JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot kian melemah di awal perdagangan Jumat (29/5/2026).
Pada pukul 09.57 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat (AS).
Rupiah dibuka melemah bersama sejumlah mata uang Asia lainnya pada perdagangan pagi ini.
Baca juga: Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...
Ilustrasi rupiah. Sementara itu, won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam terhadap dollar AS dengan penurunan sebesar 0,51 persen.
Selanjutnya, dollar Singapura terkoreksi 0,05 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, dan dollar Hong Kong turun 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dollar AS.
Peso Filipina memimpin penguatan dengan kenaikan 0,29 persen, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,27 persen.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan
Baht Thailand menguat 0,24 persen, dollar Taiwan naik 0,23 persen, sementara yuan China menguat 0,06 persen terhadap dollar AS.
Sementara itu, indeks dollar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dollar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, berada di level 99,03.
Posisi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level 99,02.
Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh area di atas Rp 17.800 per dollar AS masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Impor hingga Perbankan Siap-siap Tertekan pada Semester II-2026
Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar ASMenurutnya, pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap IHSG, meski sifatnya lebih cenderung jangka pendek.
Namun demikian, tekanan yang muncul tetap berada pada area moderat hingga cukup besar sehingga membuat IHSG menjadi relatif fluktuatif.
Kondisi tersebut juga diperparah oleh potensi arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar saham domestik.
“Jadi tentunya ini bisa menyebabkan terjadi tekanan terhadap IHSG, tapi sifatnya jangka pendek. Dan tekanan tersebut memang bisa cukup besar hingga moderat, di mana pergerakan indeks akan relatif fluktuatif. Belum lagi juga ada outflow sama asing,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam.
Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?