Kekhawatiran Orangtua Akan “Skill Gap” Meningkat, BINUS University Hadirkan Pembelajaran Berbasis Industri dan Teknologi AI

Kompas.com - 08/05/2026, 12:02 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pendidikan tinggi tengah memasuki masa transisi yang penuh tantangan. Selama puluhan tahun, gelar sarjana dianggap sebagai akses cepat untuk meraih stabilitas karier. 

Namun, realitas pasar kerja modern mulai menggoyahkan pandangan tersebut. Banyak lulusan strata 1 (S1) belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja. Fenomena ini terjadi bukan karena kurangnya pendidikan, melainkan karena adanya skill gap atau kesenjangan keterampilan antara dunia kampus dan kebutuhan industri. 

Kondisi tersebut membuat skill gap berkembang menjadi momok yang mengubah cara pandang masyarakat, khususnya orangtua, terhadap nilai ijazah.

Hal serupa diungkapkan oleh pendongeng sekaligus pemerhati anak Awam Prakoso. Menurutnya, terdapat keresahan kolektif di kalangan orangtua bahwa di zaman sekarang, gelar akademik saja tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan anak.

Baca juga: Kala Keresahan soal Teknologi Membuat Anggota Bhayangkari Belajar AI

“Kuliah itu bukan sekadar duduk di bangku dan mengejar nilai, tetapi apa yang kamu lakukan selama proses kuliah itu. Harus ada hal-hal yang membuat kamu sibuk untuk menguatkan potensi kamu,” ujarnya dilansir dari laman Instagram awamprakoso, Kamis (23/4/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Awam kepada anaknya saat sang buah hati meminta izin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Dari pernyataan Awam, terlihat bahwa kekhawatiran orangtua telah bergeser. Pertanyaannya bukan lagi sekadar ke mana anak akan kuliah, melainkan apakah kurikulum dan lingkungan kampus mampu membekali mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan industri?

Pergeseran ini menandakan bahwa skill gap bukan lagi sekadar isu tambahan, melainkan tantangan struktural dalam pendidikan tinggi.

Baca juga: Mahasiswa Protes Biaya Kuliah Mahal: Pendidikan Tinggi Jadi Barang Mewah

Pasalnya, institusi pendidikan kerap dinilai lebih banyak memberikan pengetahuan teoretis, sedangkan industri menuntut tenaga kerja yang punya kemampuan teknis atau terapan, serta kesiapan beradaptasi.

Ketimpangan tersebut terjadi karena kebutuhan industri bertransformasi jauh lebih cepat dibandingkan adaptasi kurikulum konvensional. Akibatnya, lulusan pendidikan tinggi kerap kesulitan mengembangkan soft skills dan hard skills secara seimbang.

Oleh karena itu, perguruan tinggi kini tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, tetapi juga memastikan mereka siap bekerja sejak hari pertama menginjakkan kaki di dunia profesional.

Baca juga: Lulusan Cumlaude tapi Tak Siap Kerja

Pendidikan sebagai investasi karier

Melalui lingkungan belajar yang kolaboratif, mahasiswa didorong untuk terbiasa memecahkan masalah secara tim, selaras dengan dinamika kerja di dunia profesional modern.Dok. BINUS University Melalui lingkungan belajar yang kolaboratif, mahasiswa didorong untuk terbiasa memecahkan masalah secara tim, selaras dengan dinamika kerja di dunia profesional modern.

Di tengah gejolak ekonomi saat ini, pendidikan dipandang sebagai investasi yang harus menghasilkan keterampilan nyata.

Tak heran jika orangtua mulai menerapkan analisis return on investment (ROI) dalam memilih institusi pendidikan. Mereka juga semakin memperhatikan seberapa cepat anak bertransisi dari bangku kuliah ke dunia profesional.

Berdasarkan temuan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dipublikasikan pada Senin (6/11/2023), pendidikan tinggi secara statistik meningkatkan peluang kerja. Namun, hal ini tidak otomatis menjamin kesiapan kerja di tengah ekosistem industri yang dinamis.

Baca juga: Pengangguran Muda Tinggi, Dunia Usaha Bantu Tutup Kesenjangan Kesiapan Kerja

Skill gap juga semakin melebar akibat transformasi industri global yang masif. Melansir laporan World Economic Forum (WEF) yang terbit pada Selasa (7/1/2025), sekitar 22 persen pekerjaan di seluruh dunia diprediksi akan mengalami perubahan signifikan pada 2030.

Perubahan tersebut didasari oleh keterampilan yang cepat usang. Di sisi lain, kebutuhan terhadap keterampilan baru terus bermunculan. Kondisi ini menuntut tenaga kerja tingkat pemula memiliki adaptabilitas tinggi, yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas konvensional.

Dampak skill gap

Dampak skill gap tecermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025. Dilansir dari laman bps.go.id, Selasa (5/5/2026), sebanyak 35,36 persen pemuda bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka atau dikenal dengan career mismatch.

Fenomena tersebut merupakan wujud dari ketidaksesuaian antara apa yang dipelajari di kampus dan dipraktikkan di industri. Akibatnya, produktivitas tenaga kerja dapat menurun. Di sisi lain, angka pengangguran, ketidakpuasan karier, dan inefisiensi ekonomi berpotensi meningkat.

Baca juga: BPS Ungkap Angka Pengangguran Jakarta, Didominasi Lulusan Apa?

Kondisi ini membuat orangtua semakin kritis dan rasional dalam mengambil keputusan terkait pendidikan anak. Fokus mereka tidak lagi berhenti pada reputasi kampus, tetapi juga pada relevansi keterampilan dan pengalaman kerja nyata yang ditawarkan.

Oleh karena itu, makna kesiapan karier (career readiness) perlu didefinisikan ulang. Kesiapan tidak lagi diukur dari nilai akademik semata, tetapi juga dari kombinasi antara keterampilan teknis, kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan adaptabilitas.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak boleh lagi membatasi diri sebagai institusi akademik murni. Kampus perlu bertransformasi menjadi ekosistem yang mampu menunjang kesiapan karier mahasiswa.

Perguruan tinggi juga perlu berperan sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri. Peran itu dapat dilakukan dengan menghadirkan pengalaman kerja selama masa kuliah, memperkuat pembelajaran berbasis praktik, dan melibatkan industri dalam proses pembelajaran.

Baca juga: Kolaborasi Pendidikan dan Industri, Kunci Hadapi Tantangan Green Jobs di Era Ekonomi Berkelanjutan

Integrasi pendidikan dan dunia industri

Integrasi kurikulum dengan standar industri yang memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi wawasan praktis secara mendalam, memperkecil celah antara teori akademis dan kebutuhan pasar kerja.Dok. BINUS University Integrasi kurikulum dengan standar industri yang memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi wawasan praktis secara mendalam, memperkecil celah antara teori akademis dan kebutuhan pasar kerja.

Merespons tantangan skill gap, Bina Nusantara (BINUS) University mengimplementasikan ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan dunia industri dan eksposur global.

Melalui skema “2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier”, BINUS University mempercepat fase akademik agar mahasiswa dapat memperoleh eksposur dunia kerja lebih awal. 

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi jarak antara fase belajar dan fase bekerja.

Salah satu inovasi utama BINUS University dalam menghadapi skill gap adalah menghadirkan program Enrichment 2+1+1.

Baca juga: 11 Jurusan Bisnis dan Manajemen Terbaik Indonesia 2026, Nomor 1 Binus

Program tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh satu tahun pembelajaran di luar kampus melalui internship, entrepreneurship, research, community development, further study, specific independent study, hingga study abroad.

Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga langsung terjun dalam ekosistem profesional.

Upaya BINUS University merespons skill gap juga diperluas melalui Minor Program. Program ini memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi kompetensi lintas bidang agar tidak terjebak dalam spesialisasi tertentu.

Dengan begitu, mahasiswa diharapkan memiliki daya adaptasi karier yang lebih luas.

Baca juga: Kenapa Pekerja Muda Rentan Burnout? Psikolog Soroti Tekanan Karier dan Media Sosial

Dukungan terhadap ekosistem karier di lingkungan kampus juga diperkuat melalui sistem Multi Campus. Sistem ini menawarkan fleksibilitas lokasi belajar, eksposur terhadap lingkungan yang berbeda, serta kesempatan untuk membangun kemampuan adaptasi.

Harapannya, sistem tersebut dapat membentuk mentalitas agile yang dibutuhkan industri saat ini.

Selain itu, BINUS University juga menjalin kemitraan dengan lebih dari 2.200 mitra industri serta 170 universitas di lebih dari 40 negara.

Sinergi tersebut bertujuan meningkatkan akses mahasiswa ke dunia profesional melalui magang, proyek industri, maupun pengalaman global. Dengan begitu, mahasiswa dapat memahami keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja nasional dan internasional.

Baca juga: Kampus, Pasar Kerja, dan Masa Depan Kebebasan Berpikir

Sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada teknologi informasi, BINUS University menerapkan metode pembelajaran berbasis teknologi dan digitalisasi.

Peralatan digital di kampus tidak hanya digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, tetapi juga untuk menciptakan simulasi lingkungan kerja modern.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan lebih terbiasa dengan standar industri terkini dan mampu mempersempit kesenjangan keterampilan digital saat memasuki dunia profesional.

Baca juga: Indeks Modal Manusia dan Keterampilan Digital Tenaga Kerja Indonesia Masih di Bawah Rata-rata di ASEAN

Terciptanya lulusan siap kerja

Pendekatan berbasis pengalaman dan integrasi industri yang diterapkan BINUS University membuahkan capaian positif.

Tercatat, sekitar 80 persen lulusan BINUS University telah bekerja saat wisuda, sementara 90 persen mendapatkan pekerjaan dalam waktu enam bulan setelah kelulusan. Lalu, sekitar 98 persen mahasiswa BINUS juga sudah memiliki international experience.

Data tersebut menunjukkan bahwa transisi dari kampus ke dunia kerja tidak lagi dimulai setelah wisuda, tetapi jauh lebih awal selama mahasiswa menempuh studi.

Keterlibatan mahasiswa dalam dunia profesional selama masa kuliah membantu mengurangi jarak antara kompetensi akademik dan kebutuhan industri. Hal ini juga mendorong perubahan indikator keberhasilan pendidikan tinggi, dari sekadar kelulusan menjadi penyerapan kerja dan kesiapan karier.

Baca juga: BPS Catat Penyerapan Tenaga Kerja Capai 1,89 Juta Orang dalam Setahun Terakhir

Awam Prakoso merasakan hal tersebut ketika anaknya memutuskan untuk kuliah di BINUS University. Selama kuliah, sang anak mengasah profesionalismenya dengan menjadi asisten laboratorium dan terlibat dalam berbagai proyek yang bersentuhan langsung dengan industri.

“Dari situ, saya benar-benar sadar, kesiapan anak bukan hanya dari ijazah, tetapi dari pengalaman dan interaksi nyata, yaitu belajar tanggung jawab, manajemen, dan memahami dunia kerja sejak awal,” kata Awam.

Sebagai orangtua, Awam merasa lebih tenang karena anaknya tidak memulai dari nol setelah lulus kuliah. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa memilih kampus bukan sekadar soal pendidikan, melainkan juga investasi masa depan.

“Dari yang saya lihat, keputusan memilih BINUS saat itu menjadi salah satu langkah tepat, karena pada akhirnya bukan hanya soal lulus, tetapi seberapa siap anak kita melangkah lebih dulu,” tegas Awam.

Baca juga: 8 Bidang Ilmu Binus University Masuk Daftar 1-9 Terbaik Nasional 2026

Kisah Awam dan anaknya menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal pencapaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan tinggi perlu memastikan mahasiswa memiliki keterampilan dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.

Melalui ekosistem pendidikan dan karier yang terintegrasi, serta model pembelajaran yang responsif terhadap perubahan industri, BINUS University menegaskan posisinya sebagai institusi yang berupaya menjawab tantangan skill gap secara komprehensif.

Pendidikan tinggi tetap menjadi investasi penting. Namun, tantangan utama perguruan tinggi saat ini bukan lagi sekadar membuka akses seluas-luasnya, melainkan memastikan bahwa akses tersebut benar-benar menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Pada akhirnya, paradigma baru pendidikan tinggi perlu ditegakkan. Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan lulusan bergelar, melainkan individu yang memiliki keterampilan, pengalaman, dan kesiapan untuk beradaptasi di dunia kerja yang terus berubah.

Baca juga: 2 Kampus Indonesia yang Lulusannya Paling Siap Kerja di Banyak Perusahaan

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com