Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan transisi energi di sektor batu bara dinilai jauh lebih kompleks dibanding sektor industri lainnya.
Selain harus memenuhi tuntutan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan, industri batu bara juga masih dibebani tanggung jawab menjaga ketahanan energi nasional serta menghadapi biaya operasional yang terus meningkat.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bidang ESG & Good Mining Practice, Ignatius Wurwanto, menyebut kondisi tersebut sebagai “trilema” dalam penerapan ESG di sektor batu bara.
Baca juga: Ekspor CPO, Batu Bara, dan Feronikel Lewat DSI Berlaku Penuh Mulai 2027
Ilustrasi ESG“Kalau bicara batu bara, ini bukan lagi dilema, tapi trilema. Ada kebutuhan menjaga ketahanan energi, ada tuntutan lingkungan, dan ada biaya yang harus ditanggung,” kata Wurwanto dalam keterangannya pada Focus Group Discussion (FGD) Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia, dikutip pada Selasa (26/5/2026).
Menurut dia, terdapat tiga tantangan yang harus dijalankan secara bersamaan oleh industri batu bara.
Pertama, menjaga ketahanan energi agar kebutuhan energi saat ini dan masa depan tetap tersedia.
Kedua, menjalankan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan untuk mencegah dampak perubahan iklim.
Baca juga: Purbaya Bongkar Under Invoicing CPO-Batu Bara, Jadi Dasar PT DSI Awasi Ekspor SDA
Ketiga, memastikan aspek ekonomi tetap berjalan seimbang sehingga penyediaan energi berbasis sumber daya alam dapat dilakukan dengan biaya terjangkau.
Wurwanto menilai implementasi ESG di sektor tambang tidak bisa disamakan dengan industri lain karena kompleksitas operasional dan regulasi yang dihadapi jauh lebih besar.
Perusahaan tambang harus memenuhi berbagai aturan teknis, lingkungan, keselamatan kerja, hingga pengembangan masyarakat yang seluruhnya membutuhkan biaya besar.
Ilustrasi batu bara, pertambangan batu bara.“Masih banyak yang memandang ESG sebagai program atau compliance, padahal seharusnya berbasis risiko dan peluang,” ujar dia.
Baca juga: Mendag: Pungutan Ekspor Sawit-Batu Bara Ditanggung PT DSI
APBI mencatat saat ini terdapat 93 anggota perusahaan tambang batu bara aktif yang menyumbang sekitar 66 persen produksi batu bara nasional.
Namun, dari total hampir 960 perusahaan tambang batu bara di Indonesia, tingkat pemahaman terhadap ESG dinilai masih sangat beragam.
Untuk mendorong implementasi ESG, APBI menggunakan pendekatan Good Mining Practice (GMP) melalui penguatan praktik operasional seperti konservasi, perlindungan lingkungan, keselamatan pertambangan, dan standarisasi teknis.
Di sisi lain, ketidakpastian regulasi juga disebut menjadi tantangan serius bagi implementasi ESG di industri batu bara.