NGAWI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih menghadapi kendala untuk mengimplementasikan distribusi tablet tambah darah bagi remaja putri usia 12-18 tahun dalam rangka penurunan stunting.
Program suplementasi tablet tambah darah pada remaja putri merupakan salah satu intervensi spesifik dalam upaya penurunan stunting.
Berdasarkan hasil penelitian analisis situasi kesehatan remaja desa model di Kabupaten Ngawi, kepatuhan remaja putri untuk meminum tablet tambah darah tergolong rendah. Trauma rasa, bau, dan efek sampingnya menjadi alasan remaja putih tidak rutin meminum tablet tambah darah.
Baca juga: Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
"Mereka malu-malu atau tidak percaya diri saat menyampaikan tentang pola makan atau tablet tambah darah. Mereka menyatakan baunya tidak enak, saat diberikan tablet tambah darah di sekolah, efek sampingnya seperti mengantuk saat pelajaran," ujar Ketua Genre Kabupaten Ngawi, Shola, Rabu (15/4/2026).
Kepatuhan rendah dalam meminum tablet tambah darah berpotensi meningkatkan risiko anemia yang memengaruhi masa depan remaja putri di Kabupaten Ngawi. Setiap bulan, puskesmas-puskesmas di Kabupaten Ngawi mengirim tablet tambah darah ke berbagai sekolah sasaran di tingkat SMP dan SMA.
Perwakilan puskemas Kabupaten Ngawi, Supriyono mengakui, memang beberapa kali menemukan remaja perempuan enggan meminum tablet tambah darah.
Ia menganggap, keengganan tersebut erat kaitannya dengan kurang terinformasikannya manfaat meminum tablet tambah darah secara rutin dan ke depan puskesmas akan lebih aktif untuk menyosialisasikannya.
Remaja putri sekarang tidak terlalu menyukai meminum tablet tambah darah, karena terkadang membuat mereka mual. Meski versi terbaru tablet tambah darah sudah tidak ada rasanya, masih ada keengganan dari sebagian remaja putri yang mengklaim kondisi diri mereka sehat, sehingga menganggapnya tidak perlu meminumnya.
Kata dia, sebenarnya sudah ada gerakan meminum tablet tambah darah di sekolah setiap hari Jumat. Namun, memang tidak semua remaja putri dengan segera meminum tablet tambah darah itu.
"Padahal, kami sudah kampanyekan bahwa dengan tablet tambah darah itu membuat perempuan itu (wajahnya) semakin glowing gitu lho. Harapannya itu menarik, karena memang ada mikro mineralnya yang banyak," tuturnya.
Kini, integrasi layanan primer kesehatan sudah menjangkau ke berbagai desa di Kabupaten Ngawi melalui Pustu (puskesmas pembantu), Polindes (pondok bersalin desa), dan Posyandu. Puskemas juga sudah menyiapkan stok tablet tambah darah di berbagai unit Pustu atau Polindes yang berlokasi lebih dekat dengan masyarakat desa.
Baca juga: Stunting pada Anak Usia di Bawah 2 Tahun Bisa Berdampak Permanen pada Otak
Berdasarkan hasil screening di sejumlah sekolah, banyak ditemukan kasus anemia pada remaja putri. Supriyono menyebut, hasil screening terbaru menemukan hampir 30 persen remaja putri dalam suatu sekolah mengidap anemia.
Temuan dari screening puskesmas diserahkan kepada kepala sekolah terkait sebagai bahan evaluasi (feeback).
"Di dalam catatan hasil kajian kami itu ada rujukan. Jadi, anak atas nama A, B, C, kami rujuk ke Puskesmas, anak akan masuk di Klaster 2. Kami akan lakukan konseling untuk mencari tahu apakah ada kemungkinan yang bersangkutan menderita penyakit penyerta, TBC paru, atau kelainan darah," ucapnya.
Sementara itu, Program Manager PASTI Wahana Visi Indonesia (WVI), Hotmianida Panjaitan mengatakan, meningkatkan kepatuhan remaja putri meminum tablet tambah darah memang sangat sulit.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya