Penulis
KOMPAS.com - China sukses meluncurkan pesawat luar angkasa berawak Shenzhou-23 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di barat laut China pada Minggu malam (24/5/2026) waktu setempat.
Pesawat yang diangkut oleh roket pembawa Long March-2F ini mengirimkan tiga astronot menuju Stasiun Luar Angkasa Tiangong yang kini sedang mengorbit bumi.
Baca juga: Saat Astronot Artemis II Main Gelembung di Luar Angkasa, Apa Jadinya?
Badan Antariksa Berawak China (CMSA) mengumumkan bahwa sekitar 10 menit setelah lepas landas, pesawat berhasil memisahkan diri dari roket peluncur dan memasuki orbit yang ditentukan. Kondisi ketiga astronot dilaporkan dalam keadaan sangat baik, dan CMSA menyatakan seluruh proses peluncuran ini berjalan dengan "sukses total".
Nantinya, Shenzhou-23 akan melakukan proses pendekatan dan docking (penambatan) secara otomatis dan cepat dengan kompleks stasiun ruang angkasa, disusul dengan serah terima tugas di orbit dengan kru Shenzhou-21 yang saat ini berada di dalam Tiangong.
Misi Shenzhou-23 kali ini membawa agenda yang sangat ambisius: mencetak rekor baru durasi tinggal satu tahun penuh di luar angkasa. Rekor tinggal terlama sebelumnya dipegang oleh kru Shenzhou-21 yang telah menghabiskan waktu selama 204 hari di orbit hingga hari Minggu kemarin.
"Menugaskan seorang astronot untuk tinggal di orbit selama satu tahun bukanlah sekadar melipatgandakan durasi dari dua misi enam bulanan," ujar juru bicara CMSA, Zhang Jingbo, dikutip Xinhua.
Misi yang sangat panjang ini menuntut kesiapan fisik dan mental yang jauh lebih tinggi.
Pakar dari Pusat Astronot China, Bian Qiang, menjelaskan bahwa timnya telah memperkuat ketahanan fisik serta cadangan fungsi fisiologis para astronot, sekaligus mengintensifkan latihan ketahanan psikologis dan kecocokan antarkru selama di dalam stasiun.
Selama setahun ke depan, China akan mengimplementasikan program riset tubuh manusia berbasis antariksa yang pertama.
Riset ini bertujuan mengumpulkan data penting mengenai batas adaptasi manusia di ruang hampa serta membangun atlas multi-sistem tubuh manusia di luar angkasa.
Data ini nantinya digunakan untuk meningkatkan sistem medis dan perlindungan kesehatan bagi astronot dalam misi jangka panjang masa depan.
Tiga astronot yang mengangkasa kali ini memiliki latar belakang keahlian yang sangat spesifik, dipimpin oleh komandan misi Zhu Yangzhu (insinyur penerbangan), bersama Zhang Zhiyuan (pilot wahana antariksa), dan Li Jiaying (spesialis muatan).
Sosok Li Jiaying (atau Lai Ka-ying dalam pelafalan Kanton) seketika mencuri perhatian publik. Sebelum terpilih menjadi astronot angkatan keempat China, Li merupakan seorang anggota aktif di Kepolisian Hong Kong.
Melalui misi ini, Li berhasil mengukir sejarah emas sebagai warga pertama dari Wilayah Administratif Khusus Hong Kong yang berhasil terbang ke luar angkasa, sekaligus menjadi astronot wanita keempat bagi negeri tirai bambu tersebut.
Kehadiran Li memberikan motivasi dan antusiasme besar bagi generasi muda di Hong Kong. Lee Cheuk Hei Trevis, seorang siswa yang berkesempatan menonton upacara pelepasan langsung di lokasi, mengaku sangat terinspirasi.