Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misi Shenzhou-23 Meroket, 3 Astronot China Bakal Tinggal Setahun di Luar Angkasa

Kompas.com, 26 Mei 2026, 07:04 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

Sumber Xinhuanet

KOMPAS.com - China sukses meluncurkan pesawat luar angkasa berawak Shenzhou-23 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di barat laut China pada Minggu malam (24/5/2026) waktu setempat.

Pesawat yang diangkut oleh roket pembawa Long March-2F ini mengirimkan tiga astronot menuju Stasiun Luar Angkasa Tiangong yang kini sedang mengorbit bumi.

Baca juga: Saat Astronot Artemis II Main Gelembung di Luar Angkasa, Apa Jadinya?

Badan Antariksa Berawak China (CMSA) mengumumkan bahwa sekitar 10 menit setelah lepas landas, pesawat berhasil memisahkan diri dari roket peluncur dan memasuki orbit yang ditentukan. Kondisi ketiga astronot dilaporkan dalam keadaan sangat baik, dan CMSA menyatakan seluruh proses peluncuran ini berjalan dengan "sukses total".

Nantinya, Shenzhou-23 akan melakukan proses pendekatan dan docking (penambatan) secara otomatis dan cepat dengan kompleks stasiun ruang angkasa, disusul dengan serah terima tugas di orbit dengan kru Shenzhou-21 yang saat ini berada di dalam Tiangong.

Ukir Sejarah Baru dan Rekor Tinggal Terlama

Misi Shenzhou-23 kali ini membawa agenda yang sangat ambisius: mencetak rekor baru durasi tinggal satu tahun penuh di luar angkasa. Rekor tinggal terlama sebelumnya dipegang oleh kru Shenzhou-21 yang telah menghabiskan waktu selama 204 hari di orbit hingga hari Minggu kemarin.

"Menugaskan seorang astronot untuk tinggal di orbit selama satu tahun bukanlah sekadar melipatgandakan durasi dari dua misi enam bulanan," ujar juru bicara CMSA, Zhang Jingbo, dikutip Xinhua.

Misi yang sangat panjang ini menuntut kesiapan fisik dan mental yang jauh lebih tinggi.

Pakar dari Pusat Astronot China, Bian Qiang, menjelaskan bahwa timnya telah memperkuat ketahanan fisik serta cadangan fungsi fisiologis para astronot, sekaligus mengintensifkan latihan ketahanan psikologis dan kecocokan antarkru selama di dalam stasiun.

Selama setahun ke depan, China akan mengimplementasikan program riset tubuh manusia berbasis antariksa yang pertama.

Riset ini bertujuan mengumpulkan data penting mengenai batas adaptasi manusia di ruang hampa serta membangun atlas multi-sistem tubuh manusia di luar angkasa.

Data ini nantinya digunakan untuk meningkatkan sistem medis dan perlindungan kesehatan bagi astronot dalam misi jangka panjang masa depan.

Komposisi Kru yang Unik: Mantan Polisi Hong Kong Cetak Sejarah

Tiga astronot yang mengangkasa kali ini memiliki latar belakang keahlian yang sangat spesifik, dipimpin oleh komandan misi Zhu Yangzhu (insinyur penerbangan), bersama Zhang Zhiyuan (pilot wahana antariksa), dan Li Jiaying (spesialis muatan).

Sosok Li Jiaying (atau Lai Ka-ying dalam pelafalan Kanton) seketika mencuri perhatian publik. Sebelum terpilih menjadi astronot angkatan keempat China, Li merupakan seorang anggota aktif di Kepolisian Hong Kong.

Melalui misi ini, Li berhasil mengukir sejarah emas sebagai warga pertama dari Wilayah Administratif Khusus Hong Kong yang berhasil terbang ke luar angkasa, sekaligus menjadi astronot wanita keempat bagi negeri tirai bambu tersebut.

Kehadiran Li memberikan motivasi dan antusiasme besar bagi generasi muda di Hong Kong. Lee Cheuk Hei Trevis, seorang siswa yang berkesempatan menonton upacara pelepasan langsung di lokasi, mengaku sangat terinspirasi.

"Bisa menyaksikan sejarah ini secara langsung telah menyalakan imajinasi saya tentang penjelajahan luar angkasa," ungkapnya bangga.

Misi lain: dari Embrio Tikus hingga Padi Dua Generasi

Tidak hanya berfokus pada ketahanan tubuh manusia, kru Shenzhou-23 dijadwalkan untuk mengeksekusi lebih dari 100 proyek sains dan aplikasi mutakhir.

Penelitian ini mencakup bidang ilmu kehidupan ruang angkasa, ilmu material, fisika fluida mikrogravitasi, hingga teknologi kedirgantaraan baru.

Beberapa eksperimen sains paling menarik di antaranya:

a. Sistem Penelitian Embrio Mamalia

Peneliti memanfaatkan ikan zebra, embrio tikus, serta "embrio buatan" yang ditumbuhkan dari sel punca (stem cell).

Tujuannya adalah membangun sistem penelitian perkembangan embrio makhluk hidup, mulai dari vertebrata tingkat rendah hingga mamalia tingkat tinggi di luar angkasa.

b. Pertanian Luar Angkasa

Untuk pertama kalinya, ilmuwan akan menanam benih padi hingga menghasilkan keturunan dua generasi berturut-turut langsung di orbit.

Langkah ini krusial untuk mempelajari bagaimana lingkungan tanpa gravitasi memengaruhi stabilitas genetik tanaman pangan.

c. Riset Penyakit Hati

Ilmuwan meneliti bagaimana pemisahan fase biologis memengaruhi metabolisme lemak pada sel hati di kondisi mikrogravitasi. Riset ini diharapkan bisa menemukan target pencegahan penyakit hati berlemak (fatty liver) bagi astronot yang tinggal lama di antariksa.

d. Eksperimen Radiasi

Tiga sampel biologis berupa enzim nano (nanozymes), bakteri aktinomisetes (actinomycetes), dan benih tanaman akan dipasang di luar stasiun selama 5 bulan untuk melihat efek mendalam radiasi antariksa terhadap evolusi makhluk hidup.

Baca juga: Terjebak di Antariksa 9 Hari, 3 Astronot China Akhirnya Pulang ke Bumi

Teknologi untuk Pangkalan di Bulan

Di bidang ilmu material, para astronot akan memfokuskan riset mereka pada pembuatan material canggih seperti magnet permanen tanah jarang berperforma tinggi dan paduan entropi tinggi yang berbobot ringan.

Selain itu, eksperimen dinamis pada sel surya perovskite juga akan dilakukan untuk pertama kalinya di stasiun Tiangong. Eksperimen ini bertujuan mendapatkan data akurat mengenai penurunan efisiensi konversi energi panel surya saat dihantam lingkungan ekstrem ruang angkasa. Penelitian material ini diproyeksikan sebagai cadangan teknologi penting bagi kebutuhan satelit orbit rendah, eksplorasi jauh, pembangunan energi di pangkalan bulan, hingga sistem manufaktur langsung di luar angkasa.

Selama setahun ke depan, selain disibukkan dengan segudang eksperimen di dalam laboratorium dan aktivitas di luar kendaraan (EVA/spacewalk), ketiga astronot Shenzhou-23 ini juga akan aktif menyapa anak-anak di bumi lewat program edukasi sains interaktif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau