ah gampang, telepon abang gue, telepon om gue, telepon kenalan gue', mundur semuanya. Jadi agak sulit nih," ungkap Jusri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang