Penulis
KOMPAS.com – Musisi legendaris Jimi Hendrix terkenal karena kepiawaiannya memetik senar gitar dengan tangan kiri (kidal).
Di dunia fiksi, karakter Ned Flanders dari serial The Simpsons bahkan sampai membuka toko "Leftorium" khusus untuk orang kidal.
Namun, fakta menunjukkan bahwa bagi sebagian besar populasi manusia di Bumi, tangan kananlah yang paling aktif mendominasi.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology berhasil mengungkap alasan evolusioner di balik preferensi ini.
Baca juga: Sering Tak Disadari, Mengapa Buta Warna Sulit Disembuhkan?
Dengan mengamati tingkat kebiasaan penggunaan tangan (handedness) pada berbagai spesies primata, para peneliti menemukan bahwa dua ciri unik manusia—yaitu kemampuan berjalan tegak dan perkembangan ukuran otak yang besar—menjadi fondasi utama dari preferensi tangan yang berat sebelah ini.
Dalam studi ini, tim peneliti memeriksa data dari 2.025 monyet dan kera yang mencakup 41 spesies berbeda.
Mereka menemukan bahwa meskipun monyet laba-laba (spider monkey) dan langur menunjukkan tingkat lateralisasi (kecenderungan penggunaan satu sisi anggota tubuh) yang relatif tinggi, sifat ini jauh lebih ekstrem terjadi pada manusia.
Secara filogenetik (garis keturunan), manusia dianggap sebagai “evolutionary outlier” atau pencilan evolusi. Ketergantungan ekstrem kita pada satu tangan tampak menyimpang jika dibandingkan dengan primata lainnya.
"Namun, status pencilan ini menghilang ketika ukuran otak (volume endokranial) dan indeks intermembral [perbandingan panjang lengan dan kaki] dimasukkan ke dalam analisis. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan inti dari munculnya sifat handedness pada manusia," tulis para peneliti dalam laporan mereka, dikutip IFL Science.
Secara anatomi, kaki manusia yang panjang sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita untuk berjalan dengan dua kaki (bipedalme). Hal ini berbeda dengan kera berlengan panjang yang menggunakan tangannya untuk berayun di pepohonan.
Menurut para penulis studi, ketika nenek moyang manusia mulai mengadopsi cara berjalan tegak, anggota tubuh bagian atas (tangan) otomatis terbebas dari tugasnya sebagai alat penggerak mobilitas.
"Hal ini menciptakan peluang baru untuk penggunaan alat, komunikasi gestur, dan perilaku motorik halus lainnya. Dalam konteks ini, memiliki satu tangan yang lebih dominan memberikan keuntungan performa yang besar," jelas peneliti.
Saat manusia berhenti menggunakan tangan untuk berjalan, manusia memperoleh kesempatan untuk menggunakan tangan mereka secara asimetris untuk berbagai fungsi baru yang lebih rumit.
Di saat yang sama, peningkatan ukuran otak dan reorganisasi korteks mendorong spesialisasi belahan otak (hemisfer). Hal ini meningkatkan efisiensi saraf untuk mendukung perilaku motorik yang terspesialisasi tersebut, terutama setelah kemunculan genus Homo.
Dengan menggunakan data arkeologi mengenai proporsi anggota badan dan volume otak manusia purba (hominin), para peneliti berhasil mensimulasikan kekuatan dominasi tangan pada leluhur kita yang telah punah.