Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Selama lebih dari 20 tahun tinggal dan bekerja di Indonesia, Eric Nemitz melihat perubahan besar pada cara generasi muda memandang hidup, karier, dan masa depan.
Anak muda kini tumbuh di tengah dunia yang bergerak cepat. Mereka dituntut sukses lebih dini, memiliki penghasilan besar lebih cepat, dan tampil berhasil bahkan sebelum benar-benar memahami tantangan kehidupan yang mereka hadapi.
Di tengah perubahan itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Sompo Insurance Indonesia tersebut justru melihat satu hal yang sering terlupakan: banyak orang terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa melindungi dirinya sendiri.
“Kadang orang berpikir nama di kartu nama adalah tujuan. Padahal kemampuan dan pengalaman yang akan mengikuti kita sepanjang hidup,” ujarnya kepada Kompas.com, dalam sebuah wawancara khusus.
Cara pandang Eric terhadap generasi muda terasa berbeda dibanding stigma yang kerap muncul soal milenial atau generasi Z.
Ia tidak melihat anak muda sebagai generasi yang abai terhadap masa depan. Menurut dia, setiap orang hanya sedang berada dalam fase hidup yang berbeda.
Saat masih muda, fokus seseorang biasanya tertuju pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman baru, hingga pencapaian pribadi. Hal yang sama juga pernah ia alami.
“Asuransi bukan hal pertama yang saya pikirkan ketika masih muda,” katanya.
Namun seiring bertambahnya usia, tanggung jawab hidup perlahan ikut berubah. Ketika seseorang mulai memiliki keluarga, rumah, kendaraan, atau menjadi penopang ekonomi keluarga, cara memandang masa depan juga ikut berubah.
Di titik itu, menurut Eric, perlindungan bukan lagi soal pilihan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab hidup.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Beban Generasi Sandwich Membesar
Eric melihat tekanan hidup generasi muda Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.
Banyak anak muda bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga harus menopang kebutuhan orangtua sambil membangun masa depan mereka sendiri. Fenomena generasi sandwich menjadi sesuatu yang nyata.
Namun di tengah tekanan tersebut, Eric percaya menjaga diri sendiri tetap harus menjadi prioritas utama.
Ia lalu mengibaratkannya dengan instruksi keselamatan di pesawat: pasang masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.
“Kalau saya tidak menjaga diri sendiri, saya juga tidak bisa membantu keluarga saya,” ujarnya.