Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran

Kompas.com, 16 April 2026, 11:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

NGAWI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih menghadapi kendala untuk mengimplementasikan distribusi tablet tambah darah bagi remaja putri usia 12-18 tahun dalam rangka penurunan stunting.

Program suplementasi tablet tambah darah pada remaja putri merupakan salah satu intervensi spesifik dalam upaya penurunan stunting.

Berdasarkan hasil penelitian analisis situasi kesehatan remaja desa model di Kabupaten Ngawi, kepatuhan remaja putri untuk meminum tablet tambah darah tergolong rendah. Trauma rasa, bau, dan efek sampingnya menjadi alasan remaja putih tidak rutin meminum tablet tambah darah.

Baca juga: Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah

"Mereka malu-malu atau tidak percaya diri saat menyampaikan tentang pola makan atau tablet tambah darah. Mereka menyatakan baunya tidak enak, saat diberikan tablet tambah darah di sekolah, efek sampingnya seperti mengantuk saat pelajaran," ujar Ketua Genre Kabupaten Ngawi, Shola, Rabu (15/4/2026).

Kepatuhan rendah dalam meminum tablet tambah darah berpotensi meningkatkan risiko anemia yang memengaruhi masa depan remaja putri di Kabupaten Ngawi. Setiap bulan, puskesmas-puskesmas di Kabupaten Ngawi mengirim tablet tambah darah ke berbagai sekolah sasaran di tingkat SMP dan SMA.

Perwakilan puskemas Kabupaten Ngawi, Supriyono mengakui, memang beberapa kali menemukan remaja perempuan enggan meminum tablet tambah darah.

Ia menganggap, keengganan tersebut erat kaitannya dengan kurang terinformasikannya manfaat meminum tablet tambah darah secara rutin dan ke depan puskesmas akan lebih aktif untuk menyosialisasikannya.

Remaja putri sekarang tidak terlalu menyukai meminum tablet tambah darah, karena terkadang membuat mereka mual. Meski versi terbaru tablet tambah darah sudah tidak ada rasanya, masih ada keengganan dari sebagian remaja putri yang mengklaim kondisi diri mereka sehat, sehingga menganggapnya tidak perlu meminumnya.

Kata dia, sebenarnya sudah ada gerakan meminum tablet tambah darah di sekolah setiap hari Jumat. Namun, memang tidak semua remaja putri dengan segera meminum tablet tambah darah itu.

"Padahal, kami sudah kampanyekan bahwa dengan tablet tambah darah itu membuat perempuan itu (wajahnya) semakin glowing gitu lho. Harapannya itu menarik, karena memang ada mikro mineralnya yang banyak," tuturnya.

Kini, integrasi layanan primer kesehatan sudah menjangkau ke berbagai desa di Kabupaten Ngawi melalui Pustu (puskesmas pembantu), Polindes (pondok bersalin desa), dan Posyandu. Puskemas juga sudah menyiapkan stok tablet tambah darah di berbagai unit Pustu atau Polindes yang berlokasi lebih dekat dengan masyarakat desa.

Baca juga: Stunting pada Anak Usia di Bawah 2 Tahun Bisa Berdampak Permanen pada Otak

Banyak Kasus Anemia

Berdasarkan hasil screening di sejumlah sekolah, banyak ditemukan kasus anemia pada remaja putri. Supriyono menyebut, hasil screening terbaru menemukan hampir 30 persen remaja putri dalam suatu sekolah mengidap anemia.

Temuan dari screening puskesmas diserahkan kepada kepala sekolah terkait sebagai bahan evaluasi (feeback).

"Di dalam catatan hasil kajian kami itu ada rujukan. Jadi, anak atas nama A, B, C, kami rujuk ke Puskesmas, anak akan masuk di Klaster 2. Kami akan lakukan konseling untuk mencari tahu apakah ada kemungkinan yang bersangkutan menderita penyakit penyerta, TBC paru, atau kelainan darah," ucapnya.

Program PASTI

Sementara itu, Program Manager PASTI Wahana Visi Indonesia (WVI), Hotmianida Panjaitan mengatakan, meningkatkan kepatuhan remaja putri meminum tablet tambah darah memang sangat sulit.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau