Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jam Kerja Panjang, Cuti Minim: Ini 20 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk

Kompas.com, 1 Mei 2026, 13:38 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber AOL

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren bekerja tanpa henti hingga larut malam kini mulai ditinggalkan. Di abad ke-21, keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan atau work-life balance menjadi indikator penting kesejahteraan pekerja.

Namun, tidak semua negara mampu mencapainya. Laporan Global Life-Work Balance Index 2025 yang dirilis Remote.com menunjukkan masih banyak negara dengan kualitas keseimbangan hidup yang rendah, bahkan di ekonomi besar dunia.

Dalam studi tersebut, Remote.com menganalisis 60 negara dengan ekonomi terbesar berdasarkan produk domestik bruto (PDB).

Baca juga: Bekerja Tapi Tetap Miskin, Fenomena Working Poor Hantui Jutaan Pekerja RI

Penilaian dilakukan menggunakan skor komposit dari 100 berdasarkan sejumlah indikator, seperti jam kerja, cuti, upah minimum, akses kesehatan, hingga tingkat kebahagiaan.

Hasilnya, sejumlah negara justru mencatat performa buruk dalam menjaga keseimbangan hidup pekerja.

AS Hampir Jadi yang Terburuk

Amerika Serikat menjadi sorotan karena berada di peringkat ke-59 secara global, atau kedua terburuk di dunia, dengan skor hanya 31,17.

Negara dengan ekonomi terbesar dunia itu bahkan tidak memiliki kewajiban cuti berbayar dan cuti melahirkan secara federal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa produktivitas masih menjadi prioritas utama dibanding kesejahteraan pekerja.

Peringkat negeri Paman Sam ini terus menurun dari posisi 53 pada 2023, kemudian 55 (2024), dan 59 (2025).

Sementara itu, Nigeria menempati posisi paling bawah dengan skor 30,07. Rendahnya akses layanan kesehatan, minimnya cuti, serta tingkat keamanan yang rendah menjadi faktor utama.

Banyak pekerja juga menghadapi budaya kerja yang menuntut lembur dan tetap terhubung di luar jam kerja.

Asia dan Timur Tengah Mendominasi

Sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah juga masuk dalam daftar terburuk, seperti China, India, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

China, misalnya, hanya memberikan cuti tahunan sekitar 5 hari setelah tahun pertama kerja, dengan rata-rata jam kerja mencapai 46,1 jam per minggu.

Sementara di India, jam kerja mencapai 45,7 jam per minggu dengan upah minimum sangat rendah, yakni sekitar 0,27 dollar AS per jam.

Di Uni Emirat Arab, jam kerja bahkan bisa mencapai hampir 49 jam per minggu, meski tingkat kebahagiaan relatif lebih tinggi karena dukungan sosial yang kuat.

Baca juga: Simak, 6 Tips Menjaga Work Life Balance

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau