Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com – Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukan sekadar langkah awal menuju sekolah dasar (SD).
Lebih dari itu, PAUD adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Anggota ECED Council Indonesia sekaligus peneliti di Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama.
Menurutnya, PAUD memiliki peran besar dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Pendidikan anak usia dini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kerangka kerja pengembangan anak usia dini holistik-integratif,” ujar Riza dalam keterangan resminya, Jumat (10/10/2025).
Baca juga: Budaya sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Anak Usia Dini
“Artinya, PAUD bukan hanya tentang belajar membaca atau berhitung, tapi tentang pemenuhan kebutuhan esensial anak, mulai dari gizi, kesehatan, pendidikan, hingga pengasuhan dan perlindungan,” lanjutnya.
Riza menegaskan, lima tahun pertama kehidupan anak merupakan periode emas dalam pembentukan kemampuan kognitif dan karakter.
Riset ilmu saraf menunjukkan bahwa perkembangan volume otak mencapai 90 persen pada usia 0–5 tahun. Inilah masa di mana anak mampu menyerap berbagai stimulasi, yang nantinya menentukan kemampuan belajar dan bersosialisasi.
Temuan itu sejalan dengan pandangan peraih Nobel Ekonomi, James Heckman, yang menyebut investasi di usia dini menghasilkan keuntungan sosial-ekonomi paling tinggi.
Baca juga: Meluruskan Paradigma Calistung dan Stimulasi Holistik pada Anak Usia Dini
“Heckman menghitung return on investment dari program pendidikan anak usia dini berkualitas bisa mencapai 13 persen per anak per tahun,” kata Riza.
Ia menyebut, angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan intervensi yang dilakukan di usia sekolah dasar (SD) atau remaja.
Sejalan dengan pandangan Heckman, studi dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2020 menunjukkan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang berkualitas memberi banyak manfaat, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Manfaat tersebut mencakup peningkatan kesejahteraan sosial dan emosional, menurunkan risiko putus sekolah, membuka peluang pendidikan dan pekerjaan lebih baik di masa depan, serta memberi kesempatan bagi ibu dan pengasuh untuk lebih aktif bekerja, sehingga membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Baca juga: Dukung Perkembangan Anak, Ini Deretan Manfaat PAUD yang Perlu Diketahui Orangtua
Meski manfaat PAUD sudah terbukti, Riza mengungkapkan bahwa penyelenggaraannya di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.
“Salah satu tantangan utama adalah rendahnya partisipasi anak usia dini," tegasnya.