Menguatkan PAUD, Menciptakan Ruang Aman Anak Usia Dini

Kompas.com - 29/12/2025, 15:43 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di sejumlah wilayah pinggiran perkotaan, khususnya di sekitar kota-kota besar, anak usia dini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan dan pengasuhan yang layak. 

Taman kanak-kanak (TK) maupun kelompok bermain (KB) atau playgroup kerap dianggap sebagai layanan “mahal” yang umumnya hanya dapat dijangkau oleh keluarga kelas menengah ke atas.

Sebagian anak dinilai beruntung jika dapat mengakses layanan pos pelayanan terpadu (posyandu), membawa pulang Kartu Menuju Sehat (KMS), dan menerima makanan tambahan. Namun, faktanya masih banyak anak yang luput dari layanan dasar tersebut.

“Banyak anak di wilayah pinggiran kota bahkan tidak tercatat secara administratif sebagai warga setempat. Akibatnya, mereka luput dari berbagai layanan dasar yang seharusnya menjadi haknya sejak lahir,” ujar Direktur Yayasan Langit Biru Cantigi sekaligus anggota ECED Council Indonesia JF Suliestyowati dalam keterangan resminya, Senin (29/12/2025).

Baca juga: Hari Anak Balita Nasional, Fahira Idris Minta Pemerintah Perhatikan Gizi hingga Layanan Dasar

Ia menyebut, anak-anak itu sering kali berasal dari keluarga pengontrak musiman, pendatang, atau keluarga yang tinggal menumpang, sehingga tidak tercatat sebagai warga rukun tetangga (RT) maupun rukun warga (RW). 

Mereka tumbuh di kawasan yang kerap terabaikan, seperti di sekitar tempat pembuangan sampah, bantaran kali, terminal, bahkan area pemakaman. 

“Dalam kondisi seperti ini, hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal menjadi sangat rentan terabaikan,” jelas Suliestyowati.

Dalam keseharian keluarga di wilayah pinggiran perkotaan, anak-anak tumbuh di tengah tekanan yang sering kali tidak kasatmata.

Ruang bermain sempit, hunian padat, orangtua yang harus bekerja dalam waktu panjang untuk bertahan hidup, serta minimnya interaksi berkualitas antara orangtua dan anak menjadi bagian dari realitas sehari-hari.

Baca juga: Potret Hunian Padat di Tanah Tinggi, Warga Tidur di Balai RW karena Rumah Sempit

Banyak anak menghabiskan waktu sendirian, diasuh secara bergantian, atau tumbuh tanpa stimulasi yang memadai. Hal ini terjadi bukan karena orangtua yang abai, melainkan keterbatasan situasi.

“Ketika orangtua harus bekerja dari pagi hingga malam untuk sekadar bertahan hidup, interaksi hangat dengan anak sering kali menjadi kemewahan. Padahal, justru di masa inilah anak paling membutuhkan kehadiran emosional orang dewasa,” kata Suliestyowati.

Dalam kondisi seperti ini, layanan dasar yang tersedia kerap berhenti pada aspek pemenuhan fisik, seperti penimbangan berat badan, pencatatan KMS, dan pemberian makanan tambahan. 

Menurut Suliestyowati, seluruh layanan tersebut penting, tetapi belum menyentuh kebutuhan anak secara menyeluruh.

Baca juga: Mengekpresikan Emosi Termasuk Kebutuhan Anak, Orangtua Wajib Ingat

Pasalnya, anak tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat, melainkan juga dukungan emosional, stimulasi perkembangan, rasa aman, serta kesempatan untuk belajar melalui permainan dan interaksi.

“Anak bukan sekadar objek layanan gizi. Mereka adalah individu yang utuh, memiliki emosi, rasa ingin tahu, serta kebutuhan untuk merasa aman dan dihargai,” tegas Suliestyowati.

Dari pemahaman itu, tumbuh kesadaran bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak sejak dini yang tidak hanya fokus pada status gizinya merupakan kunci untuk memperkuat fondasi kehidupan anak serta mencegah kerentanan yang berulang antargenerasi. 

Potret tersebut mewarnai wilayah pinggiran Jakarta pada awal 2000-an hingga akhirnya melahirkan gagasan pendidikan anak dini usia (PADU), yang kemudian menjadi cikal bakal pendidikan anak usia dini (PAUD).

Baca juga: Wajib Belajar 13 Tahun, Pemerintah Akan Bangun PAUD di Tiap Desa

PAUD sebagai ruang aman dan gerakan bersama

Pada tahap awal, PAUD mengajak anak usia 3–6 tahun untuk berkegiatan secara rutin melalui aktivitas sederhana, seperti bernyanyi, berdoa, menari, mewarnai, mendengarkan cerita, dan bermain bersama. 

Meski belum memiliki kurikulum baku, kegiatan-kegiatan ini menjadi ruang aman bagi anak untuk berinteraksi, mengenali emosi, dan mengekspresikan diri dalam suasana yang positif.

“PAUD lahir bukan sebagai institusi formal semata, tetapi sebagai ruang aman. Tempat anak bisa menjadi dirinya sendiri, diterima apa adanya, dan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan,” jelas Suliestyowati.

Sejak 2002, pendekatan PAUD diperkuat dengan fokus pada stimulasi empat aspek utama tumbuh kembang anak, yaitu bahasa, psikomotorik, sosial-emosional, dan kognitif.

Baca juga: Orangtua Wajib Tahu, Ada 4 Aspek Tumbuh Kembang Anak

Berdasarkan pendekatan tersebut, bermain bukan lagi sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan menjadi medium pembelajaran yang bermakna. 

Empat PAUD percontohan kemudian dirintis di Pulogadung, Pasar Minggu, dan Srengseng Sawah, dengan pendidik berasal dari kader masyarakat setempat yang dilatih secara berkala.

“Kepercayaan orangtua tumbuh karena PAUD hadir dekat dengan kehidupan mereka. Guru berasal dari lingkungan yang sama, memahami konteks keluarga, dan membangun relasi yang setara,” kata Suliestyowati.

Dalam perkembangannya, PAUD menunjukkan dampak yang melampaui ruang kelas dengan berhasil menjangkau anak berusia 0-6 tahun. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, sementara orangtua mulai terlibat aktif dalam pengasuhan. 

Baca juga: Bukan Belajar Komputer, Ini Cara PAUD Menerapkan Berpikir Komputasional

Dengan dukungan yang dialihkan secara bertahap kepada masyarakat melalui gotong royong, PAUD tumbuh sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan.

Pemberdayaan masyarakat dan penguatan guru untuk keberlanjutan PAUD

Keberhasilan PAUD tidak terjadi secara instan. Pada masa awal, penolakan dari masyarakat cukup kuat. PAUD kerap dipandang sebagai urusan ibu-ibu dan dianggap tidak penting karena anak di bawah lima tahun (balita) dinilai belum mampu belajar apa-apa.

“Dulu, ketika kami mengajak anak usia tiga tahun untuk belajar sambil bermain, banyak yang menertawakan. Anak dianggap belum waktunya belajar, padahal justru di usia inilah fondasi kehidupan sedang dibentuk,” ucap Suliestyowati.

Melalui sosialisasi berkelanjutan dan pendidikan nilai, pemahaman masyarakat perlahan berubah. Ketika orangtua mulai melihat perubahan nyata pada anak-anak mereka, keterlibatan pun tumbuh secara alami.

Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) membantu masyarakat mengenali aset yang mereka miliki dan mengelola layanan PAUD secara mandiri.

Baca juga: Stimulasi Anak Usia Dini Bergantung pada Sinergi Keluarga dan Layanan PAUD

“Ketika masyarakat menyadari bahwa mereka punya daya dan aset, PAUD tidak lagi dipandang sebagai bantuan, melainkan milik bersama,” kata Suliestyowati.

Para pendidik juga memperoleh dukungan beasiswa dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan formal PAUD melalui Yayasan Tadika Puri dan crash program PAUD di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Upaya ini kemudian diperkuat melalui advokasi kepada pemerintah daerah (pemda), yang mendorong pemberian beasiswa studi Strata 1 (S1) PAUD serta insentif bulanan bagi guru PAUD.

Setiap kelurahan rata-rata memperoleh alokasi sekitar empat guru atau mahasiswa PAUD, dengan batas usia maksimal di bawah 45 tahun.

Baca juga: Mengangkat Martabat Guru PAUD: Penjaga Masa Emas yang Masih Terlupakan

Kebijakan tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional penguatan PAUD yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Presiden (PP) Nomor 60 Tahun 2013 tentang PAUD Holistik Integratif (HI), serta Rencana Aksi Nasional PAUD HI yang menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM).

Selain dukungan melalui pendidikan formal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta melalui dinas pendidikan, khususnya unit yang membidangi pendidikan nonformal, juga mulai memperhatikan kesejahteraan guru PAUD dengan menyalurkan insentif bulanan. 

Meskipun pelaksanaannya tidak selalu berjalan mulus, Suliestyowati menilai bahwa kebijakan ini mencerminkan tumbuhnya pengakuan terhadap peran strategis guru PAUD.

Keberlanjutan PAUD sangat bergantung pada guru. Tanpa pendidik yang dihargai dan didukung, kualitas layanan sulit terjaga,” ungkapnya.

Baca juga: Kisah Guru PAUD dan SMP Pakai Canva untuk Bikin Materi, Karyanya Dipamerkan

Pembangunan ekosistem PAUD di tingkat kelurahan pun menjadi kunci keberlanjutan, dengan melibatkan masyarakat, pemda, dan jejaring pendukung melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) dan berbagai forum warga.

Suliestyowati menekankan bahwa kunci keberlanjutan PAUD sederhana, namun bermakna, yakni membuka mata melalui praktik baik, membuka hati dengan menghadirkan manfaat nyata, serta membuka ruang berbagi dalam berbagai bentuk. 

“PAUD tidak mungkin berdiri sendiri. Namun, ketika komunitas bergerak bersama, PAUD menjadi fondasi kokoh bagi masa depan anak-anak,” ujarnya.

Terkini Lainnya
Bentuk Karakter Sejak Dini, Ini Alasan Kualitas Daycare Sangat Menentukan Masa Depan Anak

Bentuk Karakter Sejak Dini, Ini Alasan Kualitas Daycare Sangat Menentukan Masa Depan Anak

ECED Council
Membangun Keterampilan Fondasi Anak: Peran Lingkungan, Relasi, dan Kehadiran Orang Dewasa

Membangun Keterampilan Fondasi Anak: Peran Lingkungan, Relasi, dan Kehadiran Orang Dewasa

ECED Council
Daycare di Indonesia: Antara Ekspansi Layanan dan Perlindungan Anak

Daycare di Indonesia: Antara Ekspansi Layanan dan Perlindungan Anak

ECED Council
Menjadi CEO Dua Otak: Kepemimpinan Ibu dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Menjadi CEO Dua Otak: Kepemimpinan Ibu dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan

ECED Council
Bukan Tidak Penting, Ini yang Terjadi pada Otak Anak Saat Mereka Bermain

Bukan Tidak Penting, Ini yang Terjadi pada Otak Anak Saat Mereka Bermain

ECED Council
Mendampingi Peneliti Kecil, Menyiapkan Indonesia Besar

Mendampingi Peneliti Kecil, Menyiapkan Indonesia Besar

ECED Council
Bukan Belajar Komputer, Ini Cara PAUD Menerapkan Berpikir Komputasional

Bukan Belajar Komputer, Ini Cara PAUD Menerapkan Berpikir Komputasional

ECED Council
Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

ECED Council
Mendefinisikan Ulang Kesiapan Sekolah: Fasih Calistung Bukan Jaminan Siap Belajar

Mendefinisikan Ulang Kesiapan Sekolah: Fasih Calistung Bukan Jaminan Siap Belajar

ECED Council
Membangun Generasi Sehat Dimulai dari Ibu yang Bahagia

Membangun Generasi Sehat Dimulai dari Ibu yang Bahagia

ECED Council
Meluruskan Paradigma Calistung dan Stimulasi Holistik pada Anak Usia Dini

Meluruskan Paradigma Calistung dan Stimulasi Holistik pada Anak Usia Dini

ECED Council
Anak-anak dan Perubahan Iklim: dari Kerentanan Menuju Harapan

Anak-anak dan Perubahan Iklim: dari Kerentanan Menuju Harapan

ECED Council
Sinergi Orangtua dan Satuan PAUD dalam Perjalanan Anak Usia Dini

Sinergi Orangtua dan Satuan PAUD dalam Perjalanan Anak Usia Dini

ECED Council
Percakapan yang Menghidupkan Makna: Mendorong Deep Learning dari Rumah

Percakapan yang Menghidupkan Makna: Mendorong Deep Learning dari Rumah

ECED Council
Stimulasi Anak Usia Dini Bergantung pada Sinergi Keluarga dan Layanan PAUD

Stimulasi Anak Usia Dini Bergantung pada Sinergi Keluarga dan Layanan PAUD

ECED Council

Copyright 2008 - 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com