Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Pengendara di Indonesia Masih Sulit Tertib di Jalan?

Kompas.com, 30 Mei 2026, 12:22 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Menyerobot antrean jalan tol lewat bahu jalan, masuk ke koridor busway, hingga aksi nekat melawan arah di perlintasan kereta api adalah potret harian jalanan kita.

Di luar kota, ada lagi fenomena ngeblong atau aksi kendaraan yang nekat memotong lajur berlawanan demi menghindari antrean.

Pertanyaannya, mengapa pengendara di Indonesia seolah punya bakat alami untuk tidak disiplin dan sulit sekali diajak tertib?

Apakah ini memang sudah menjadi karakter bawaan, atau ada faktor lain yang membentuk ekosistem egois ini?

Baca juga: Jalan Lenteng Agung Ambles Bikin Macet, Metode Zipper Jadi Solusi

Satlantas Polres Bogor sedang memberlakukan sistem one way dari arah Jakarta menuju Puncak di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/5/2026).KOMPAS.com/PUTRA RAMADHANI ASTYAWAN KONTRIBUTOR BOGOR Satlantas Polres Bogor sedang memberlakukan sistem one way dari arah Jakarta menuju Puncak di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/5/2026).

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa pangkal masalahnya bukanlah genetik, melainkan absennya rasa empati dan pemahaman berlalu lintas yang benar.

"Masyarakat kita tidak memperhatikan masalah empati. Kedua, karena ketidakpahaman dalam hal berlalu lintas. Ini yang mempersulit keadaan," ujar Jusri kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).

Menurut Jusri, di negara maju, ketertiban bisa tercipta secara mandiri tanpa perlu dijaga ketat oleh aparat penegak hukum karena landasannya adalah tenggang rasa.

"Di luar negeri atau negara-negara maju, kekuatannya adalah empati untuk menghindari bottleneck. Itu tidak ada masalah. Tanpa petugas pun mereka akan melakukan teknik berkendara yang tertib," katanya.

Baca juga: Kekuatan Hukum SIM Digital Setara SIM Fisik, Begini Cara Membuatnya

Menariknya, orang Indonesia sebenarnya terbukti bisa sangat disiplin jika ditempatkan di ekosistem yang tepat. Jusri mencontohkan fenomena yang menggelitik saat mengamati perilaku warga kita ketika bepergian ke Singapura.

Saat berada di Bandara Changi, orang Indonesia bisa mendadak sangat patuh pada aturan. Mereka mengantre dengan rapi dan menggunakan eskalator dengan benar. Namun, pemandangan kontras langsung terjadi begitu mereka mendarat kembali di tanah air.

Pemotor putar balik dan melawan arah di atas flyover Pesing, Jakarta Barat saat melihat adanya petugas gabungan polisi dan Sudinhub Jakbar melakukan operasi penilangan di off ramp flyover Pesing, Selasa (26/5/2026)KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Pemotor putar balik dan melawan arah di atas flyover Pesing, Jakarta Barat saat melihat adanya petugas gabungan polisi dan Sudinhub Jakbar melakukan operasi penilangan di off ramp flyover Pesing, Selasa (26/5/2026)

"Orang yang sama menuju Jakarta, begitu sampai di Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta), kan ada tangga-tangga yang bergerak juga. Itu sudah amburadul. Kita lihat orang yang sama gitu," kata Jusri.

Jawabannya ada pada ketegasan sistem hukum. Di Singapura, aturan ditegakkan tanpa pandang bulu dengan sanksi yang berat. Sementara di Indonesia, peraturan sering kali dipandang sebagai sesuatu yang elastis dan bisa dinegosiasikan.

"Nah, orang Indonesia kalau di sini berpikir 'ah gampang, telepon abang gue, telepon om gue, telepon kenalan gue', mundur semuanya. Jadi agak sulit nih," ungkap Jusri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau