Overwork Bisa Picu Penyakit Jantung, Ini Pentingnya Skrining Sejak Dini

Kompas.com - 16/04/2026, 13:48 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com - Pekerja kantoran berisiko mengalami penyakit jantung koroner (PJK) karena overwork, kurang aktivitas fisik, dan kerap abai memeriksakan kesehatan. Hingga akhirnya PJK muncul tanpa disadari. 

Oleh karena itu, skrining jantung sejak dini menjadi langkah penting agar kesehatan tetap terjaga dan produktivitas kerja tidak terganggu.

PJK terjadi akibat penyempitan pembuluh darah jantung karena penumpukan plak. Skrining jantung dapat mendeteksinya lebih dini, terutama pada usia produktif hingga di atas 40 tahun, terlebih jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok.

Dokter Liemena Harold Adrian, Sp.JP, FIHA dari Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, skrining jantung meliputi pemeriksaan gula darah, kolesterol, rekam jantung (EKG), hingga treadmill test untuk mendeteksi gangguan jantung saat beraktivitas. 

“Ekokardiografi atau USG jantung juga dilakukan untuk menilai struktur dan fungsi jantung serta mendeteksi gangguan katup jantung,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Pertumbuhan Bayi Lambat Bisa Jadi Gejala Penyakit Jantung Bawaan

Selain itu, terdapat pemeriksaan computed tomography (CT) calcium score jantung untuk melihat adanya plak yang mengeras di arteri koroner dalam bentuk skor. Semakin tinggi skor, semakin besar kemungkinan adanya plak koroner. 

Pemeriksaan CT scan jantung juga dapat dilakukan dengan teknologi pencitraan non-invasif untuk melihat kondisi pembuluh arteri koroner secara lebih jelas serta mendeteksi derajat sumbatan.

Lebih lanjut, menurut dr Jeffrey D Adipranoto, Sp.JP (K), FIHA, FESC, FSCAI di Mayapada Hospital Surabaya, diagnosis PJK dapat dilakukan melalui kateterisasi jantung atau coronary angiography (CAG) yang masih menjadi gold standard.

“Pemeriksaan CAG adalah tindakan invasif menggunakan X-ray dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah tepi, seperti di tangan atau pangkal paha, untuk melihat seberapa berat penyumbatan pembuluh arteri koroner yang terjadi,” jelasnya.

Apabila hasil CAG menunjukkan adanya sumbatan lebih dari 70 persen, maka dilakukan tindakan percutaneous coronary intervention (PCI). 

“Prosedur ini melibatkan penggunaan balon dan pemasangan stent untuk membuka pembuluh darah koroner yang tersumbat agar aliran darah kembali normal,” tambah Jeffrey.

Baca juga: Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran

Namun, jika sumbatan terjadi di banyak titik atau tidak memungkinkan pemasangan stent, kondisi tersebut dapat ditangani melalui tindakan coronary artery bypass graft (CABG) atau bypass jantung. Prosedur ini bertujuan membuat jalur baru di sekitar pembuluh darah yang menyempit agar aliran darah kembali lancar dan otot jantung tetap mendapat oksigen serta nutrisi.

Dr. dr Yan Efrata Sembiring, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp VE (K) dari Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, bypass jantung dilakukan dengan mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain, seperti arteri di dada atau tangan, maupun vena di kaki, untuk disambungkan ke pembuluh darah jantung yang tersumbat.

Operasi bypass jantung terdiri dari beberapa metode, yaitu on pump CABG yang menggunakan mesin jantung-paru, off-pump coronary artery bypass surgery (OPCAB) tanpa mesin sehingga jantung tetap berdetak saat operasi, serta minimally invasive cardiac surgery (MICS) CABG dengan sayatan minimal. 

Selain itu, tersedia pula program rehabilitasi atau fisioterapi pascaoperasi untuk membantu mempercepat pemulihan pasien.

Untuk menunjang penanganan komprehensif, Mayapada Hospital Surabaya menghadirkan layanan Heart & Vascular Center dengan tiga pilar utama. 

Baca juga: Kasus Aritmia pada Usia Muda Meningkat, Ketersediaan Dokter Spesialis Masih Terbatas

Pertama, Advanced Treatment untuk penanganan vaskular, aritmia, dan kelainan struktur jantung melalui tindakan lanjutan, seperti CAG, complex percutaneous coronary intervention (PCI), hingga left ventricular assist device (LVAD). 

Kedua, Emergency Excellence melalui layanan Cardiac Emergency dengan dokter spesialis yang siaga 24 jam, serta Chest Pain Unit untuk deteksi nyeri dada. 

Ketiga, Team-Based Management melalui kolaborasi berbagai spesialis dalam Cardiac Board serta pendampingan menyeluruh oleh Cardiac Advisor.

Cardiac Board merupakan forum diskusi medis yang melibatkan tim multidisiplin, seperti dokter spesialis jantung, bedah toraks kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga spesialis terkait lainnya. 

Sementara itu, Cardiac Advisor berperan sebagai pendamping pasien dan keluarga selama proses perawatan. Mereka membantu menjelaskan kondisi medis, pilihan terapi, hingga alur tindakan secara lebih mudah dipahami, sekaligus memastikan pasien mendapatkan informasi yang jelas dan dukungan yang dibutuhkan sejak awal hingga masa pemulihan.

Informasi kesehatan lainnya dapat diakses melalui fitur Health Articles & Tips di MyCare. Tersedia pula fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori, langkah, serta body mass index (BMI).

Copyright 2008 - 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com