Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebiasaan Buruk yang Bikin Mobil RWD Cepat Rusak

Kompas.com, 30 Mei 2026, 09:02 WIB
Selma Aulia,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

SOLO, KOMPAS.com - Sistem penggerak roda belakang atau rear wheel drive (RWD) masih banyak digunakan karena dikenal kuat saat membawa beban dan lebih andal di tanjakan.

Namun, banyak pemilik kendaraan belum memahami bahwa mobil RWD juga memiliki batas kemampuan, terutama jika sering dipakai mengangkut muatan berlebih.

Penggunaan mobil RWD secara berlebihan tanpa memperhatikan kapasitas angkut bisa memicu kerusakan pada komponen penggerak.

Muchlis, pemilik bengkel spesialis Toyota-Mitsubishi Garasi Auto Service Sukoharjo, mengatakan mobil dengan sistem penggerak roda belakang atau RWD seharusnya bisa awet jika diperlakukan dengan baik, terutama dengan memperhatikan kapasitas muatan dan perawatan rutin.

Baca juga: iCAR V23 Punya 3 Varian, Ini Perbedaanya

“Mobil dengan muatan berlebihan dapat menyiksa komponen, khususnya pada mobil RWD, seperti yang diketahui mobil ini ditunjang dengan beberapa poros cukup panjang, seperti propeller shaft, dan drive shaft,” ucap Muchlis kepada Kompas.com, baru-baru ini.

Ilustrasi perbedaan FWD, RWD, dan AWD.istimewa Ilustrasi perbedaan FWD, RWD, dan AWD.

Menurut Muchlis, gaya puntir pada mobil RWD yang membawa muatan berlebih akan sangat tinggi. Kondisi ini membuat poros-poros penggerak bekerja lebih berat dan berisiko patah.

“Gambarannya, ketika beban berat maka poros yang dekat dengan roda penggerak akan tertahan oleh beban. Sementara di ujung poros berdekatan dengan transmisi akan memuntir karena meneruskan daya putar mesin,” ucap Muchlis.

Meski tidak langsung membuat poros patah, komponen yang terus menerima gaya puntir besar secara berulang cenderung lebih cepat mengalami kerusakan.

"Kebanyakan sistem RWD disematkan pada mobil-mobil niaga, biasanya muatannya berlebih padahal ini kebiasaan tidak baik,” ucap Muchlis.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Busi Iridium Bikin BBM Lebih Irit?


Selain memperhatikan kapasitas angkut, Muchlis menjelaskan sistem RWD juga membutuhkan perawatan rutin agar komponen tetap awet dan performanya terjaga.

“Pada mobil RWD ada waktunya ganti oli gardan yang seharusnya dilakukan tiap 40.000 Km atau 2 tahun, tujuannya untuk memastikan komponen terlumasi dengan baik dan mencegah keausan,” ucap Muchlis.

Dengan penggunaan yang tepat dan perawatan sesuai jadwal, komponen penggerak seperti gardan, propeller shaft, dan drive shaft dapat lebih awet serta terhindar dari risiko kerusakan serius.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau