Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Nur Rianto
Dosen dan Peneliti

Al Arif merupakan dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia

Menguji Ketangguhan Perbankan Syariah di Tengah Ketidakpastian Global

Kompas.com, 13 Mei 2026, 14:25 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Selain itu, larangan spekulasi (gharar) dan riba membuat eksposur terhadap instrumen keuangan berisiko tinggi relatif lebih rendah.

Dalam praktiknya, ketahanan ini tercermin dari pertumbuhan aset yang tetap positif di tengah tekanan global.

Bahkan, otoritas mencatat bahwa pertumbuhan perbankan syariah terjadi “di tengah ketidakpastian global” dan tetap menunjukkan peluang besar dalam mendukung ekonomi domestik.

Namun, ketahanan ini tidak boleh dimaknai sebagai imunitas absolut. Perbankan syariah tetap terhubung dengan sistem ekonomi global, terutama melalui sektor riil. Ketika sektor riil tertekan, maka pembiayaan syariah pun ikut terdampak.

Salah satu kekuatan utama perbankan syariah terletak pada fokusnya terhadap sektor riil. Pembiayaan berbasis akad seperti murabahah, musyarakah, dan mudharabah mendorong keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi produktif.

Namun di sisi lain, struktur pembiayaan ini juga menghadirkan tantangan. Dominasi akad murabahah (jual beli) yang relatif “tingkat pengembalian pasti” membuat perbankan syariah belum sepenuhnya mencerminkan prinsip risk-sharing.

Baca juga: Cacat Logika Wacana Alih Status PPPK ke PNS

Sementara itu, akad berbasis bagi hasil yang lebih ideal justru masih memiliki porsi yang terbatas karena risiko yang lebih tinggi dan kompleksitas monitoring.

Dalam konteks ketidakpastian global, struktur ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, keterkaitan dengan sektor riil membuat perbankan syariah lebih “membumi” dan tidak terlalu terekspos pada volatilitas pasar keuangan global.

Namun di sisi lain, ketika sektor riil melemah, risiko pembiayaan bermasalah (NPF) berpotensi meningkat.

Masalah klasik yang masih membayangi perbankan syariah adalah kesenjangan antara literasi dan inklusi. Survei terbaru menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan syariah sudah mencapai sekitar 43 persen, tapi tingkat inklusinya baru sekitar 13 persen.

Hal ini berarti, masyarakat sebenarnya sudah cukup memahami konsep keuangan syariah, tetapi belum banyak yang benar-benar menggunakan layanan perbankan syariah.

Faktor penyebabnya beragam, mulai dari keterbatasan jaringan, kurangnya inovasi produk, hingga persepsi bahwa layanan syariah kurang kompetitif dibandingkan dengan layanan konvensional.

Dalam situasi global yang tidak pasti, inklusi menjadi kunci. Semakin luas basis nasabah, semakin kuat pula daya tahan perbankan terhadap guncangan. Tanpa ekspansi inklusi, pertumbuhan perbankan syariah akan cenderung stagnan.

Transformasi digital menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan daya saing perbankan syariah.

Kolaborasi dengan fintech, pengembangan mobile banking, hingga integrasi dengan ekosistem halal menjadi langkah yang terus didorong.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau