Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengekpresikan Emosi Termasuk Kebutuhan Anak, Orangtua Wajib Ingat

Kompas.com, 15 Desember 2024, 09:10 WIB
Silmi Nurul Utami,
Nabilla Tashandra

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

KOMPAS.com - Anak memiliki berbagai kebutuhan. Tidak hanya kebutuhan fisik, melainkan juga kebutuhan emosional. 

Menurut Psikolog Brawijaya Child and Women Clinic Khamsha Noory, salah satu kebutuhan emosional yang kerap dilupakan adalah kebutuhan untuk mengekspresikan emosinya mengekspresikan emosi dan menerima penerimaan atas emosi yang mereka alami. 

"Anak itu butuh lima hal, salah satunya dia butuh penerimaan. Penerimaan atas kebutuhan dan emosinya, freedom to express validity and emotion," ujarnya ketika diwawancarai Kompas.com, Kamis (12/12/2024). 

Setiap anak, seperti halnya individu dewasa, berhak untuk merasa diterima dan divalidasi perasaannya. 

Baca juga:

Penerimaan ini sangat penting, terutama ketika mereka menghadapi emosi yang tidak nyaman atau ketika pendapat mereka terasa membingungkan.

Penting untuk diingat bahwa ketika anak menunjukkan perilaku seperti rewel atau tantrum, mereka sebenarnya tidak sedang menciptakan masalah, melainkan sedang berusaha mengkomunikasikan kebutuhan emosional mereka. 

"Orangtua perlu melihat tindakan anak sebagai upaya mereka mengkomunikasikan kebutuhan dan emosinya," tegas Khamsha. 

Ketika anak-anak berperilaku dengan cara yang mungkin terlihat tidak nyaman bagi orang dewasa, penting untuk memahami bahwa mereka mungkin belum diajarkan bagaimana cara mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. 

Misalnya, saat seorang anak merasa sedih, ungkapan “Iya, kamu sedih, tidak apa-apa” dapat memberikan pengakuan dan penerimaan yang mereka butuhkan. 

Baca juga:

Ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa emosi mereka sah dan diterima, yang sangat penting untuk perkembangan emosional mereka.

Sebagai contoh, jika seorang anak tidak fokus saat belajar, itu bukan berarti mereka tidak ingin pintar atau menolak untuk belajar. 

Sebaliknya, ini bisa jadi cara mereka meminta perubahan dalam pendekatan pengajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka saat itu.

Penerimaan atas emosi anak bukan hanya tentang memberi mereka izin untuk merasa, tetapi juga tentang memberikan respons yang penuh kasih sayang. 

"Makanya memang anak butuh respons yang penuh kasih sayang itu," tutur Khamsha.

Respons membantu anak merasa nyaman dan aman, serta membangun kepercayaan bahwa mereka dapat berbagi perasaan tanpa takut dihakimi. 

Penerimaan terhadap emosi anak merupakan langkah awal yang krusial dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka.

"Itulah mengapa respons penuh kasih sayang penting, karena tindakan manusia itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungannya," tutup Khamsha. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
Wellness
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Relationship
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Relationship
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Fashion
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Fashion
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Wellness
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Relationship
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
Beauty & Grooming
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Fashion
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Wellness
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Relationship
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Relationship
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Wellness
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
Wellness
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
Beauty & Grooming
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau