Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Manusia Lebih Sering Gunakan Tangan Kanan Ketimbang Kiri?

Kompas.com, 19 Mei 2026, 20:31 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com – Musisi legendaris Jimi Hendrix terkenal karena kepiawaiannya memetik senar gitar dengan tangan kiri (kidal).

Di dunia fiksi, karakter Ned Flanders dari serial The Simpsons bahkan sampai membuka toko "Leftorium" khusus untuk orang kidal.

Namun, fakta menunjukkan bahwa bagi sebagian besar populasi manusia di Bumi, tangan kananlah yang paling aktif mendominasi.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology berhasil mengungkap alasan evolusioner di balik preferensi ini.

Baca juga: Sering Tak Disadari, Mengapa Buta Warna Sulit Disembuhkan?

Dengan mengamati tingkat kebiasaan penggunaan tangan (handedness) pada berbagai spesies primata, para peneliti menemukan bahwa dua ciri unik manusia—yaitu kemampuan berjalan tegak dan perkembangan ukuran otak yang besar—menjadi fondasi utama dari preferensi tangan yang berat sebelah ini.

Manusia: Si "Pencilan Evolusi" di Dunia Primata

Dalam studi ini, tim peneliti memeriksa data dari 2.025 monyet dan kera yang mencakup 41 spesies berbeda.

Mereka menemukan bahwa meskipun monyet laba-laba (spider monkey) dan langur menunjukkan tingkat lateralisasi (kecenderungan penggunaan satu sisi anggota tubuh) yang relatif tinggi, sifat ini jauh lebih ekstrem terjadi pada manusia.

Secara filogenetik (garis keturunan), manusia dianggap sebagai “evolutionary outlier” atau pencilan evolusi. Ketergantungan ekstrem kita pada satu tangan tampak menyimpang jika dibandingkan dengan primata lainnya.

"Namun, status pencilan ini menghilang ketika ukuran otak (volume endokranial) dan indeks intermembral [perbandingan panjang lengan dan kaki] dimasukkan ke dalam analisis. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan inti dari munculnya sifat handedness pada manusia," tulis para peneliti dalam laporan mereka, dikutip IFL Science.

Jalan Tegak Membebaskan Tangan Manusia

Secara anatomi, kaki manusia yang panjang sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita untuk berjalan dengan dua kaki (bipedalme). Hal ini berbeda dengan kera berlengan panjang yang menggunakan tangannya untuk berayun di pepohonan.

Menurut para penulis studi, ketika nenek moyang manusia mulai mengadopsi cara berjalan tegak, anggota tubuh bagian atas (tangan) otomatis terbebas dari tugasnya sebagai alat penggerak mobilitas.

"Hal ini menciptakan peluang baru untuk penggunaan alat, komunikasi gestur, dan perilaku motorik halus lainnya. Dalam konteks ini, memiliki satu tangan yang lebih dominan memberikan keuntungan performa yang besar," jelas peneliti.

Saat manusia berhenti menggunakan tangan untuk berjalan, manusia memperoleh kesempatan untuk menggunakan tangan mereka secara asimetris untuk berbagai fungsi baru yang lebih rumit.

Di saat yang sama, peningkatan ukuran otak dan reorganisasi korteks mendorong spesialisasi belahan otak (hemisfer). Hal ini meningkatkan efisiensi saraf untuk mendukung perilaku motorik yang terspesialisasi tersebut, terutama setelah kemunculan genus Homo.

Menguak Jejak Tangan Manusia Purba dan Manusia "Hobbit" Indonesia

Dengan menggunakan data arkeologi mengenai proporsi anggota badan dan volume otak manusia purba (hominin), para peneliti berhasil mensimulasikan kekuatan dominasi tangan pada leluhur kita yang telah punah.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau